banner 728x90

Ritual Adat Buang Jong Harus Terus Dilestarikan

*Tradisi Penghormatan Leluhur dan Selamatan Laut

Buang Jong adalah ritual adat tradisi yang setiap tahunnya turun temurun dilaksanakan oleh Suku Sawang, Desa Selinsing, Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur (Beltim). Tradisi adat budaya itu adalah kearifan lokal guna menghormati leluhur dan keluarga yang telah mendahului, dan memohon keselamatan dan kesejahteraan saat melaut.

Laporan: Febrianta Belitung Timur

Pada tahun 2017 ini, rangkaian kegiatan ritual Buang Jong kembali digelar di halaman perkampungan Suku Sawang, Desa Selinsing, Kecamatan Gantung, Beltim, Sabtu (25/2) malam. Beberapa bagian ritual tradisi ini adalah Bediker, Naik Jitun, Mancing, Numbak, Campak Laut, hingga Buang Jong ke laut Pantai Mudong.

“Tradisi Buang Jong adalah kearifan budaya lokal yang harus terus dilestarikan agar generasi penerus, khsususnya dari Suku Sawang dapat mengetahui, menjaga, dan merwariskannya hingga ke anak cucu,” ungkap Wakil Bupati Belitung Timur (Beltim) Burhanudin mewakili Bupati Beltim Yuslih Izha saat menghadiri acara tersebut.

Pada kesempatan itu, Wakil Bupati Beltim yang akrab disapa Aan juga menyampaikan, bahwa tradisi Buang Jong juga dapat dijadikan momen Suku Sawang untuk selalu solid, bersemangat gotong royong, kebersamaan dan kekeluargaan.

“Kita patut berbangga, ritual Buang Jong telah mendapat sertifikat WBTB dari Kemendikbu RI 2016,” sebutnya.

Kelestarian Buang Jong, menurut Aan, harus menjadi tanggung jawab bersama. Pemkab Beltim tentunya sangat mendukung pelestarian tradisi budaya kearifan lokal ini melalui Disbudpar Beltim. Agenda ini harus tetap dan terus dimasukkan dalam event Visit Beltim selanjutnya.

“Ritual ini harus dikemas sedemikian rupa menjadi tontonan menarik dan tak terlipakan bagi wisatawan sehingga mempunyai nilai jual dan daya tarik tersendiri pariwisata Beltim khususnya wisata budaya,” ujar Aan.

Aan menambahkan, saat ini eksistensi Suku Sawang sudah didampingi LSM AIR Mata Air (Amair). Dan Keberadaannya bahkan sudah dikenal di Australia dan sebagian kawasan asia.

“Pada waktu pertemuan di Jakarta, saya hadir bersama Kades Selinsing, dan kebudayaan dan cerita suku sawang ini sudah kami sampaikan ke Kementerian terkait dan sangat diapresiasi,” sambung Aan.

Oleh karena itu, Aan juga mengimbau, sebagai upaya menjaga kelestarian tradisi adat budaya, generasi muda Suku Sawang diharapkan dapat berpartisipasi aktif dan proaktif dalam mengenyam pendidikan dasar dan pendidikan lebih tinggi.

“Ini juga penting dalam upaya kita melestarikan kebuayaan dan melestarikan keberadaan suku sawang di Beltim,” tandasnya.

seni-budaya-edisi-27-februari-2017

Foto bersama Wakil Bupati Beltim saat menghadiri acara Ritual Buang Jong yang dilaksanakan di halaman Perkampungan Suku Sawang, Desa Selinsing, Kecamatan Gantung, Beltim, Sabtu (25/2) malam.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Beltim Helly Tjandra mengatakan, pada suku lain, penghormatan leluhur biasanya dilakukan perorangan atau per keluarga. Berbeda dengan Suku Sawang yang melakukannya per kampung. Sembari berharap, pihaknya dapat lebih mengemas Buang Jong sehingga sinergi dengan pariwisata Beltim.

“Tradisi ini yang kami harapkan menjadi seni pertujukan adat dan budaya yang menarik,” harapnya.

Helly mengatakan, Buang Jong di Desa Selinsing saat ini sudah mendapatkan pengakuan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2016 dan mendapatkan sertifikat Warisan Budaya Tak Benda.

“Kami mau membangun perkampungan seperti layaknya Suku Sasak. Contohnya ada Ale Ale di Danau Toba atau Samosir. Kami pikir perlu satu area di mana penonton itu bisa duduk di semacam tribun, tempat terbuka semacam podium,” ingin Helly.

Tampak hadir jajaran pejabat Pemda Beltim, Forkominda, dan perwakilan FKPD Beltim, Ketua ASPPI Babel Agus Pahlevi dan jajarannya, Pemdes Selinsing dan Pemerintah Kecamatan Gantung, serta sejumlah tamu undangan dan ratusan warga.

Ratusan warga juga yang turut menyaksikan tradisi ritual Buang Jong. Seperti tahun lalu, tradisi yang bermakna memohon keselematan melaut ini digelar di lapangan terbuka yang berpasir. Warga yang terdiri tua, muda, anak anak, menyemut menyaksikan ritual tradisi budaya yang masih eksis dilestarikan ini.

Berbagai sesi ritual ditampilakan. “Ke Pulau Taun” satu di antaranya selain Naik Jitun, Mancing, Numbak Duyong, Main Ancak, dan Tari Sampan Geleng, yang semuanya menggambarkan aktifitas melaut Suku Sawang atau yang juga dikenal Suku Laut atau Suku Sekak. (**)

Related Search

Tags:
author

Author: