banner 728x90

Peranan Bahasa Arab Terhadap Pemahaman Islam

Oleh: SADELY ILYAS
(Pemerhati pendidikan, pensiunan guru tinggal di Tanjungpandan)

Sebagai salah satu bahasa resmi PBB, bahasa Arab memang perlu diajarkan di bangku sekolah agar generasi bangsa ini sanggup tampil dengan baik dalam pergaulan dunia, dengan bangsa apa saja khususnya bangsa Arab. Selain itu, sebagai negara dengan jumlah penduduk beragama Islam terbesar, memang sudah selayaknya bahasa Arab diajarkan secara lebih serius lagi, mengingat bahasa tersebut menjadi bahasa kitab suci umat Islam.

Di kalangan umat Islam, kita masih menemukan yang buta huruf latin, tetapi tidak buta huruf Arab. Kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang kampung golongan tua. Ini dapat dimengerti, karena bahasa Arab disamping bahasa pengantar untuk memahami Al-Qur’an oleh para ajengan dan ustadz, karena bahasa Arab dijadikan ‘bahasa ibadah’. Namun, di sekolah umum kita jarang menemukan kurikulum yang mengajarkan bahasa Arab sebagai rumpun bahasa asing, kecuali lembaga pendidikan yang berbasis agama seperti pesantren. Karena itu, bahasa Arab belum secara merata di pelajari termasuk di media masa sekalipun.

Aspek pemahaman bahsa Arab dan bahasa asing lainnya memang sama dengan cara membaca (qiraah). Mempelajari bacaan Al-Qur’an di negeri kita sudah melembaga sampai ke desa-desa. Bahkan setiap masjid dan surau dari kampong sampai ke kota dengan mudah kita temukan Taman Bacaan Al-Qur’an (TPA). Tetapi, anak-anak masih kurang dapat mempelajari pemahamannya, sehingga masih belum dapat menyimak dari apa yang dibaca dan didengar (istima’), lebih-lebih dalam berbicara (mukhadatsah), demikian pula dalam menulis (kitabah).

Dalam pengajaran bahasa, ada empat kemahiran yang hendak dicapai, yaitu menyimak (listening), berbicara (speaking), membaca (reading) dan menulis (writing); atau dalam bahasa Arab disebut istima’, mukhadatsah, qiraah, dan kitabah. Karena itu, pelajaran bahasa Arab yang bersumber dari satu aspek saja, terkadang kurang efektif, apalagi motivasi untuk belajar dari umat Islam masih dikatakan kurang.

Betul, jika bahasa Arab dikatakan sebagai ‘bahasa ibadah’ bagi umat Islam. Sebab peran bahasa Arab paling dominan dalam Islam yaitu pada “upacara-upacara”nya, mulai dari adzan, qamat sampai kepada pelaksanaan shalat, tidak dapat diganti dengan bahasa apapun juga. Sehingga hal ini merupakan dorongan untuk dapat minimal membaca Al-Qur’an.

Oleh karenanya, ibadah itu akan berdaya dan berhasil guna (efektif dan efisien) mencapai sasaran apabila doa-doa dan zikir itu dipahami benar dari sisi bahasanya. Doa dan zikir dalam shalat maupun di luar shalat, tentulah bukan kata-kata hampa yang tak mengandung arti dan nilai. Tetapi seluruhnya mengarah kepada pembentukan watak/karakter, sikap, dan kepribadian dari seluruh aspek kehidupan (dunia dan akhirat). Tujuan ini akan tercapai jika orang memahami apa yang diucapkan; dan akan dapat dipahami jika mengerti bahasa pengantarnya (bahasa Arab).

Masih terdapat di antara kaum Muslim yang tidak mengerti dan tidak merasa khusuk ketika melaksanakan ibadah (ketika shalat misalnya), lantaran mereka tidak mengerti apa yang dibaca dan diucapkan. Maka dari itu, satu sisi yang perlu diperhatikan ialah mengerti ungkapan-ungkapan dalam shalat tersebut. Sebab jika tidak, tingkat kekhusu’an akan sulit didapatkan.

Ada dua tingkat dalam memahami doa-doa dan zikir, baik dalam shalat maupun di luar shalat. Tahap pertama memahami secara global maksud dan tujuan bacaan itu; baik secara khusus maupun secara umum, dan selanjutnya diteruskan pada pemahaman harfiah satu demi satu sehingga ungkapan-ungkapan itu benar-benar dapat dimengerti dan dihayati. Terhadap pemahaman Al-Qur’an, Allah berfirman, “Dan demikianlah Kami turunkan Al-Qur’an dalam bahasa Arab, dan Kami telah menjelaskan berulang-ulang di dalamnya sebagian dari ancaman, agar manusia bertakwa atau mendatangkan pengajaran bagi mereka” (QS Taha [20]: 113).

Sebagian ahli tafsir menyatakan bahwa Al-Qur’an itu diartikan sebagai bacaan. Kenyataan ini sesuai dengan yang digariskan Allah SWT di mana wahyu pertama turun berupa perintah kepada Muhammad agar membaca: “Iqra’ — “bacalah!.”

Setiap umat Islam diwajibkan membaca Al-Qur’an, atau mengerti maksud dan tujuannya, sehingga benar-benar dijadikan pedoman hidup. “Kitab (Al-Qur’an) itu tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 2). Persoalannya, bagaimana perintah takwa dapat diterapkan, jika umat Islam sendiri ‘buta’ terhadap bacaan dan isi Al-Qur’an?

Untuk mengerti Al-Qur’an, tentu Bahasa Arab tidak dapat dipisahkan dari umat Islam. Bahkan yang lebih umum, kini bahasa Arab juga telah menjadi bahasa Internasional (baca: bahasa ‘pergaulan’ antarnegara), disamping bahasa persatuan umat Islam di dunia. Namun juga bahasa Arab di akhirat kelak dipakai sebagai bahasa dalam surga. Nabi Saw bersabda,

“Saya cinta bahasa Arab karena saya orang Arab. Saya cinta bahasa Arab karena Al-Qur’an berbahasa Arab, dan saya cinta bahasa Arab karena bahasa yang dipergunakan dalam surga adalah bahasa Arab.” Walaupun, memang, penguasaan bahasa bukan merupakan satu-satunya untuk mencapai surga, karena surga itu akan ditempati oleh orang-orang bertakwa, namun, iman dan takwa yang sesungguhnya akan dapat dicapai jika kaum Muslimin dapat memahami Al-Qur’an dan Sunnah dengan baik dan benar.

Walaupun bahasa Arab belum merata diajarkan disekolah-sekolah, namun pengaruhnya terhadap bahasa Indonesia
juga signifikan. Tidak kurang 30 persen kosa kata bahasa Indonesia diambil dari bahasa Arab. Tapi rintangan utama untuk mendalami Islam adalah kurangnya pengertian terhadap bahasa ini. Bahkan dalam pengiriman Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke Arab Saudi banyak terjadi kasus-kasus internal yang tak dapat dipecahkan, karena halangan faktor bahasa Arab.

Ada dua aspek mempejari bahasa Arab, yaitu sebagai alat dan sebagai tujuan. Tujuan akhir ialah kemampuan membaca dan memahami. Karena itu, disamping kita bisa menulis, menyimak dan memahami, juga dituntut untuk bisa berbicara. Mempelajari bahasa Arab bisa melalui pendengaran (istima’), dan lisan (mukhadatsah). Namun, dari Al-Qur’an langsung juga akan mengena, apalagi untuk memahami Islam secara mendalam. Sebab Al-Qur’an juga merupakan tempat pengembalian dan timbangan bahasa Arab. Pengembangan agama Islam telah memberikan andil besar terhadap perkembangan bahasa Arab, dan telah meluas ke segala penjuru dunia bukan saja sebagai bahasa agama dan ibadah, tetapi juga menjadi bahasa kebudayaan bagi dunia Islam.

Di satu sisi Al-Qur’an adalah sumber perbendaharaan bahasa Arab, sedang di sisi lain bahasa Arab terkenal sebagai bahasa yang paling kaya dengan kosa kata. Namun yang jelas, dari sisi ibadah dan pengajaran Islam, bahasa Arab akan sangat bermanfaat sebagai sarana untuk memahami Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw. dimana setiap Muslim diwajibkan mempelajari, dan mengikutinya. Wallahu A’lam (*)

Related Search

Tags:
author

Author: