banner 728x90

Program BI Stabilkan Inflasi Belitung

banner 468x60

*Peletakan Batu Pertama Rumah Semai dan Penyerahan Chopper

foto-A--adv-Bank-Indonesia-cluster-cabai-batu-itam

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara (2 dari kanan), Bupati Belitung Sahani Saleh dan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Prov. Kep. Babel Bayu Martanto saat panen bersama.

SIJUK-Bank Indonesia (BI) terus berupaya mengendalikan inflasi cabai di Belitung. Salah satunya, Sabtu (21/5) kemarin, BI mengadakan pembangunan rumah semai dan pengadaan Mesin Chopper kepada Gapoktan Karya Mandiri Desa Batu Itam, Kecamatan Sijuk.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara mengatakan, pengendalian inflasi sudah menjadi tugas Bank Indonesia. Baik nasional maupun di daerah sudah dibentuk tim pengendalian inflasi (TPID).

banner 300x250

“Inflasi diukur dari 800 produk dipantau harganya. Dibuat indeknya, namanya indek inflasi. Di negara berkembang, karena pendapatan terbatas, sebagian besar dipakai untuk beli kebutuhan pangan,” kata dia pada acara yang juga diisi kegiatan Panen Bersama Cabai dan Pelatakan Batu Pertama Pembangunan Rumah Semai.

Inflasi di Indonesia, indek inflasi sangat besar berasal dari komponen harga pangan. Di dalamnya termasuk beras, bawang, daging, dan cabai yang pernah menjadi angka terbesar kenaikan inflasi di Belitung.

“Kita ini orang Indonesia semua senang makan cabe. Orang Jawa pun kalau minum pakai gula, tapi tetap senang aja cabe. Tapi produksi cabenya, kenapa selalu dak pas dengan kebutuhannya. Itulah yang membuat harga bisa naik puluhan bahkan ratusan persen,” terangnya.
Mungkin, kata dia, bagi petani naiknya harga cabe sangat bagus. Tapi jika naik 200 persen dan turun 300 persen justru membuat petani rugi. Karena naiknya harga akan mengurangi daya beli.

“Yang bagus itu naiknya terkendali, sehingga petani dapat insentif terus meproduksi, dan pembeli mampu membelinya,” jelasnya.
Ia menambahkan, setelah lebih fokus mengendalikan inflasi, BI terus menerus membuat program pengendalian. Meski bukan sebagai eksekutor, BI berperan  memberikan bantuan data, analisis terkait harga-harga kepada pemerintah. Mana yang naik tinggi, mana kabupaten kota yang kenaikan inflasi tinggi.

“Inflasi adalah musuh bersama, gimana kalau inflasi nol persen, gak bagus juga. Kami selalu membuat analisis ekonomi, data ekonomi, maka dari itu kami memberikan proyek percontohan,” kata dia.

Menurut Kepala Perwakilan Bank Indonesia Prov. Kep. Babel Bayu Martanto, pada 2014, Belitung sempat mengalami inflasi cukup tinggi. Hal ini dikarenakan hampir 80 persen kebutuhan bahan pangan berasal dari luar pulau.

Bayu menilai, Belitung mempunyai kontur wilayah yang baik untuk pengembangan pertanian, jika dikelola secara baik. Oleh karena itu, lewat program pengendalian inflasi, BI memilih cabai untuk dikembangkan sebagai satu dari sekian ba­han pangan yang mempunyai permintaan tinggi.

Sementara itu, Bupati Belitung Sahani Saleh mengatakan, orang Belitung sangat gemar mengkonsumsi cabai. Tidak lengkap jika makan tanpa rasa pedas. Ia juga menyebut, Belitung masih tergantung juga dengan Pulau Jawa.
Pasokan cabai, bawang, hingga beras tergantung kiriman dari luar daerah. Ia menyambut baik program dari BI. Ia berharap ini bisa mengendalikan inflasi di Belitung. Juga memberikan motivasi pada petani untuk menanam cabai.(adv)

Related Search

banner 468x60
Rate this article!
Tags:
author

Author: