banner 728x90

Menyongsong Babel Sebagai Provinsi Literasi

banner 468x60

Oleh : Jamilah Rachmaningsih, S.Pd
(Guru Geografi SMA Negeri 1 Manggar)

Sejak kecil mungkin kita tidak asing lagi dengan slogan-slogan seperti “Membaca adalah membuka jendela dunia” atau “Membaca adalah jembatan menuju sukses”. Ya, slogan-slogan tersebut sangat familiar dan mudah ditemukan di perpustakaan, tempat dimana terdapat banyak koleksi buku sekaligus menjadi tempat favorit bagi mereka yang hobi membaca. Membaca dianggap menjadi salah satu bagian penting yang dapat menunjang kesuksesan hidup seorang anak manusia. Hal ini tentunya diakui oleh semua warga dunia dimanapun negara mereka diami wilayahnya, apapun latar belakang ras, agama dan golongannya. Terlebih bagi seorang muslim yang sangat paham bahwa titah Tuhan yang pertama dimandatkan kepada utusanNya, Muhammad shalallahualaihi wasallam adalah membaca (iqra’).

banner 300x250

Lalu bagaimana dengan minat membaca kita sebagai orang Indonesia?. Jawabannya mungkin bisa disandingkan pada hasil studi “Most Littered Nation in the World” pada Maret 2016 lalu yang dilakukan oleh Central Connecticut State University. Hasilnya, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara yang diriset soal minat membaca. Hasil studi ini diperkuat lagi oleh survei UNESCO (United Nations of Educational, Scientific and Cultural Organization) yang mengeluarkan angka 0,001 persen untuk minat baca penduduk Indonesia yang artinya dalam seribu penduduk Indonesia, hanya ada seorang penduduk yang memiliki minat baca. Hal ini berbanding terbalik dari segi penilaian infrastruktur untuk mendukung membaca, dimana Indonesia menduduki peringkat 34 mengalahkan Jerman, Portugal, Selandia Baru dan Korea Selatan.

Hasil studi dan riset tersebut menunjukan adanya ketimpangan antara minat baca dengan infrastruktur membaca. Pemerintah dinilai berhasil dalam membangun dan menyediakan sarana prasana yang mendukung minat baca, diantaranya perpustakaan. Namun di sisi lain tidak diimbangi oleh tingginya minat baca masyarakat. Maka, pemerintah menggulirkan berbagai program dan gerakan literasi, diantaranya Gerakan Indonesia Membaca (GIM).

Dengan menggunakan diksi “gerakan”, GIM diharapkan bukan hanya sebuah program yang bersifat top-down dari pemerintah ke masyarakat. Lebih dari itu menjadi sebuah gerakan yang semangatnya mengakar dari masyarakat (bottom-up). Hari ini, dapat dengan mudah di berbagai pelosok negeri ditemukan kampung-kampung literasi, sekolah-sekolah-sekolah literasi, kota dan juga provinsi literasi. Di sepanjang tahun 2016, setidaknya ada empat provinsi yang mendeklarasikan sebagai provinsi literasi, yaitu DKI Jakarta, Riau, Nusa Tenggara Barat dan Sumatera Utara.

Literasi menurut National Institute for Literacy adalah sebagai kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat. Hal ini berarti literasi tidak dibatasi pada aktivitas membaca, namun juga hal penting lainnya dalam kehidupan yang intinya diawali dari kemauan dan kemampuan membaca.

Bagaimana dengan geliat gerakan literasi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung?. Tahun 2016 kemarin, gerakan literasi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mulai unjuk gigi, diantaranya dengan munculnya gerakan sekolah literasi di beberapa sekolah yang berada di Pulau Bangka dan juga di Pulau Belitung. Terlebih pada 11 Oktober 2016, menjadi sejarah baru bagi Kota Pangkalpinang yang mendeklarasikan sebagai kota literasi. Pun begitu bagi Desa Kemuja di Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka yang didaulat menjadi kampung literasi pada 3 November 2016.

Lalu pertanyaan berikutnya adalah “dapatkah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) menjadi provinsi kelima yang mendeklarasikan sebagai provinsi literasi?”. Jawabannya kembali berpulang pada komitmen pemerintah dan masyarakat untuk mewujudkan Babel sebagai provinsi literasi. Oleh karena itu, sangat perlu untuk menambah jumlah komunitas-komunitas literasi, sekolah-sekolah literasi, kampung-kampung literasi dan juga kabupaten-kabupaten literasi. Itu semua, bukan hanya sebagai deklarasi formalitas namun sebuah gerakan masif yang memiliki efek menyebar (spread effects). Menjadi gerakan yang lahir, tumbuh dan berkembang karena adanya kebutuhan menambah wawasan serta meningkatkan pengetahuan, dan akhirnya membawa dampak positif bagi kesejahteraan hidup. Dengan begitu, maka Babel siap menyongsong dan mempersiapkan diri untuk mendeklarasikan sebagai provinsi literasi. (**)

Related Search

banner 468x60
Tags:
author

Author: