banner 728x90

Mewujudkan Belitung Bebas Sampah

iklan swissbell

Oleh: Sadely Ilyas Rahman*
Pensiunan Guru SMA Tanjungpandan

JIKA ditelusuri, hampir di setiap daerah, terutama di sudut kota tumpukkan sampah menjadi pemandangan yang seringkali terlihat. Akibatnya, jika dibiarkan secara terus menerus, tidak menutup kemungkinan bumi ini akan terisi penuh oleh sampah. Hal ini harus menjadi pemikiran bersama tentang bagaimana solusi yang diperlukan untuk menyelesaikan persoalan sampah. Tugas ini bukan hanya tugas pemerintah semata, melainkan tugas semua elemen masyarakat yang tinggal di perkotaan atau di pedesaan. Menurut Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Belitung Edi Usdianto, selama lebaran volume sampah di Tanjungpandan mencapai hampir 200 ton. Sementara itu pada hari berikutnya, di beberapa titik wisata di Kecamatan Sijuk, pihak DLH mengumpulkan tidak kurang dari 8 truk sampah (Belitong Ekspres, 10/6/2019).

Sampah plastik bekas minuman mineral bisa ditemukan di pinggir-pinggir jalan, dari pengendara atau penumpang yang ketika minumannya habis, bekasnya dibuang di sembarang tempat atau dilemparkan ke tepi jalan. Hal lain, meskipun di tempat itu terdapat tulisan “Dilarang Membuang Sampah di Sini”, tetap saja tumpukkan sampah masih terlihat. Apalagi bagi masyarakat yang pemukimannya dekat dengan sungai. Kebiasaan membuang sampah ke sungai pun tak dapat dihindarkan. Hal ini tentunya bukan hanya mengurangi keindahan kota, melainkan jika turun hujan lebat bisa mengakibatkan bencana banjir. Bagaimana solusi yang diperlukan untuk menyelesaikan persoalan sampah? Jika dibiarkan secara terus menerus, tidak menutup kemungkinan bumi ini akan terisi penuh oleh sampah.

Sebenarnya kita sudah mempunyai Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Belitung Nomor 11 tahun 2015 Tentang Pengelolaan Sampah, dan PP No: 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga yang telah diundangkan pada tanggal 15 Oktober 2012. Peraturan pemerintah ini sangat penting sebagai peraturan pelaksana UU Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, sekaligus memperkuat landasan hukum bagi penyelenggaraan pengelolaan sampah di Indonesia, khususnya di daerah. Hal penting yang diamanatkan oleh peraturan pemerintah ini, yaitu

1) Memberikan landasan yang lebih kuat bagi pemerintah daerah dalam penyelenggaraan pengelolaan sampah yang berwawasan lingkungan dari berbagai aspek antara lain legal formal, manajemen, teknis operasional, pembiayaan, kelembagaan, dan sumber daya manusia;

2) Memberikan kejelasan perihal pembagian tugas dan peran seluruh para pihak terkait dalam pengelolaan sampah mulai dari kementerian/lembaga di tingkat pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, dunia usaha, pengelola kawasan sampai masyarakat;

3) Memberikan landasan operasional bagi implementasi 3R (reduce, reuse, recycle);

4) Memberikan landasan hukum yang kuat bagi pelibatan dunia usaha untuk turut bertanggungjawab dalam pengelolaan sampah sesuai dengan perannya.

Kalau kita simak dan cermati seksama dari peraturan-peraturan tersebut di atas, kita hanya melihat sistem pengelolaan sampahnya saja. Belum ada cara dan usaha yang signifikan untuk membina perilaku dan pola hidup bersih masyarakat. Kita belum menjalankan program nyata yang berusaha untuk membentuk budaya hidup bersih khususnya perlakuan terhadap sampah. Jargon-jargon buanglah sampah pada tempatnya, kebersihan adalah sebagian dari iman, masih hanya sekedar pajangan tak berarti karena tak menyentuh hati dan kemudian hanya berlalu bersama angin.

Permasalahan sampah bukan hal kecil yang bisa disepelekan. Lihatlah semua orang membuang sampah sembarangan tanpa rasa berdosa sama sekali. Sudah saatnya menyadari bahwa masalahnya bukan pada sampah, cara membersihkan dan pengelolaannya, tetapi letak masalahnya adalah bagaimana mengubah perilaku orang yang memproduksi dan membuang sampah dengan benar. Sementara itu, bidang yang lebih dekat dan berkompeten dalam mengubah perilaku adalah pendidikan.

Kebersihan identik dengan perilaku yang disiplin. Mari kita renungkan, bilamana saat ini kita tidak mau berubah di dalam penanganan lingkungan, maka alam yang akan mengubah kita. Alam mulai tidak lagi bersahabat dengan kita. Maka marilah kita introspeksi, melatih diri melalui berbagai perilaku yang sederhana, seperti membuang sampah pada tempatnya, melakukan gerakan 3 R (reuse, reduce, dan recycle) serta mengaktifkan bank sampah, sehingga dapat terwujud masyarakat dan daerah/kota yang sehat dan terbebas dari ancaman degradasi lingkungan akibat membludaknya sampah.

Kebiasaan membuang sampah sembarangan adalah target pertama yang terlebih dahulu perlu dilakukan penyadaran. Menyadarkan diri seseorang tidaklah mudah, karena berhubungan dengan karakter emosional dan perlu dilakukan secara matang dan bertahap. Apalagi, jika kebiasaan tersebut telah mendarah daging dan menganggap bahwa kebiasaan itu bukanlah suatu kesalahan.

Bayangkan jika semua orang waspada terhadap sampah dan menyadari bahwa budaya hidup bersih adalah mutlak diperlukan untuk meningkatkan kualitas hidup, dan sekaligus menghindari bencana yang diakibatkan oleh sampah. Penanaman gaya hidup bersih pasti bisa diterapkan kepada peserta didik. Jika program anti sampah diterapkan mulai dari sekolah, ada janji hidup bersih, ada yel-yel gerakan buang sampah pada tempatnya, ada sanksi terhadap oknum yang membuang sampah tidak pada tempatnya, ada literasi yang mengupas tuntas tentang permasalahan sampah, ada workshop yang membahas dan mencari solusi terhadap sampah, maka banjir akan terminimalisir. Indah sekali membayangkan hasil yang akan dicapai karena sudah saatnya kalangan pendidikan menyingsingkan lengannya terhadap buruknya penanganan sampah dan kurangnya kesadaran masyarakat dalam membuang dan memperlakukan sampah.

Mengubah perilaku buruk seperti membuang sampah di jalan, di got, selokan, sungai dan di tempat-tempat yang tidak semestinya hanya akan terwujud melalui kesadaran dan kepedulian. Kesadaran dan kepedulian itu didapatkan melalui pendidikan kebersihan dan pendidikan estetika. Dalam pendidikan hati, kita belajar bagaimana caranya mengolah hati dan perasaan yang baik dan benar, sehingga tatkala akan membuang sampah, hati dan perasaan akan tertuju pada tempat pembuangan yang semestinya. Sampah tersebut disimpan dalam dua tempat yang berbeda, satu untuk menyimpan sampah yang mudah diuraikan (organik) dan satu lagi untuk tempat menyimpan sampah yang tidak bisa diuraikan (non organik). Tujuannya, agar bisa diolah kembali menjadi suatu produk yang bermanfaat maupun bernilai jual.

Dalam mewujudkan Belitung bebas sampah, Plt Kepala DLH Kabupaten Belitung, Edi Usdianto sangat antusias mengajak berbagai elemen masyarakat untuk berpartisipasi terhadap kebersihan, agar tim Satgas Lebah dan petugas kebersihan DLH mengajak organisasi, komunitas, serta Pelaku Usaha Pariwisata membersihkan sepanjang jalan dari pantai wisata Tanjungpendam Kecamatan Tanjungpandan hingga ke Tanjung Tinggi, Kecamatan Sijuk.

Menurut Edi Usdianto kepada media, “kegiatan ini dalam rangka mewujudkan Kabupaten Belitung bebas sampah, dan juga memperkenalkan program DLH seperti program LEBAH (Laskar Bersih Dari Sampah), Jum’at BAROKAH (Bersih, Rapi, dan Elok Dari Sampah) serta Minggu BERSERI (Bersih, Elok, Rapi, dan Sehat, Asri dan Indah), ungkapnya kepada Belitong Ekspres, 24/6/2019. Selain itu, aksi kerja bakti massal juga digalakan dalam rangka menyambut Hari Jadi Kota Tanjungpandan ke-181 pada 1 Juli 2019, serta dalam menyambut kedatangan tim asesor Unesco Global Geopark (UGG), yang nantinya tim tersebut akan melintas sepanjang jalan tersebut. “Maka kita mengajak lapisan masyarakat berhias bersama wajah sepanjang jalan wisata itu”, ungkap pria yang juga akrab disapa Edu ini. Mari kita dukung Belitong Bebas Sampah: dengan disiplin membuang sampah pada tempatnya! Wallahu A’lam (*)

Related Search

Rate this article!
Tags:
author

Author: