banner 728x90

Muslim kok Tak Salat?

Oleh: Lidus Yardi
Pengurus Muhammadiyah

BETAPA banyak kaum muslim yang memahami ibadah salat, hukum melaksanakan dan meninggalkannya, juga keutamaan salat di awal waktu dan secara berjamaah. Namun sayang hanya sedikit dari yang banyak itu mampu menjaga ibadah salat terlebih mengejar keutamaan pelaksanaannnya.

ilustrasi. Foto : pixabay

ANDAI yang dimaksud kaum muslimin di sini berstatus dosen, guru, mahasiswa, PNS, tokoh agama, pejabat, pengusaha, dan yang sudah haji ke Makkah, maka yang demikian itu keberadaan dan aktivitas sehariannya tidak jauh dari masjid. Jika demikian, cukup menjadi alasan masjid layak ramai di saat-saat salat berjamaah.
Realitasnya, tidak semua muslim yang faham dengan perintah salat mau melaksanakan salat. Bahkan yang berilmu dengan agama malah melanggar syariat agama. Intinya, tidak semua orang menginginkan kebaikan dan hidayah yang telah disediakan oleh Allah Subhanaa Wa Ta’ala. Inilah makna firman Allah ta’ala:

”Dia mengetahui orang-orang yang mau menerima hidayah.” (QS Al Qasas: 56).

Perhatikanlah sikap sebagian laki-laki muslim menilai salat dengan sebungkus rokok. Rokok ketinggalan di warung kopi dijemput. Demi sebungkus rokok yang tertinggal, kendaraan yang tadi sudah jauh meninggalkan warung kopi berbelok untuk kembali. Tetapi ketika ditanya dan diingatkan tentang perkara salat, tidak jarang jawaban yang kita dengar adalah: “duluanlah” atau “nanti sajalah”.

Ternyata, salat wajib bagi sebagian muslim kadangkala tidak lebih berharga daripada sebungkus rokok di warung kopi. Padahal, salat adalah kebutuhan dan demi kebaikan seorang muslim. Penelitian tentang salat dan pengaruhnya kepada akhlak, kesehatan badan, dan jiwa tak dapat diragukan lagi. Tata caranya mudah dan waktunya sedikit, semua ini adalah bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.

Mari kita berhitung. Satu hari 24 jam. Satu jam 60 menit x 24 jam, berarti sehari jatah hidup kita 1.440 menit. Sedangkan salat wajib lima kali sehari-semalam. Sekali salat sekitar lima menit. Artinya, untuk lima kali salat kita hanya perlu 25 menit. Dari 1.440 menit kita hidup sehari, hanya perlu 25 menit untuk melaksanakan kewajiban salat. Sisanya yang 1.415 menit, silahkan melaksanakan aktivitas yang lain. Sungguh mudah dan sedikit waktu ibadah salat. Namun sayang, mudah dan banyak pula umat Islam yang meninggalkannya.

Perhatikan hasil survei Universitas Monash Australia tentang salat umat Islam Indonesia. Ternyata umat Islam di Indonesia yang melaksanakan salat hanya 30 persen. Dan yang tertib melaksanakan lima waktu dari 30 persen itu, kurang dari lima persen! (Dr Ary Ginanjar Agustian, 2013).

Survei Universitas Washington USA tentang bangsa di dunia yang dinilai hidup secara Islami, menunjukkan urutan 10 besar justru ditempati oleh negara non-muslim. Dari 160 bangsa di dunia yang disurvei, negara Indonesia harus puas pada urutan ke-147 (Anton Tabah, 2014). Sangat ironi, ternyata negara berpenduduk mayoritas muslim ini hidupnya justru dinilai tak Islami.
Seorang muslim seharusnya menyadari, bahwa ibadah salat tidak saja mendatangkan kebaikan bagi individu tetapi juga kehidupan di bumi. Jika perbuatan keji dan munkar diyakini mampu menyebabkan kehancuran hidup manusia secara personal dan sosial, maka salat berfungsi sebagai pencegahannya. Allah ta’ala berfirman:

“Dirikanlah salat, sesungguhnya salat itu mencegah perbuatan keji dan munkar.” (QS Al Ankabut: 45).

Oleh sebab itu, sejatinya salat adalah kebutuhan seorang muslim. Salat tidak saja dipandang sekadar kewajiban pribadi, tetapi bagian dari tanggung jawab seorang muslim untuk kebaikan hidup di bumi. Inilah yang harus dimaknai dari setiap ucapan doa keselamatan (salam) ketika mengakhiri salat. Pengaruh salat bagi seorang muslim yang dilaksanakan secara benar (khusyu’) tentu mampu merealisasikan hal itu.

Seorang muslim tanpa salat, berarti ia telah meninggalkan bukti perjanjian pertamanya dengan Allah ta’ala. Karena ibadah salat diletakkan pada urutan kedua dalam rukun Islam sebagai bukti realisasi rukun yang pertama, yakni syahadatain. Syahadat berarti sumpah, perjanjian, atau ikatan antara seorang hamba untuk taat dan setia kepada Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya. Ketika seorang Muslim meninggalkan kewajiban salat berarti ia telah merusak sumpah, janji, dan ikatan dirinya itu.

Salat lima waktu adalah ibadah agung yang perintahnya oleh Allah ta’ala kepada Rasulullah saat beliau berada di langit. Berawal dari 50 waktu kewajiban pelaksanaan lalu menjadi lima waktu sehari semalam. Kemudahan waktu pelaksanaan ini tidak lepas dari perjuangan Rasulullah yang meminta “diskon” kepada Allah ta’ala dalam peristiwa Israk dan Mikraj. Meskipun demikian, dengan rahmat-Nya nilai pahalanya tetap dihitung bagaikan salat 50 kali pelaksanaan (HR Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik RA).

Maka bersyukurlah seorang muslim yang diberi hidayah oleh Allah Subhaana Wa Ta’ala untuk membenci kemaksiatan meninggalkan ibadah yang pertama kali dihisab (diperiksa) di akhirat nanti, pembeda antara kafir dan mukmin, tegaknya merupakan pondasi agama, yaitu salat. Jika sudah tidak merasa berdosa dan menganggap perkara biasa meninggalkan salat, maka ini tanda musibah kematian jiwa, butanya hati, dan rusaknya aqidah.***

Related Search

Rate this article!
Muslim kok Tak Salat?,5 / 5 ( 1votes )
Tags:
author

Author: