banner 728x90

Minim Dana Pimpinan Ponpes Hidayatullah Tetap Nekad

>Bangun Sekolah Tahfiz Al-Qur`an Untuk Anak Yatim Piatu
PANGKALPINANG – Meninggalkan keluarga besarnya tercinta di Kabupaten Siak Provinsi Riau, tahun 1990 Muhammad Hatta Yafiz yang kala itu masih muda dan energik tetap memutuskan untuk hijrah ke Pangkalpinang dan mendirikan sekaligus mengurus Pondok Pesantren yang diberinama Hidayatullah dan dinaungi oleh Yayasan Yatim Piatu Hidayatullah Pangkalpinang. Waktu terus berjalan kini banyak anak asuh Hatta yang menjadi orang-orang sukses, mereka sesekali datang untuk menjenguk sang ayah angkat ke Pondok Pesantren tempat mereka dulu tinggal dan didik hingga menjadi besar, cerdas dan berhasil.
Demikian sekelumit cerita ustad Hatta saat Babel Pos mengunjunginya di tengah kesibukannya, Rabu (08/11) siang kemarin.
Ustad Hatta yang mengaku kini mulai merasakan sakit asam urat terutama pada kedua lulutnya itu nampak menuntun wartawan ini berkeliling Pondok Pesantren yang beralamat di Jl.Gajah Mada Pintu Air Pangkalpinang tersebut. Banyak cerita yang mengalir dari pria yang kini sudah genap berusia 68 tahun tersebut, di sela-sela ceritanya kadang ia pun nampak tersedu-sedu sembari mengusap kedua matanya, tanda ia menangis haru.
Hatta bercerita kalau saat ini ia sedang lagi-lagi “nekad” untuk menambah lagi fasilitas pondok pesantren yakni dengan membangun asrama putra dan putri lengkap dengan beberapa ruang kelas untuk belajar. Mantan pengusaha bidang kontraktor ini mengaku ingin memiliki lembaga pendidikan Ilmu Al-Qur`an untuk para calon Hafiz dan Hafizoh di Provinsi Bangka Belitung. Nantinya lembaga pendidikan ini akan menampung santri khususnya anak yatim piatu dan santri umum.
“Saya mau nanti fasilitas ini bisa menampung bagi anak-anak yang ingin belajar memperdalam ilmu Al-Qur`an. Bahkan nanti untuk anak-anak yatim piatu kita bebaskan untuk biaya pendidikannya. Sedangkan yang umum, tentu seperti kebanyakan mereka bayar sendiri. Oleh karena itu sekarang ini kita fokus untuk selesaikan bangunan gedungnya dulu, meskipun dengan dana seadanya yakni dari kami pribadi, yayasan dan dibantu beberapa masyarakat, karena kini untuk menyelesaikan bangunan saja kita masih butuh sekitar 200 an juta rupiah. Dan setelah itu mungkin baru kita akan cari usaha lagi supaya untuk honor bagi para guru yang mengajar juga bisa kita siapkan,” ujar ayah dari 4 anak dan 1 istri ini.
Alasan sederhana disampaikan Hatta mengapa ia nekad ingin tetap membangun lembaga pendidikan bagi para calon hafiz dan hafizoh di Bangka Belitung, meskipun sebetulnya selama ini ia sendiri juga tak kalah sibuk setiap hari mengurus 58 anak asuhnya yang kini menjadi penguhuni Panti Asuhan Hidayatullah. Belum lagi soal dana yang harus dikucurkan juga tak sedikit, dan tak ada bantuan dari pemerintah.
Ia beralasan ini melihat lebih banyak lagi para hafiz dan hafizoh di bumi Bangka Belitung ini, sehingga diharapkan kelak para generasi muda penerus perjuangan Islam ini akan memiliki kadar kualitas keimanan dan keilmuan tentang Al-Qur`an yang jauh lebih baik dan bisa diamalkan dalam menjalani kehidupan sehari-hari sekaligus sebagai bekal untuk di kampung akhirat yang kekal abadi nanti.
“Kita siapkan ruangan belajar dan arsama untuk putra dan juga putri, makanya sekarang kita sedang lakukan rehab-rehab kecil sesuai dengan kemampuan dana yang kita punya. Untuk itu saya ingin sekali mengajak para hamba-hamba Alloh yang mau beramal bersama di lembaga pendidikan yang kita punya, bagi kami silahkan saja.
Karena memang tidak ada niat lain di atas rencana ini semua, tapi justeru saya ingin nanti mewakafkan lembaga pendidikan ini, saya ingin di sisa usia sekarang, saya bisa berupaya untuk meninggalkan sesuatu yang bermanfaat untuk para kaum mukmin yang mau terus belajar tekun dan serius untuk mencintai Alloh SWT dan Rosullulah Muhammad SAW sampai akhir hayat,” harap Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Pangkalpinang yang satu ini lagi. (lya)

Related Search

Tags:
author

Author: