banner 728x90

Revitalisasi Fungsi Keluarga

Oleh: SADELY ILYAS*

Fenomena kenakalan remaja akhir-akhir ini banyak mengundang keprihatinan berbagai pihak. Di antaranya adalah Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Belitung, Drs. Irfani Mauran, (Belitong Ekspres, 3/8/2016), yang menyikapi minimnya pengawasan orang tua terhadap anak (remaja) di luar jam sekolah.Tidak adanya kontrol yang baik di lingkungan pergaulan remaja sehari-hari mau pun orang tua menjadi pekerjaan rumah yang besar untuk semua pihak.

Kepala Dinas Dikbud yang juga mantan guru ini menilai, kondisi seperti ini sangat memprihatinkan untuk anak-anak kita. Kalau hanya mengharapkan pengawasan sekolah, tapi pengawasan orang tua di rumah kurang, hal seperti ini mau bagaimana. Jadi peran orang tua sangat strategis. Peran serta orang tua untuk selalu melakukan pengawasan terhadap anak sangat diperlukan. “Saya sangat berharap kepada orang tua peduli dengan anak-anak mereka.

Bagaimanapun mereka adalah amanah yang dititipkan Allah Swt kepada kita, bagaimana menjaga amanah yang telah diberikan itu”, ujarnya.

Keprihatinan juga disampaikan oleh Ketua LSM P2H2P (Perlindungan Pemberdayaan Hak-Hak Perempuan) Kabupaten Belitung Timur (Beltim), Siti Khodijah, saat mengunjungi remaja pelajar yang terjaring razia mengkonsumsi obat batuk jenis komix, menuman keras jenis arak dan tuak, di Kantor Satpol PP Beltim.

Seperti diberitakan, sepekan terakhir, setidaknya banyak remaja yang tertangkap tangan sedang mengkonsumsi berbagai jenis obat batuk jenis komix. Mirisnya, terdapat remaja yang masih berstatus pelajar ikut terjerumus dalam masalah sosial tersebut (Belitong Ekspres, 9/8/2016).

Keprihatinan dari dua tokoh pendidik ini cukup beralasan. Sebab, masa depan bangsa ini terletak di tangan mereka. Terhadap kenakalan remaja ini, Siti Khodijah tidak menampik jika dikatakan orang tua kurang pengawasan. Orang tua diangap melalaikan kewajiban dalam pengawasan pergaulan anak di luar rumah. “Ada kelengahan orang tua.

Prinsipnya ketika kita ingin anak baik, kita orang tua harus menunjukkan baik juga. Orang tua harus menyadari apa kesalahan yang harus diperbaiki,”ungkapnya.

Keluarga adalah ‘madrasah’ pertama bagi tumbuh-kembangnya anak, dan orang tua adalah ‘guru utama’ dalam  perkembangan sosio-emosi remaja. Ironisnya, kenakalan remaja, disamping faktor lingkungan, namun lebih disebabkan oleh abainya peran keluarga terhadap pengawasan anak remaja.

Seperti dimaklumi, dalam konsep Islam, setiap manusia yang dilahirkan kedunia adalah fitrah. Fitrah artinya bersih dan suci; dalam pengertian condong kepada kebenaran. Namun, faktor orang tualah, atau –secara umum lingkungan– yang mempengaruhi kefitrahan anak tersebut.

Remaja adalah bagian dari tahap perkembangan seorang manusia. Di usia yang berkisar antara 11 sampai 19 tahun, pada masa ini terjadi perubahan yang sangat cepat terutama dalam aspek perkembangan pisik maupun psikis.

Beberapa ciri psikologis perkembangan pada masa ini dapat dilihat dari: kedekatannya pada teman sebaya yang berlainan jenis kelamin, rasa ingin tahu yang kuat, dan keinginan mencoba mengenai suatu hal yang dirasakan menarik. Sikap ‘mencari identitas diri’lebih signifikan ditonjolkan.

Dalam kondisi seperti ini dibutuhkan perhatian keluarga yang utuh. Keluarga yang harmonis biasanya akan memunculkan individu yang matang dan tidak bermasalah. Sedangkan keluarga yang pecah adalah pemicu yang paling kuat untuk menimbulkan tingkah laku menyimpang pada remaja. Secara fungsional lingkungan keluarga seharusnya menjadi tempat yang menyenangkan, tempat yang menjadi curahan jiwa para anggotanya khususnya sang remaja.

Seorang anak yang tumbuh menjadi remaja biasanya akan menemui masalah.Tentunya hal ini memerlukan penyelesaian yang segera sehingga perhatian keluarga (orang tua) amatlah penting. Jika kedua orang tua terlalu sibuk, maka otomatis perhatian pada anak berkurang. Konpensasi dari kurangnya perhatian orang tua pada anak (remaja) dapat berupa sang anak mencari perhatian di tempat lain, diluar rumah.

Abainya peran orang tua terhadap pengawasan anak, diyakini disebabkan fungsi keluarga kurang berperan. Maka dari itu, idealnya “revitalisasi fungsi keluarga’ atau refungsi keluarga menjadi signifikan diimplimentasikan oleh orang tua dalam wadah yang disebut keluarga tadi. Bagi anak-anak, fungsi keluarga itu mencakup:

1) Fungsi Reproduksi. Fungsi alami keluarga adalah melanjutkan keturunan untuk kelansungan hidup manusia, yang disebut reproduksi. Berlangsungnya fungsi ini berkaitan erat dengan ’aktivitas hubungan intim’ antara suami istri. Melalui ’ikatan pernikahan’ keluarga terbentuk secara sah, kunci terlaksanakan fungsi reproduksi terpebuhi secara tepat, wajar dan teratur dipandang dari segi moral (agama), kultural, sosial, maupun kesehatan.

2) Fungsi Sosialisasi. Keluarga merupakan wadah untuk anak belajar/bersosialisasi dengan lingkungannya. Artinya melalui interaksi sosial yang terjadi dalam keluargalah anak pertama kali akan mempelajari pola-pola tingkah laku, sikap keyakinan, cita-cita, dan nilai-nilai kemasyarakatan dalam rangka pengembangan kepribadiannya. Fungsi sosialisasi dalam  keluarga akan membentuk kepribadian sesuai dengan harapan orang tua. Peran orang tua sangat strategis “mengawal” anak remaja menuju kedewasaan.

3) Fungsi Afeksi. Idealnya dalam keluarga terjadi hubungan kasih sayang (afeksi). Dari hubungan  kasih sayang ini lahir sikap kebersamaan, persaudaraan, persahabatan, dan persamaan nilai dan norma keluarga. Dasar cinta kasih dan sayang penting bagi perkembangan pribadi anak-anak yang memang membutuhkan perhatian, dan kasih sayang dari orang tua. Hanya dengan kasih sayang, justru akan menumbuh-kembangkan sikap mental anak  lebih sempurna.

4) Fungsi Proteksi. Keluarga adalah wadah perlindungan (proteksi) dari berbagai gangguan/ancaman. Dalam keluargalah anak-anak akan merasa aman, dan tenteram. Oleh karena itu keharmonisan keluarga sangat perlu dijaga dan dipertahankan, sehingga anak-anak tidak terganggu baik secara pisik (sakit) maupun secara mental (kejiwaan).

5) Fungsi Pengawasan. Pengawasan sama halnya sebagai tindakan pencegahan sebelum terjadinya penyimpangan. Orang tua tidak tinggal diam. Anak diarahkan kepada perilaku dan karakter yang baik, sehingga mereka tahu hak dan tanggung jawab,  serta akibat-akibat negatif yang akan mereka perbuat. Contohnya: apa yang dibaca, ditonton anak, atau di mana dan dengan siapa ia keluar rumah dan bergaul atau mungkin apa yang ia kerjakan setelah pulang sekolah, harus mendapat kontrol orang tua dengan sungguh-sungguh.

6) Fungsi Rekreatif. Orang tua harus menata kehidupan rumah tangganya sedemikian rupa. Misalnya penataan rumah yang indah, bersih, rapi dengan berbagai hiasan yang menyejukan pandangan, sehingga anak-anak merasa betah di rumah.

7) Fungsi Religi atau Agama. Lembaga keluarga berfungsi religi, maksudnya keluarga dalam suasana tertentu dapat menjalankan sebagai sarana untuk menanamkan rasa keagamaan (religius) baik secara lahiriah dan batiniah. Selanjutnya orang tua perlu mensosialisasikan nilai-nilai Islam dalam keluarganya. Kadangkala shalat berjamaah ketika Maghrib dan Isya diringi dengan sedikit obrolan sesudahnya, atau obrolan ketika makan malam bersama lebih efektif dibandingkan dengan nasihat segudang namun diberikan dalam bentuk ‘penghukuman’ dan dalam susana yang tidak santai.

8) Fungsi Ekonomi. Setiap keluarga apapun bentuknya selalu memiliki dapur yang setiap hari mesti ‘berasap’ agar anggota kelurga  bisa mempertahankan hidup. Kegiatan ekonomi dalam keluarga yang meliputi: produksi (hasil), distribusi, dan konsumsi, di mana ayah lebih ditekankan untuk mencari nafkah, yang terkadang pihak ibu tidak lepas dari pekerjaan di luar rumah untuk menbantu mencukupi ekonomi keluarga.

Jika ke delapan fungsi di atas terpenuhi, maka peran orang tua dalam pembentukan kepribadian remaja akan mencapai kesempurnaan Misalnya saja, suasana hangat, komunikatif, saling pengertian akan membuat anak menjadi betah di rumah dan anak (remaja) akan bersikap terbuka kepada orang tuanya. Keterbukaan penting antara orang tua dan anak. Kondisi ini akan menimbulkan dialog yang sehat dan konstruktif (membangun), sehingga permasalahan yang dihadapi remaja dapat diakomodir dengan baik oleh para keluarga (orang tua). Seperti diungkapkan oleh Siti Khodijah, Ketua LSM P2H2P Beltim di atas, “ dengan menyadari sikap diri orang tua, dapat menentukan apa yang seharusnya dilakukan tanpa menyalahkan perbuatan dan sikap anak. Sehingga ketika melihat anak berbuat salah bukan kemarahan kepada anak, tetapi mengawasi anak dengan penuh kasih sayang.” Di sinilah substansi revitalisasi ‘fungsi keluarga’ yang dimaksud dari judul tulisan ini. Wallahu A’lam! (*)
*) Pemerhati dan praktisi pendidikan, tinggal di Tanjungpandan, Belitung.

Related Search

Rate this article!
Tags:
author

Author: