banner 728x90

Pendidikan dan Kebangkitan Bangsa

Oleh: SADELY ILYAS*

Lembaga pendidikan adalah salah satu harapan besar bagi bangsa Indonesia agar dapat bangkit dari keterpurukan dalam berbagai aspek kehidupan. Kita membutuhkan lahirnya kader-kader muda andal yang ‘melek’ ilmu pengetahuan, teknologi modern, berkarakter dan berkepribadian yang dibanggakan. Di pundak kaum mudalah kebangkitan masa depan bangsa dipertaruhkan.

Namun, kehadiran mereka tidak hanya dinanti, ditunggu dan dikhayalkan. Kader-kader muda masa depan bangsa tersebut harus direncanakan, diupayakan, diperjuangkan serta dimunculkan dengan upaya maksimal, sistematis, dan terstruktur. Melalui apa? melalui pendidikan yang diberikan di rumah oleh keluarga, kemudian dipadukan dengan pendidikan di sekolah, sehingga kaum muda menjadi manusia dewasa yang utuh.

Di lingkungan sekolah, guru adalah aktor utama untuk mewujudkan kesuksesan pendidikan yang dicanangkan. Tanpa keterlibatan aktif guru, pendidikan kosong dari materi, esensi, dan substansi. Dalam buku “Great Teacher”, yang ditulis oleh Jamal Ma’mur Asmani (2016); secanggih apapun sebuah kurikulum, visi misi, dan kekuatan finansial, sepanjang gurunya pasif dan stagnan, maka kualitas lembaga pendidikan akan merosot tajam. Sebaliknya, selemah dan sejelek apapun sebuah kurikulum, visi misi, dan kekuatan finansial, jika gurunya inovatif, progresif, dan produktif, maka kualitas lembaga pendidikan akan maju pesat. Lebih-lebih jika sistem yang baik ditunjang dengan kualitas gurunya, maka kualitas pendidikan akan semakin baik.

Di sinilah, menurut Asmani letak strategis guru dalam dunia pendidikan. Karena tidak ada pilihan lain, guru-guru harus memposisikan diri sebagai guru yang ‘tahan banting’ dengan segala kreasinya sebagai guru yang inspiratif, inovatif dan motivatif. Yakni guru-guru yang mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman yang kian maju dan kompetitif; memiliki kekuatan spiritual, intelektual, emosional, dan sosial yang tinggi, serta kreatif melakukan terobosan berbagai pembaharuan yang terus menerus dan berkesinambungan.

Dari berbagai informasi, jika kita belajar tentang ‘potret’ guru di Negara maju, sangat efektif untuk membandingkan kondisi guru di negeri kita. Dalam konteks ini, kita tidak melihat dari sisi kesejehteraannya yang jelas di atas kesejahteraan guru-guru kita. Kita hanya melihat esensi peran guru di Negara maju, maka banyak pelajar-pelajar Indonesia dari keluarga kaya lebih memilih pendidikan di luar negeri dari pada dalam negeri.

Guru-guru di Negara maju menganggap pendidikan sebagai bagian hidup, tidak hanya untuk mencari kesejehteraan ekonomi. Bagi mereka, pendidikan adalah bagian tak terpisahkan dalam hidup dan kehidupan. Pendidikan bukan semata-mata instrument untuk mencari pekerjaan. Pandangan hidup atas pendidikan seperti inilah yang membuat konsep “pendidikan sepanjang hayat” yang mampu dipahami dan dilaksanakan dengan baik. Lain halnya dengan pendidikan di Indonesia yang berorientasi pada ukuran nilai kognitif: “Nilai Ebanas Murni”. Menurut Mudjia Rahardjo, bahwa untuk bisa hidup di Negara-negara Barat, seseorang harus berpendidikan. Jadi tidak aneh, bila di Negara maju seseorang bisa mengambil jenjang pendidikan doktoral di usia 80 tahun, lalu lulus pada usia 85 tahun.

Di negeri kita dan kebanyakan Negara berkembang lainnya, seseorang menempuh pendidikan lebih didasarkan pada kepentingan untuk mendapatkan pekerjaan, dan bukan untuk menciptakan lapangan pekerjaan. “Minded orientasi”nya tentu menjadi ‘pegawai negeri’ atau ‘pegawai kantoran’, jika sudah bergelar sarjana. Kalau tidak, mereka ikhlas menjadi pengangguran intelek dari pada sebagai “enterpreneurship” alias wiraswasta mandiri?

Falsafah pendidikan seperti ini sejatinya mengarahkan masyarakat untuk mereduksi fungsi pendidikan. Esensi pendidikan hanya dihargai sebatas tataran ekonomi. Padahal jauh lebih besar dari itu, pendidikan merupakan proses ‘pembentukan kemanusiaan’. Pada tataran praktis, pendidikan adalah bekal kehidupan seseorang. Pendidikanlah yang mampu menghantar manusia menuju kemakmuran dan kesejahteraan. Pendidikan esensinya “membuat” manusia berdedikasi tinggi, tidak malas, tidak gengsi untuk berkreasi menciptakan lapangan pekerjaan apa saja yang “halal” menurut pandangan agama menuju kemakmuran dan kesejahteraan tadi.

Karena menghayati pendidikan sebagai bagian dari kehidupan, maka guru di Negara maju menjalankan fungsi kependidikan secara penuh, tidak setengah-setengah — guru yang tidak hanya “kebetulan” mejadi guru karena tidak ada pekerjaan lain — betul-betul mengabdikan hidupnya untuk pendidikan. Dari sinilah peningkatan kualitas terus menerus bisa dicapai dengan baik dan maksimal sebagai upaya kebangkitan bangsa.

Di zaman era golablisasi sekarang, kita memasuki tahap baru dalam Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) atau Asean Free Trade Area (AFTA), dengan pasar bebas tenaga kerja, ekonomi, dan budaya. Suka tidak suka bangsa kita akan tetap menjadi bagian tidak terpisahkan dari sebuah komitmen ekonomi baru, yang tentu membawa dampak dalam kehidupan masyarakat, baik secara positif maupun negatif.

Di era globalisasi tersebut, kompetisi berjalan secara ketat. Barang siapa tidak siap, maka akan tersisih dengan sendirinya. Persaingan tersebut berkisar tiga kekuatan yang sangat tidak seimbang. Sebagaimana diistilahkan Alfin Toffler, dunia saat ini sudah berada pada gelombang ketiga (the thrid wave), yaitu terjadinya revolusi informasi secara eskalatif. Pada gelombang ini, basic power bertumpu pada mind atau rasio. Sedangkan pada gelombang kedua (revolusi industri), basic power berada pada money (uang). Adapun gelombang pertama (revolusi pertanian), basic power bertumpu pada muscle (otot). Oleh karena itu, para pakar menyebutkan dua ciri dari globalisasi; transparasi (keterbukaan) dan liberalisasi (persaingan bebas) sebagai konsekuensi logis dari era informasi. Memahami globalisasi adalah salah satu tugas utama guru untuk membentengi anak didiknya dari dampak negatif budaya global.

Kita menyadari, tidak semua guru bisa melakukan hal ideal; karena banyaknya kendala yang dihadapi. Mulai dari ketiadaan biaya, usia yang sudah lanjut, kesibukan, dan alasan lain yang membuat guru tidak mampu memenhuhi cita-cita besarnya. Apalagi harus memenuhi persyaratan yang diwajibkan negara, seperti dalam hal sertifikasi dan mendapat ijazah strata satu (S1).

Akan tetapi bagi guru-guru muda khususnya, tidak ada alasan yang membuat mereka mundur. Sebab, masa depan, tantangan, dan peluang sudah ada di depan mata. Jika tidak berani menghadapi tantangan dan mengambil peluang, maka orang lain yang akan mengambilnya. Hidup adalah kompetisi, maka secara alamiah, ia akan tersisih dan termarginalkan dalam arus perubahan dahsyat dengan produktivitas iptek modern. Dalam konteks ini, pengembangan kompetensi sesuai bidang keahlian adalah keniscayaan.

Hal yang mesti digaris bawahi adalah: jangan kita mendewakan formalisme dan simbolisme. S1, S2, S3, dan profesor itu adalah simbol formal. Yang terpenting, bukan simbolnya, tetapi kedalaman ilmu, luasnya wawasan, produktivitas berkarya, serta hebatnya visi dan misi hidup yang dibangun atau dijalani, sehingga menjadi sumber inspirasi bagi orang lain, terutama bagi anak didik yang akan menjadi kader kebangkitan bangsa ini di masa depan.

Kelebihan dan kekurangan guru adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Karena guru bukanlah malaikat. Guru juga manusia; makhlu ksosial yang memiliki hati, akal, budaya serta cita-cita. Karena itu, kelebihan yang ada sangat baik untuk ditingkatkan sehingga menjadi guru kreatif yang menjunjung tinggi integritas moral, spiritual, intelektual, emosional, dan sosial. Sementara kelemahan yang ada, sejatinya dikurangi sedikit demi sedikit, sehingga bisa menjadi panutan dan teladan bagi anak didik dan lingkungan sosialnya.

Pengalaman kita menjadi murid (anak didik) ketika dulu belajar di sekolah sangat membekas dalam jiwa, betapa guru-guru kita jaman dulu yang inspiratif dengan pola dan strategi mengajar mampu menyulut api idealisme murid-muridnya. Dengan melihat wajah mereka dan mendengarkan penjelasan di dalam kelas yang sederhana, dan pasilitas yang serba terbatas; rasanya ada kepuasan batin, pencerahan jiwa, dan pendorong cita-cita tinggi di masa depan.

Untuk para guru muda, pompakan idealisme dalam meningkatkan profesionalisme mengajar dan mendidik. Di tangan Andalah kader-kader muda mencapai kebangkitan bangsa di masa depan, masa emas Indonesia! Wallahu A’lam (*)

*) Pemerhati pendidikan, pensiunan Guru SMA Negeri 2 Tanjungpandan, Belitung.

Related Search

Rate this article!
Tags:
author

Author: