banner 728x90

Pembudidaya Lele Teknik Bioflok, Manfaatkan Bakteri untuk Hilangkan Bau Air

PANEN: Abdul Basith (bertopi) ketika menyiapkan panen didampingi perwakilan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan dan Dinlutkan Rembang. (KHOLID HAZMI/RADAR KUDUS)

Kekhawatiran tetangga di sekitar rumah Abdul Basith sempat muncul saat dia hendak membudidayakan lele. Namun setelah tiga bulan berjalan, teknik budidaya bioflok ternyata tak menimbulkan bau menyengat.

KHOLID HAZMI, Kota

KEBIJAKAN enam hari kerja bagi ASN di Kabupaten Rembang membuat Abdul Basith punya banyak waktu untuk budidaya lele. Jika biasanya, jam pulang kantor pukul 16.00 jadi 14.00.

Senin awal pekan ini, dia lebih happy ketimbang hari-hari lainnya. Kebetulan, sehari sebelumnya ada konsumen dari Surabaya yang akan membeli lelenya dalam jumlah banyak. Sekitar lima kuintal.

Panen sejumlah tersebut menurutnya paling banyak sejak dia menebar benih sekitar 2,5 bulan lalu. Maklum, biasanya pria berjenggot ini rata-rata panen satu kuintal. Itupun hanya untuk pedagang-pedagang di Rembang saja.

Basith nampaknya begitu antusias. Dia sudah membuat banner khsusus bertuliskan panen raya menyambut konsumen dari Surabaya itu. Kebetulan, sore itu dia juga menerima tamu dari Dinas Kelautan dan Perikanan (Dinlutkan) Rembang serta Balai Besar Perkanan Budidaya Air Payau (BBPAP) Jepara.

Sambil menjelaskan tentang teknik bioflok ke tamunya itu, Basith menyortir lele yang sudah siap panen. Ada sekitar lima kolam yang dipanen saat itu. Ikan lele hasil budidaya itu warnanya cenderung putih. Bau di sekitar kolam juga tidak menyengat. Bau amisnya wajar, seperti di tambak ikan.

Ternyata ada teknik khusus agar bau air di kolam tidak menyengat. Sebelum ditebar benih, air di dalam kolam dicampur dengan biolacto atau jenis bakteri positif, garam dan tetes tebu. Kemudian difermentasi selama 10 hari.

Tujuannya agar tidak menimbulkan bau menyengat dan memacu tumbuhnya bakteri yang bisa jadi makanan bagi lele. Selain itu, makanan yang diberikan ke lele juga butuh threatment khusus.

Basith hanya menggunakan pelet sebagai pakan lele. Sebelum diberikan ke lele, pelet difermentasi sehari. Tujuannya agar kotoran lele memunculkan bakteri yang bisa dimakan ikan tersebut.

”Itu keunggulan teknik bioflak. Awalnya tetangga juga khawatir kalau saya budidaya lele, baunya bisa menyengat. Tapi, selama ini tidak ada keluhan soal bau,” ungkapnya.

Pemberian pakan setiap hari dua kali. Pukul 08.00 dan 15.30. Dia dibantu dua orang untuk merawat ikan-ikan tersebut. Karena kalau telat memberi makan, lele bisa memakan lele lainnya.

Bapak dua anak ini punya 12 kolam. Usia ikan di masing-masing kolam berbeda. Ada yang siap panen, ada yang baru beberapa pekan ditabur benihnya ke kolam. Satu kolam berdiameter tiga meter berisi 3.000 lele. Sehingga total ada sekitar 36 ribu dari 12 kolam.

Namun tebar benih tidak bersamaan. Tebar benih pertama pada 28 Oktober untuk tiga kolam saja. Kemudian sebulan berikutnya tiga kolam lagi dan seterusnya. Agar setiap bulan ada lele yang siap panen.

Total biaya pembuatan kolam dan instalasinya memakan biaya sekitar Rp 200 juta. Tapi dana tersebut bukan dari kantong Basith. Lewat salah satu yayasan, dia mendapat bantuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk budidaya lele teknik bioflok.

Imbal balik dari bantuan itu, sebagian hasil penjualan ikan disumbangkan ke lembaga sosial dan pesantren. Sisanya dialokasikan untuk pembibitan.”Ini untuk meningkatkan konsumsi ikan di pesantren,” jelasnya. (ks/lid/ali/top/JPR)

Related Search

Tags:
author

Author: