banner 728x90

Pemerataan Pendidikan

Oleh: SADELY ILYAS*
Pensiunan PNS Guru Sosiologi, tinggal di Tanjungpandan

DI ABAD teknologi yang serba digital sekarang, pendidikan menjadi kebutuhan utama bagi masyarakat. Merupakan kebutuhan pokok, seperti halnya makan dan minum. Kebutuhan pokok (primer) artinya jika kebtuhan tersebut tidak terpenuhi, maka lama-kelamaan manusia akan mengalami kemusnahan. Tanpa pendidikan manusia akan tergilas oleh kemajuan zaman.

Memang secara prinsip, makanan tidak sama dengan pendidikan, tetapi dilihat dari hakikat kebutuhan; apabila manusia hanya diberi makan tanpa diberi pendidikan, perlahan-lahan tapi pasti ia akan ‘teramcam’ oleh lingkungan sosial yang berpendidikan. Lalu apa yang menjadi faktor penyebab kebutuhan pendidikan sekarang ini? Sekurang-kurangnya ada 4 faktor penyebab pendidikan begitu dibutuhkan oleh manusia dalam era globalisasi sekarang, yaitu:

1) Meningkatnya kebutuhan manusia: Kebutuhan manusia meningkat seiring dengan perubahan yang terjadi pada kehidupan masyarakat. Pada mulanya, manusia hidup dalam pola yang sederhana, hidup secara natural (tergantung dari faktor alam), serta memanfaatkan apa yang telah ada di alam sekitarnya. Dengan perkembangan pola kehidupan, kebutuhan manusia menjadi meningkat bukan saja terbatas pada kebutuhan pisik – jasmani, namun juga kebutuhan rohani dan sosial. Manusia harus menggunakan kekuatan jiwa untuk mengatasi kesulitan hidup. Manusia harus berbudaya, kreatif, produktif, dan inovatif. Untuk itu semua, manusia harus belajar dan berpendidikan. Pendidikan menjadi kebutuhan hidup manusia, dengan maksud dapat lebih mengenal alam sekitarnya serta dalam batas-batas tertentu menguasai hukum-hukumnya. Untuk mengajarkan itu semua, lembaga keluarga tidak mampu melaksanakannya, sehingga manusia memerlukan berbagai lembaga pendidikan, baik berbentuk sekolah, dan lembaga luar sekolah.

2) Pertumbuhan penduduk yang pesat: Lajunya pertumbuhan jumlah penduduk telah banyak menimbulkan permasalahan. Bertambahnya jumlah anggota keluarga akan menambah beban sosial ekonomi dalam keluarga dan masyarakat di masa mendatang. Pendidikan yang berkualitas diperlukan untuk melatih potensi individual sehingga setiap orang dapat memecahkan masalah hidupnya baik yang berhubungan dengan persoalan pribadi, keluarga, dan juga yang menyangkut sosial kemasyarakatan.

3) Berubahnya dunia pekerjaan: Pada mulanya dunia pekerjaan menggunakan tenaga kerja manusia pada berbagai jenis dan tingkat pekerjaan. Bahkan lapangan kerja sangat terbuka dan kadang-kadang kesulitan untuk mencari tenaga sebagai pekerja. Dengan adanya berbagai macam kesulitan serta alasan ekonomis, kini dunia kerja dan industri telah memakai mesin (peralatan mekanik) atau perlengkapan modern. Dalam perkembangan selanjutnya manusia menggunakan peralatan elektronika dan komputer yang sangat canggih. Hal ini membuka jalan baru bagi prestasi manusia dengan status kepegawaiannya. Usaha produksi serta pemecahan masalah dapat berlangsung dengan efektif dan efisiensi. Kondisi yang demikian ini menjadikan mereka berprestasi dan memiliki keterampilan khusus, akan mendapatkan kesempatan yang lebih luas, sedangkan bagi mereka yang tidak mempunyai keterampilan, dan taraf pendidikan yang rendah akan semakin sulit bersaing untuk mendapatkan perkerjaan, apalagi yang tidak berpendidikan sama sekali.

4) Tantangan dalam pertumbuhan ekonomi: Dinamika kehidupan sosial dan budaya ternyata dibarengi oleh pertumbuhan ekonomi. Sektor pekerjaan mempengaruhi pendapatan perkapita dari tahun ketahun, mengalami peningkatan. Dengan diterapkannya teknologi serta cara kerja baru, kapasitas memproduksi barang dan jasa kebutuhan manusia semakin meningkat. Untuk keperluan usaha produksi, tenaga kerja di lapangan selalu tersedia dan tercukupi. Standar hidup masyarakat terus mengalami kenaikan. Meningkatnya taraf hidup dan perkembangan pribadi dan kehidupan masyarakat banyak tergantung kepada pendidikan dan usaha belajar. Cara belajar masyarakat agar dapat mengembangkan segenap potensi pribadinya, juga merupakan tantangan bagi dunia pendidikan, untuk mencari strategi pemecahan yang baik. Pendidikan dalam masyarakat yang modern bersifat massal dan memiliki dua aspek penting yaitu: 1) aspek individual, di mana lembaga pendidikan bertugas untuk mempengaruhi dan menciptakan kondisi yang memungkinkan perkembangan pribadi anak secara optimal. 2) aspek sosial, yaitu sekolah bertugas mendidik anak menjadi manusia dewasa, agar kelak mereka dapat mengabdikan dirinya kepada masyarakat dan bangsanya.

Pemerataan pendidikan

Dalam pemerataan pendidikan, terutama pendidikan yang berkeadilan sosial banyak isu strategis yang perlu mendapat perhatian dari para ‘stake holder’ kependidikan di daerah (Gubernur, Bupati, Kepala Dinas, Kepala Sekolah). Strategi umum dapat dilakukan agar pendidikan diarahkan merata untuk semua komponen masyarakat, yaitu: 1) pendidikan harus mampu membuka perluasan dan pemerataan kesempatan kepada setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan, mengingat masih banyak anak usia sekolah yang tidak dapat mengenyam pendidikan karena keterbatasan ekonomi masyarakat; 2) pendidikan harus diarahkan pada tercapainya pendidikan untuk semua (education for all); dan 3) pendidikan harus membuka peluang akan hak-hak masyarakat termasuk hak pendidikan. Ini sesuai dengan pertimbangan, bahwa sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global.

Selain dari pada itu, strategi hak kependidikan terhadap sasaran khusus yang ingin dicapai secara terencana, terarah, dan berkesinambungan adalah:

1) Pendidikan harus mampu menjangkau masyarakat terpencil. Masyarakat terpencil baik secara geografis maupun sosio-kultural merupakan masyarakat yang mengalami kesulitan dalam mengakses pendidikan secara normal. Untuk itu perlu dikembangkan strategi pendidikan yang lebih sesuai dengan kondisi masyarakatnya.

2) Pendidikan harus mampu membuka kesempatan kepada anak yang kurang beruntung. Yang dimaksud anak (siswa) kurang beruntung adalah mereka yang berasal dari keluarga yang tidak mampu dan secara struktural-kultural mereka berada pada posisi termarjinalkan. Anak-anak dari keluarga miskin yang berpotensi secara akademik dan nonakademik, banyak yang tidak terseleksi karena alasan sepele, karena kurang bekingan.

3) Pendidikan harus memberikan kesempatan yang sama kepada para penyandang cacat. Dengan cara seperti itu, anak yang ‘berkelainan’ dan ber’kebutuhan khusus’ memiliki kesempatan untuk bersosialisasi dengan anak-anak normal (akslerasi pendidikan), sekaligus mendidik anak-anak normal untuk secara jujur dan sukarela menerima kehadirannya di tengah-tengah mereka.

4) Pendidikan harus mampu mengayomi anak cemerlang. Secara hukum sebenarnya pendidikan nasional telah memberikan perhatian terhadap anak cemerlang dalam belajar.Yang dimaksud anak cemerlang adalah mereka yang memiliki berbagai potensi dan kinerja unggul dalam berbagai bidang kehidupan. Pengembangan potensi mereka secara optimal diharapkan akan memberikan kontribusi berharga bagi kehidupan bangsa secara umum, dan kemajuan daerah secara khusus. Misalnya dengan Pemerintah Daerah lebih banyak memberikan beasiswa kepada para pelajar yang berprestasi melanjutkan kuliah diberbagai universitas atau lembaga pendidikan tinggi bermutu.

5) Persamaan hak pendidikan atas dasar gender. Dilihat ada rangka partisipasi pendidikan, partisipasi anak perempuan cenderung rendah dari pada anak laki-laki. Kekurang-seimbangan ini disebabkan oleh berbagai faktor, dan yang paling utama adalah faktor budaya yang melekat pada sebagian masyarakat. Misalnya, ada anggapan bahwa perempuan tidak perlu menempuh jenjang pendidikant inggi, karena pada akhirnya akan kembali ke dapur. Akhirnya, pada wahana pendidikan yang populis sekalipun, partisipasi anak perempuan masih rendah. Oleh karena itu, kedepan akses pendidikan bagi kaum perempuan pada semua jenis, jenjang, dan jalur pendidikan perlu diperluas.

Dalam Tahun Ajaran 2017/2018 ini, sistem pendidikan kita harus mampu menjamin pemerataan kesempatan berpendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan dalam menghadapi tantangan masa depan yang semakin mengglobalisasi.  Wallahu A’lam (*)

Related Search

Rate this article!
Pemerataan Pendidikan,5 / 5 ( 1votes )
Tags:
author

Author: