banner 728x90

Respons Perbankan soal Kebijakan BI Naikkan Suku Bunga Acuan

banner 468x60

banner 300x250

JAKARTA – Kebijakan Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan 50 basis poin pada Mei lalu membuat perbankan mengambil langkah strategis.

Ada bank yang sudah menaikkan suku bunga, ada pula yang belum.

Direktur PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) Budi Satria menyatakan, saat ini bunga simpanan, terutama deposito, belum naik.

Namun, BTN membuka kemungkinan untuk melakukan penaikan.

Kenaikan itu kemungkinan dilakukan pada produk simpanan valas.

’’Perkiraan ada kemungkinan naik 25 basis poin. Tapi, akan kami hitung dulu,’’ ujar Budi, Kamis (7/6).

Sementara itu, Corporate Secretary PT Bank Mandiri Tbk Rohan Hafas menuturkan, pihaknya belum melakukan perubahan pada suku bunga simpanan.

’’Kami masih berupaya menahan bunga deposito sampai akhir tahun. Tetapi, nanti kami lihat lagi kondisi likuiditasnya. LDR (loan-to-deposit ratio) kami 90 persen,’’ jelas Rohan.

Di sisi lain, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) telah menaikkan suku bunga deposito rupiah 25 basis poin.

Namun, untuk bunga deposito valas, BCA belum berniat menaikkannya.

Sebab, risiko kredit valas lebih tinggi daripada kredit dalam mata uang rupiah.

’’Penetrasi untuk valas tidak begitu menarik,’ kata Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja.

Di sisi lain, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) telah bersiap menghadapi gejala pengetatan likuditas dengan menaikkan suku bunga penjaminannya.

Untuk simpanan rupiah di bank umum dan bank perkreditan rakyat (BPR), suku bunga penjaminan naik 25 basis poin.

LPS rate untuk simpanan rupiah di bank umum menjadi enam persen. Selanjutnya, di BPR, LPS rate menjadi 8,5 persen.

Adapun untuk simpanan valuta asing (valas), LPS rate naik 50 basis poin menjadi 1,25 persen.

Sekretaris LPS Samsu Adi Nugroho menjelaskan, pihaknya memperhatikan kondisi likuiditas ke depan sehingga LPS rate dinaikkan.

’’Respons kebijakan moneter menimbang stabilitas sistem keuangan ke depan,’’ ujar Samsu.

Kondisi likuiditas saat ini masih mencukupi. Namun, ke depan diperkirakan bank kesulitan likuiditas.

Selain karena potensi kenaikan pertumbuhan kredit, suku bunga acuan The Fed masih diekspektasikan naik 2–3 kali lagi tahun ini.

Kebutuhan pembayaran bunga utang, dividen, dan yield obligasi juga masih akan tinggi sepanjang tengah tahun. (rin/c22/fal)

Related Search

banner 468x60
Tags:
author

Author: