banner 728x90

Persoalan Sampah Tak Pernah Tuntas

banner 468x60

*Salim: Kita Tidak Boleh Saling Menyalahkan

sampah

Sampah nampak masih berserakan di objek wisata Air Terjun Gurok Beraye, Gunung Tajam. Foto diambil Kamis lalu.

TANJUNGPANDAN – Sejarawan Belitung Salim Yan Albert Hoogstad mengatakan, persoalan sampah yang terkesan tidak pernah tuntas, dikarenakan kurangnya rasa kepedulian terhadap lingkungan. Padahal permasalahan ini sudah sering diingatkan, dari tahun ke tahun. Namun masih saja terlihat hingga saat ini.

banner 300x250

Misalnya, di sejumlah objek wisata dan di perkotaan, butiran-butiran sampah akhir-akhir ini sangat terlihat. Meski tidak sebanyak seperti tahun sebelumnya. Tetapi tetap saja mengurangi citra rasa kepariwisataan. Apalagi sekarang ini pemerintah sedang giat-giatnya mengembangkan dan mempromosikan pariwisata.

“Kalau soal sampah kita tidak boleh saling menyalahkan. Masyarakat tidak bisa menyalahkan pemerintah. Pemerintah juga tidak bisa menyalahkan masyarakat. Jadi perlu kesadaran dari kedua-duanya, ” pesannya saat dihubungi Belitong Ekspres, Jum’at (7/7) kemarin.

Salim menyebutkan, secara teori semuanya boleh-boleh saja berwacana. Misalnya ingin seperti begini-begitu. Tetapi pada kenyataan yang terlihat sekarang ini, tingkat kesadaran untuk hidup bersih semakin hari, semakin mengecil.

“Kalau kita berbicara ada tidaknya perubahan dari tahun ke tahun daerah ini. Menurut saya ada perubuhan mundur kita. Contohnya dari segi sampah tadi. Kan setiap tahun, semakin banyak sampah itu. Jadi kadang-kadang hanya begitu-begitu saja kesannya,” guraunya.

“Walaupun belum begitu maksimal. Bisa di lihat di terminal, dan di bandar (selokan). Masih ada kan sampahnya. Tetapi saya tetap mengapresiasi kerja keras kawan-kawan yang ada di lapangan selama ini. Sebab saat ini saya lihat sudah ada pergerakan mengarah ke sana (kepedulian),” sebutnya.

Salim Yan berharap, karena sekarang bertepatan momen HJKT. Mudah-mudahan ke depan Belitung semakin maju. Dan bukan sebaliknya. Walaupun momen tersebut sebenarnya tidak begitu terasa tahun ini. Karena ada beberapa yang tidak nampak terlihat saat hari perayaan ulang tahun kota. Seperti umbul-umbul dan kegiatan-kegiatan kemasyarakatan.

“Kalau kita berdasarkan Perda, seharusnya kegiatan itu sebelum paripurna. Seperti ziarah misalnya, seharus sebelum Paripurna. Bukan setelah paripurna, karena paripurna itu puncaknya. Dan paripurna harusnya tepat pada tanggal satu juli. Sama lah ibaratnya seperti perayaan 17 Agustus setiap tahun. Jadi tidak boleh dibalok-balik seperti itu,” tandasnya, yang juga waktu itu tim perumus HJKT.(i1s)

Related Search

banner 468x60
Rate this article!
Tags:
author

Author: