banner 728x90

Pendidikan Merdeka Ya ‘Ke Sekolah Bersepeda’

banner 468x60

Oleh: Marsandi Manar, S.Pd., M.Pd
Dosen Universitas Bangka Belitung

SALAH satu pondasi penting yang menopang kata ‘merdeka’ adalah pendidikan yang penuh makna dan citra. Pendidikan adalah nyawa di dalam kata ‘merdeka’. Pertanyaan yang perlu sama-sama kita renungkan adalah sudahkah pendidikan di pulau Bangka merdeka. Anak didik Indonesia di pulau timah dan lada sudah seharusnya merdeka, yakni merdeka dari ketergantungan yang berlebihan dengan mesin, merdeka dari kekhawatiran untuk tampil berbeda, merdeka dari terseret derasnya arus ‘sama-sama’, dan yang paling penting merdeka dalam mengeksplorasi jati diri dan menjadi diri sendiri.

banner 300x250

KEMERDEKAAN pendidikan di pulau Bangka saat ini sedang dirongrong dan dihantui oleh lima kata, yaitu ‘keengganan untuk ke sekolah bersepeda’. Hampir setiap hari di pulau lada, kita saksikan tidak sedikit anak didik kita yang mengendarai motor bagus, mulus, dan baru buka bungkus hanya untuk ke sekolah yang jaraknya ‘satu jengkal’. Saat SD, anak didik kita diantar oleh para orangtua ke sekolah yang jaraknya ‘satu jengkal’ dengan menggunakan sepeda motor yang bagus. Saat SMP dan SMA yang jaraknya juga ‘sejengkal’ anak didik kita sudah tidak lagi diantar oleh para orangtua, namun kini mereka sendiri yang mengendari kendaraan mesin tersebut dengan bangga. Semoga bukan ini makna kemerdekaan pendidikan yang kita harapkan.

Petanyaan yang muncul berikutnya adalah bahwa mengapa harus bersepeda. Dengan bersepeda, diharapkan anak didik kita tidak hanya bisa hidup harmoni dengan sesama, tetapi juga bisa mempunyai kepekaan yang mendalam terhadap alam (sense of nature) dan manusia. Dengan bersepeda, peserta didik diharapkan bisa lebih menikmati dan berinteraksi dengan lingkungan sosial dan alam di sepanjang jalan yang menuju ke sekolah. Mereka juga diharapkan bisa merenungi betawa banyaknya minyak bumi dunia yang dihabiskan oleh sepeda motor serta betawa banyaknya gas pembuangan sepeda motor yang dikeluarkan ke alam. Tidak kalah penting, peserta didik yang ke sekolah bersepeda diharapkan bisa mengembangkan mental ‘berusaha’. Hal ini tentunya berbeda dengan menggunakan sepeda motor yang lebih cocok dengan mental ‘instan’. Selain itu, bersepeda bagi para remaja bisa mengajarkan kebiasaan hidup sehat. Pelajar yang hebat tentunya harus sehat. Apalagi dengan penerapan full-day school, peserta didik mungkin sudah tidak punya banyak waktu untuk berolahraga. Hal ini bisa dikompensasi dengan bersepeda paling tidak dua kali sehari saat school-day.

Pertanyaan ketiga yang muncul adalah bagaimana siswa-siswi yang bertempat tinggal jauh dari sekolah bisa bersepeda. Di sinilah salah satu letak permasalahan utamanya. Mari kita tengok sebentar ke negeri Sakura, negeri Matahari yang berisi manusia-manusia berintegritas dan berteknologi tinggi serta bercitra rasa harmoni yang tinggi baik dengan sesama maupun dengan alam. Di Jepang yang merupakan negara pemasok sebagian besar sepeda motor yang kita gunakan di pulau Bangka setiap hari, siswa-siswi diarahkan untuk bersekolah di sekolah yang terdekat dengan tempat tinggal mereka.

Praktek memilih sekolah yang terdekat dari tempat tinggal ini adalah salah satu contoh penerapan sederhana prinsip dan semangat inklusi. Alhasil, untuk ke sekolah, anak-anak SD tidak perlu diantar oleh orangtua mereka dengan kendaraan mesin. Sejak dini peserta didik di Jepang dibiasakan berani dan mandiri, yaitu ke sekolah harus sendiri. Begitu juga saat duduk di bangku SMP dan SMA, sangat jarang ada peserta didik yang ke sekolah menggunakan sepeda motor sehingga untuk jarak dekat bersepeda menjadi pilihan utama & menyenangkan.

Pertanyaan terakhir yang muncul adalah bahwa siapakah yang harus memulai bersepeda ke sekolah. Kita sadari bukan hal yang mudah dalam mengajak peserta didik kita untuk tampil berbeda di tengah gaya hidup remaja di pulau Bangka yang ‘selalu ingin sama’. Orang pertama yang harus memberikan contoh bersepeda ke sekolah adalah para guru, khususnya guru-guru yang bertempat tinggal dekat dari tempat mereka mengajar serta yang memiliki ‘mobilitas terbatas’. Penulis sendiri saat SMA adalah satu-satunya siswa di sebuah sekolah negeri yang ke sekolah bersepeda. Terhitung sejak 2007 hingga 2017, sepertinya masih sangat minim atau bahkan belum ada siswa yang meneruskan kebiasaan ini di sekolah padahal lingkungan di sepanjang jalan menuju sekolah tersebut masih terbilang hijau dan asri.

Terakhir, peserta didik Indonesia khususnya siswa-siswi di pulau Bangka harus merdeka. Para pelajar di Bangka harus benar-benar merdeka untuk tampil berbeda, merdeka dari rasa kekhawatiran dan dari rasa ketidakpercayaan diri untuk tidak harus ‘sama’.Selain itu, pelajar-pelajar di pulau timah dan lada harus merdeka dari ketergantungan yang berlebihan dengan mesin. Dan, ke sekolah bersepeda adalah cara pertama dan termudah untuk memerdekakan diri.***

Related Search

banner 468x60
Tags:
author

Author: