banner 728x90

Pemilik TI Rajuk Jadi Tersangka

GANTUNG – Polsek Gantung masih melakukan penyelidikan kasus tewasnya seorang pekerja Tambang Inkonvensional (TI) Rajuk akibat tertimpa patahan pipa. Korban bernama Fauzi (31) saat itu sedang bekerja di lokasi Kulong Simpor Desa Selinsing Kecamatan Gantung, Rabu (4/4).

Kapolsek Gantung, AKP Ricky Dwiraya Putra S.Ik membenarkan bahwa pihaknya sedang melakukan penyelidikan. Lima orang termasuk pemilik TI Rajuk telah dimintai keterangan oleh pihak kepolisian.

“Saat ini, lagi memeriksa dari PT Timah belum tau siapa yang akan datang. Jadi mau memperdalam itu di KP timah dan yang kerja apakah memiliki surat izin kerja,” ujar AKP Ricky kepada wartawan, Kamis (5/4) kemarin.

Dijelaskan Ricky, masalah perizinan aktifitas TI Rajuk di lokasi tersebut diakui dimiliki pemilik tambang atas nama Juliansyah alias Jolek (40). Namun, kepastian izin perlu ditanyakan kepada pihak PT Timah yang memiliki IUP. “Pengakuan kemaren ada SPK (Surat Perintah Kerja), tapi kita akan tanya ke PT Timah,” ujarnya.

Ricky memastikan, kasus tewasnya pekerja tambang rajuk murni akibat kelalaian kerja. Pemilik tambang telah ditetapkan sebagai tersangka dengan ancaman sesuai pasal 359 KUHP, kelalaian mengakibatkan meninggal dunia dan serta pasal 158 nomor 4 tahun 2009 Undang-Undang Minerba.

“Rencananya, unit ponton juga akan kita amankan sebagai barang bukti,” tukasnya.

Diberitakan sebelumnya, aktivitas Tambang Inkonvensional (TI) Rajuk, di Kolong Simpor Desa Selinsing Kecamatan Gantung, Rabu (4/4) kemarin, menelan korban jiwa. Satu orang pekerja bernama Fauzi (31) tewas tertimpa patahan pipa di lokasi TI Rajuk tersebut.

Kecelakaan kerja terjadi sekitar pukul 11.30 WIB. Saat itu para pekerja sedang berada di atas ponton rajuk. Korban Fauzi merupakan warga jalan Buje Desa Batu Penyu. Sedangkan pemilik TI Tajuk bernama Juliansyah alias Jolek (40) warga Dusun Jaya Desa Lenggang.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun Belitong Ekspres menyebutkan, sesaat sebelum kejadian naas tersebut, korban sedang bekerja bersama 4 rekan lainnya. Pada saat kejadian ada tiga unit ponton yang saling berdekatan.

Entah bagaimana, tiba -tiba pipa yang ada di ponton milik Nasrun yang bersebelahan patah dan menimpa kepala korban. Korban yang tidak sempat mengelak justru tertimpa patahan pipa itu.

Akibatnya kepala korban sebelah kiri terbelah dan mengeluarkan banyak darah. Rekan korban kemudian segera memberikan pertolongan dengan cara segera melarikannya ke Puskesmas Gantung.

Namun, karena banyak mengeluarkan darah, korban meninggal dunia dalam perjalanan menuju Puskesmas Gantung. (msi)

Related Search

Rate this article!
Tags:
author

Author: