banner 728x90

Pertama di Belitung, Perayaan  Dharmasanti Waisak 2562 BE 

banner 468x60
TANJUNGPANDAN – Umat Buddha di Belitung menyambut antusias atas hadirnya puncak perayaan Dharmasanti Waisak tingkat provinsi yang untuk kali pertama dilangsungkan di sana. Lokasi acara dihadiri ratusan umat yang datang dari berbagai daerah di Belitung.
JARUM jam baru menunjukkan pukul setengah enam petang. Turun dari sepeda motor yang dikendarai, Andrean dan isteri bergegas menuju gedung pertemuan di Pandan House Resto. Meski acara Dharmasanti Waisak secara resmi baru akan dimulai pukul delapan malam, dia sudah datang duluan. Lokasi acara pun sudah mulai terlihat ramai. “Lebih enak saja kita datang duluan. Sekalian bisa santap malam dulu di belakang,” ujar Andrean, ketika disapa.
Lain Andrean, lain pula Sunyoto. Pria ini hadir lengkap bersama isteri dan dua anaknya ke lokasi acara. Bahkan, meski bukan salah seorang penampil di atas panggung, dia mendandani Michael, putranya yang berusia sekitar sembilan tahun, dengan stelan jas rapi. “Nggak kok. Anak saya ga nyanyi. Kami tamu saja. Cuma kelihatan nyaman saja kalau anak terlihat rapi begini,” ujarnya.
Hari itu, Kamis, 7 Juni 2018. Perayaan Dharmasanti Waisak 2562 Buddhis Era, di Pandan House Resto, Tanjungpandan, Belitung, berlangsung meriah. Ratusan umat Buddha hadir memadati lokasi acara.
Dari jajaran tamu, nampak hadir Wakil Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Abdul Fattah, Kapolda Brigjen Syaiful Zachri, Danrem 045/Garuda Jaya Kolonel Inf Dadang Arif Abdurahman, Danlanal Kolonel Laut (P) Iwan Kuswanto, Danlanud Letkol Pnb Akal Juang, Pjs Bupati Belitung Sahirman Jumli, Kajari Belitung Sekti Anggreini, Kapolres Belitung AKBP Yudhis Wibisana, dan pejabat lainnya.
Dari unsur internal, hadir Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama RI, Caliadi,
Pembimas Buddha Bangka Belitung Wisnu Widianto, dan para pemuka agama Buddha nasional dan lokal Bangka Belitung lainnya.
Tarian Gending Sriwijaya menjadi pembuka acara. Tarian ini sarat sejarah. Berasal dari masa kejayaan kemaharajaan Sriwijaya yang mencerminkan sikap tuan rumah yang ramah, gembira dan bahagia, tulus dan terbuka terhadap tamu yang datang.
Ketua Panitia Dharmasanti Waisak 2562 BE, Bambang Patijaya dalam sambutannya mengatakan perayaan Waisak yang bertema Harmoni Serumpun Sebalai, untuk menunjukkan perhatian umat Buddha di Bangka Belitung dan Indonesia, dalam menjunjung tinggi kebersamaan dalam keberagaman.
“Sebetulnya kata-kata Harmoni Serumpun Sebalai ini adalah perwujudan Bhinneka Tunggal Ika dalam konteks lokal Bangka Belitung,” ujar pria yang akrab disapa BPJ, itu.
Dikatakannya, rangkaian perayaan Waisak tahun ini dimulai sejak 29 April 2018 lalu, dengan diawali aksi donor darah yang dilakukan serentak di Tanjungpandan, Sungailiat, dan Pangkalpinang. Saat itu, terkumpul 172 kantong darah untuk disumbangkan ke PMI. Kemudian, ada juga Ngedulang Waisak, yang berupa makan bersama di Puri
Tri Agung Sungailiat.
Rangkaian perayaan Waisak, juga diisi dengan penghijauan dan pelepasan burung bekerjasama dengan Yayasan Gunung Mangkol Lestari. Ada juga napak tilas di Kota Kapur, bersedekah nasi kotak melalui kerjasama dengan Umah Ubi Atok Kulop, dan membersihkan makam pahlawan di Sungailiat, Tanjungpandan dan Pangkalpinang. Puncak perayaan ditutup dengan acara Dharmasanti Waisak yang dilangsungkan di Belitung, ini.
“Dari beberapa rangkaian acara dapat kami tularkan semangat Harmoni Serumpun Sebalai kepada umat Buddha di Bangka Belitung. Semangat ini adalah kearifan lokal kita,” ujarnya.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama RI, Caliadi mengapresiasi atas perayaan Dharmasanti Waisak di Bangka Belitung yang menitikberatkan pada menjaga kebhinnekaan dan kebersamaan. “Ini sejalan dengan tema pusat, ‘Bertindak baik, berucap baik, dan berpikir baik untuk memperkokoh keutuhan bangsa’,” ucapnya.
Dikatakannya, sebagai bangsa yang besar, salah satu yang terpenting dalam rangka kelangsungan berbangsa dan bernegara adalah kerukunan antar umat beragama. Perbedaan adalah sebuah anugerah Tuhan yang harus dijaga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Melalui momentum Waisak 2562 Buddhis Era ini, mari sebagai umat Buddhis dapat melakukan sesuai dengan ajaran Buddhis, menjaga dan memelihara toleransi agar kehidupan beragama dapat terjalin sepanjang masa. Semoga berkah Dharmasanti Waisak di Bangka Belitung ini senantiasa memberi kedamaian dan kebahagaiaan bagi kita semua,” tuturnya.
Apresiasi atas kesepakatan tuan rumah penyelenggaraan Dharmasanti Waisak dilangsungkan di Belitung, disampaikan Wakil Gubernur Abdul Fatah. Terlebih, sebelumnya dia juga menyempatkan hadir di acara Ngedulang Waisak di Sungailiat.
“Ini keseimbangan. Kita awali perayaan di Bangka, dengan tidak melupakan untuk merayakan puncak acaranya di Belitung ini,” ujar Wagub.
Adapun Bhante Dhammasubho Mahathera yang berkesempatan menyampaikan hikmah Waisak, mengatakan tema Harmoni Serumpun Sebalai yang selaras dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika merupakan kalimat yang nilainya sangat tinggi, karena terkandung bahasa hati di dalamnya.
“Bahasa hati sesungguhnya adalah bahasa rasa. Kalau seseorang sudah kehilangan bahasa rasa dan tanpa rasa, maka tidak ada harapan dalam hidup ini. Untuk itu marilah kita ungkapkan bahasa rasa,” ujarnya.
Harmoni Serumpun Sebalai, dikatakannya juga dapat menjadi sabuk pengikat dan menjadi sandaran antara pemimpin dengan rakyatnya. Karena perayaan Waisak tahun ini bertepatan dengan umat Muslim beribadah puasa Ramadan, ucapan selamat berpuasa juga disampaikannya.
“Saya juga mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa kepada saudara-saudara kami yang beribadah puasa,” ucapnya.(rel)

banner 300x250

Related Search

banner 468x60
Tags:
author

Author: