banner 728x90

Picu Perceraian di Pangkalpinang  

//2017, 29 Kasus Perceraian
PANGKALPINANG – Angka perceraian yang diadili di Pengadilan Negeri Pangkalpinang, didominasi atas persoalan perekonomian. Sang penggugat cerai sendiri kebanyakan adalah dari pihak wanita. Dimana istri beralasan sang suami sudah tidak mampu memberi nafkah  terhadap kebutuhan keluarga.
“Para istri ajukan cerai umumnya dengan alasan ekonomi, walaupun ada penyebab lainya tapi tidak dominan. Kebutuhan ekonomi keluarga yang tidak tercukupi. Klasik juga seperti kebutuhan anak sekolah, kebutuhan primer seperti pangan, sandang dan papan. Selain itu juga kebutuhan sekunder,” kata Humas Pengadilan Negeri Pangkalpinang, Iwan Gunawan kemarin.
Dalam kondisi seperti ini dikatakan Iwan Gunawan yang juga hakim pihak istri secara terang-terangan menyatakan suami sudah tidak bisa diandalkan untuk mempertahankan rumah tangga. Suami dinilai istri sudah tidak mampu memberi nafkah  terhadap kebutuhan keluarga. “Tetapi bagi pihak yang mengadili tentu tidak mudah-mudah memutuskan cerai tetapi ada tahapan-tahapan yang harus dilalui dengan harapan agar jangan sampai terjadi perceraian. Di antaranya melalui mediasi antara pihak istri dan suami terlebih dahulu,” ujarnya.
Sementara data statistik yang dimiliki pihak Pengadilan Negeri Pangkalpinang tercatat hingga Juli 2018   sebanyak 17 kasus perceraian. Angka ini diduga akan terus naik dari tahun sebelumnya yakni 2017 yang hanya mencatat 29 kasus. “17 kasus yang masuk hingga Juli 2018 ini terasuk sudah putus maupun sedang dalam proses persidangan. Tahun sebelumnya 2017 berjumlah 29 kasus angka perceraian yang sudah diputuskan,” tandasnya.(eza)

Related Search

Rate this article!
Tags:
author

Author: