banner 728x90

Mukhdi Akui Jual Tanah ke Agusta

H Mukhdi saat menunjukkan berkas bukti-bukti saat sidang di Pengadilan Negeri Tanjungpandan, Rabu (5/12) kemarin.

*Harganya Mencapai Rp 9 Miliar

TANJUNGPANDAN – H.Mukhdi mengakui sudah menjual tanah yang saat ini bersengketa, kepada Agusta pada Maret 2017 dengan harga Rp 9 miliar.

Adapun rincian harga per meternya Rp 450 ribu dengan luas kurang lebih dua hektar.

Dalam penjualan tanah ini, Agusta sudah membayar sekitar Rp 4 miliar.

Hal itu diungkapkan Mukhdi, saat sidang yang mengagendakan pemeriksaan terdakwa, di Ruang Sidang Utama Pengadilan Negeri Tanjungpandan, Rabu (5/12) kemarin.

Dalam sidang ini, H Mukhdi menjelaskan, awalnya sebelum dia ditetapkan tersangka, polisi melakukan pemeriksaan sebagai saksi. Waktu itu, pasal yang sangkakan yakni 385 Ayat 1 Tentang KUHP Tentang Penyerobotan lahan.

Dia diperiksa sejak Mei 2017. Setelah itu, H Mukhdi mengaku telah keluar Surat Perintah Dimulainya Penyidikan (SPDP) dari Polres Belitung, tanpa nama. Hingga, akhirnya masalah ini berkembang ke pasal-pasal lain.

Salah satunya mengenai sumpah palsu. Dia menegaskan, tidak pernah melakukan penyerobotan lahan maupun sumpah palsu. Mengenai masalah tanah, sejak SMA H Mukhdi mengetahui ayahnya memiliki tanah di lokasi Tanjung Tinggi.

Yakni, tanah yang dipermasalahkan saat ini. Namun orang tuanya Syafiie Atim pernah bercerita, lahan tersebut belum ada surat. Hingga akhirnya, dia mengurus surat tersebut pada tahun 2015 lalu.

Sejak SMA dia tahu orangtuanya punya tanah di lokasi. Dan orangtuanya cerita punya tanah di lokasi. Namun dia tak mengetahui surat tersebut. Hingga akhirnya, pada tahun 2015, H Mukhdi mengurus surat penganti ke Badan Pertanahan Nasional (BPN).

Setelah itu, dia menawarkan tanah tersebut ke Rahman Hakim. Namun, tidak ada jawaban. Sehingga H Mukhdi menawarkan lagi, ke Sin Yan lalu ke Agusta. Hingga terjadilah kesepakan jual beli dengannya.

Mengenai masalah sumpah di Badan Pertanahan Nasional (BPN), H Mukhdi tak menampiknya. Sebab, salah satu persyaratan untuk menganti dokumen yang hilang harus dilakukan sumpah. Sumpah hanya disaksikan sekitar dua orang pegawai, tidak ada rohaniawan.

Waktu itu dia bersumpah membenarkan, tanah yang saat ini bermasalah adalah milik orang tuanya (Syafiie Atim). Bahkan, H Mukhdi membayar pajak tanah tersebut, sekitar tahun 2015. Sehingga dia mengaskan, tidak pernah melakukan sumpah palsu yang dituduhkan.

Juru Bicara Pengadilan Negeri Tanjungpandan Andi Bayu Mandala Putera mengatakan, sidang yang mengagendakan saksi-saksi dan terdakwa sudah dilaksanakan. Sebelum memeriksa H Mukdi, hakim melakukan pemeriksaan Ade Charge (Saksi yang menguntungkan terdakwa.

Selain itu juga memeriksa sejumlah saksi-saksi ahli pidana maupun perdata. Meski begitu, Andi Bayu masih enggan berkomentar mengenai pendapatnya terkait sidang tersebut. Sebab, masih ada beberapa sidang lagi yang harus dijalankan.

“Rabu (12/12) mendatang, sidang akan dilanjutkan dengan agenda pembacaan tuntutan dari Kejaksaan Negeri Belitung,” ungkap Jubir Pengadilan Negeri Tanjungpandan, usai persidangan, kemarin. (kin)

Related Search

Rate this article!
author

Author: