banner 728x90

Petani Lada Keluhkan Merosotnya Hasil Panen Tahun Ini

belitongekspres.co.id, KOBA – Para petani lada di Bangka Tengah mengeluhkan minimnya hasil panen pada tahun 2017. Hal ini menurut sebagian petani disebabkan banyaknya musim hujan yang mengguyur selama kurun waktu setahun terakhir ini, sehingga sangat mempengaruhi hasil panen.

Seperti diutarakan salah seorang petani lada di Dusun Panang Desa Perlang Kecamatan Lubuk Besar, Abu Hasan Ashari (38). Dikatakannya, hasil panen tahun ini jauh merosot jika dibandingkan dengan tahun 2016 kemarin. Tidak banyaknya musim kemarau sepanjang setahun terakhir ini disinyalir menjadi salah satu penyebabnya.  “Sahang (lada-red) ini kalau sedikit musim kemarau, akan berpengaruh dengan panennya. Karena buah akan lebih sedikit kalau terus diguyur hujan,” ujarnya kepada Babel Pos saat dijumpai di kebunnya, Selasa (25/07) kemarin.

“Selain itu, banyaknya musim penghujan akan membuat penyakit lebih banyak, seperti sakit kuning maupun kulat malam,” sambungnya.

Kondisi inipun kian diperparah dengan merosotnya harga lada saat ini, dimana kisaran harga di pasaran hanya berkisar Rp. 81 ribu hingga Rp. 85 ribu per kg.  “Kalau harga lada masih dibawah Rp. 100 ribu per kg, saya rasa kami petani kecil seperti ini masih merugi. Mau disimpan dan dijual saat harga tinggi, kita gak punya modal. Jadi, mau gak mau tetap dijual. Karena ini juga berkaitan dengan kebutuhan hidup dan pupuk untuk sahang itu sendiri,” ungkapnya seraya mengaku pada tahun ini cuma memanen 500 kg lada.

Persoalan merosotnya harga lada ini juga disampaikan salah seorang pengepul Lada di Dusun Sadap, Bujang. Menurutnya, penurunan harga ini sudah terjadi sekitar tiga bulan terakhir ini.  “Sebelumnya memang terus merosot. Tapi, sekarang ini sudah mulai ada kenaikan. Kita gak ngerti apa faktornya. Karena semua yang pegang kendali kan orang Cina. Kalau sekarang saya ngambil dari petani Rp. 81 ribu per kg,” ucapnya.

Berkaitan dengan produksi lada tahun ini, menurutnya juga mengalami penurunan jika dibandingkan tahun 2016 kemarin.  “Dalam sebulan itu gak tentu berapa yang berhasil saya kumpul. Kadang ada yang mengantar hingga satu ton lebih dalam satu hari. Sahang yang saya beli dari petani ini saya jual kembali kepada pedagang yang ada di Desa Trubus,” pungkasnya.  (obh)

Related Search

Tags:
author

Author: