banner 728x90

Pro-Kontra Penambangan Bukit Kukus, Komisi III Sarankan Mediasi Ulang

MUNTOK – Pro kontra rencana penambangan batu Bukit Kukus di Kecamatan Muntok Kabupaten Bangka Barat (Babar) hingga saat ini terus bergulir. Anggota DPRD Babar dari Komisi III Dafitri menyarankan, untuk dilakukan mediasi ulang antara Pemda Babar dengan masyarakat yang notabenenya berdomisili disekitar wilayah penambangan. Menurutnya, persoalan penambangan batu di Bukit Kukus tidak lagi menjadi perhatian masyarakat Babar saja, melainkan sudah menjadi perhatian masyarakat luas.

“Bukit Kukus ini tidak lagi menjadi perhatian masyarakat di sini (Babar,red) saja, melainkan masyarakat luas. Oleh karena itu, Pemda harus memediasi kembali masyarakat yang terkena imbas rencana penambangan. Karena, persoalan ini tidak bisa didiamkan, justru malah sebaliknya, pemda harus menilai bahwa masalah ini adalah masalah yang serius, jangan dibiarkan berlarut larut,” ujar politisi PAN Babar Dafitri, Selasa (21/3) siang.

Lebih lanjut dikatakannya, diawal kepemimpinan bupati dan wakil bupati H Parhan Ali dan Markus, saat ini pemerintah daerah sangat mengharapkan masuknya investor ke Babar. Namun bukan berarti pemerintah tidak bisa memilah-milah mana investasi yang benar benar mensejahterakan masyarakat banyak dan mana yang merugikan masyarakat. Menurut politis PAN tersebut, Babar memiliki banyak potensi yang bisa mensejahterakan masyarakat, tidak hanya pada satu sektor saja yakni pertambangan.

“Kita paham betul, bahwa pemerintahan kita sangat mengharapkan banyaknya investor yang mau berinvestasi ke sini. Tetapi, Pemda juga harus selektif supaya nilai investasi yang masuk betul-betul memberikan manfaat kepada masyarakat bisa mensejahterakan masyarakat. Babar kan tidak hanya pertambangan saja yang bisa dijual, ada potensi potensi lain yang tak kalah pentingnya untuk dipertimbangkan seperti sektor kelautan, pariwisata yang nota benenya sampai saat ini belum dikelola dengan maksimal,” terangnya.

Disisi lain secara tegas dikatakan Dafitri bahwa, dalam hal pengembangan pariwisata di Babar dinas terkait hingga saat ini belum dan hampir tidak memiliki program yang jelas tentang pengembangan pariwisata yang dapat mendatangkan minat para investor maupun wisatawan ke Bangka Barat. Padahal, potensi wisata Babat tidak kalah dengan daerah lain.

“Sekarang bagaimana kita mau mendatangkan investor maupun wisatawan ke sini, kalau program dinas terkait setiap tahun itu-itu saja, malah terkesan seremonial dan rutinitas saja, tapi tidak mencerminkan sebuah inovasi baru. Ini jujur saya katakan, karena kalau tidak kita akan jalan ditempat, sedangkan kabupaten ini sudah berumur belasan tahun bukan lagi usia jagung. Jadi, bukan saatnya lagi kita hanya menciptakan retorika yang tidak memberikan manfaat yang signifikan bagi daerah maupun masyarakat, “tegas Dafitri.

Selaku wakil rakyat, Dafitri mengharapkan pemerintah daerah bisa menjadikan Bukit Kukus sebagai salah satu objek wisata baru di Babar ketimbangan membuka aktifitas penambangan batu yang bisa merusak kawasan bukit kukus tersebut.

“Secara pribadi saya setuju kawasan tersebut dijadikan objek wisata taman keragamanan hayati sebagai penyangga Bukit Menumbing. Taman keragaman hayati (Kehati) sudah diatur dalam Undang Undang 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Sebagaimana tertuang dalam undang undang tersebut pada huruf b disebutkan Pencadangan sumber daya alam meliputi sumber daya alam yang dapat dikelola dalam jangka panjang dan waktu tertentu sesuai kebutuhan untuk melaksanakan pencadangan sumber daya alam, pemerintah, pemerintah provinsi, kabupatan/kota dan perseorangan dapat membangun, taman keragaman hayati diluar kawasan hutan, ruang terbuka hijau (RTH) paling sedikit 30% dari kawasan pulau/kepulauan. Nah..jika merujuk pada pasal 57 ayat 1 butir b. Pemeliharaan lingkungan hidup dilakukan melalui pencadangan sumber daya alam antara lain taman kehati yang berada diluar kawasan hutan. Sedangkan berdasarkan undang udang tersebut kawasan bukit kukus merupakan kawasan areal penggunaan lain (APL) artinya bisa dilakukan untuk hal tersebut,  namun tentunya jika nanti kawasan hutan tersebut dijadikan taman kehati harus ada komitment masyarakat untuk tidak melakukan aktifitas penambangan apapun dikawasan tersebut, “tegas Dafitri.(ray)

Related Search

Tags:
author

Author: