banner 728x90

Setiap Siswa Adalah Juara

ilustrasi siswa juara. Foto: Mesya Mohammad/ JPNN.com

ilustrasi siswa juara. Foto: Mesya Mohammad/ JPNN.com

Oleh: Sadely Ilyas Rahman*
Pensiunan Guru SMA Tanjungpandan

SEKARANG ini banyak sekolah-sekolah di negeri ini yang bukan membangun keunggulan anak melainkan malah membunuh banyak potensi-potensi yang ada pada mereka. Mayoritas sekolah di Indonesia berpredikat “sekolah robot” bukan “sekolah manusia” karena tidak menghargai kecerdasan yang dimiliki siswanya. Oleh karena itu, menurut Munif Chatib (2013), setiap anak apapun kondisinya, dilahirkan sebagai masterpiece (juara), asalkan anak mendapatkan penanganan dan metode pendidikan yang tepat. Bahkan sudah banyak bukti di dunia, orang-orang dengan keterbatasan pisik dan otak bisa sukses. Namun, untuk membuka gerbang kesuksesan itu, mereka tentu mendapatkan penanganan yang tepat. Yang jelas, Tuhan tidak pernah menciptakan produk gagal. Begitu ungkap pengarang buku best seller “Sekolahnya Manusia” dan “Gurunya Manusia” ini.

Inilah paradigma yang harus dikedepankan bahwa setiap anak itu dilahirkan dengan membawa potensi sebagai masing-masing, apapun kondisinya. Menurut konsultan pendidikan ini, kita mengakui tidak semua guru jeli untuk melihat kemampuan yang ada pada setiap anak. “Ada guru yang sulit untuk mengakui bahwa setiap anak adalah seorang cerdas (juara). Mengapa demikian? Menurut Munif, hal ini disebabkan guru sering punya hobi membangun ‘penghalang-penghalang’ dengan muridnya-muridnya yang memiliki keterbatasan. Karena itu, langkah pertama yang harus dilakukan adalah merobohkan ‘penghalang’ tersebut. Sesulit apapun jika dilatih dan diulang-ulang, pasti akan bisa”.

Kedua, yang harus dilakukan guru adalah memandang bahwa kemampuan setiap anak adalah seluas samudera. Menurutnya, makna kemampuan dalam arti luas mencakup kemampuan psikoafektif (bisa berupa respon, sikap), psikomotorik (misalnya dengan cara berkarya dan berani tampil di muka), dan psikokognitif. Sejauh ini, katanya, kemampuan kognitif anak selalu diukur dengan nilai-nilai di atas kertas. Ketiga, adalah memandang setiap anak cerdas dengan kecerdasan majemuk (multiple intellegence). Jika perlu diredefinisi, kecerdasan adalah kebiasaan atau perilaku yang diulang-ulang, sehingga akan memunculkan kreativitas, dan memiliki kemampuan menyelesaikan masalah (problem solving). Keempat, yang harus dilakukan guru adalah menemukan kemampuan pada setiap anak. Munif mengakui cara ini butuh kesabaran. Karena, “Yang bisa melakukan ini adalah guru yang mengajar dengan hati,” katanya.

Padahal, jika sekolah berlomba-lomba mengejar pradigma tersebut justru akan mempersempit makna kognitif itu sendiri. Kemampuan kognitif itu banyak; seperti kemampuan mengidentifikasi masalah, pemecahan masalah. Bukan hanya berbentuk nilai di atas kertas,” ujar lulusan “Distance Learning” di Supercamp Oceanside California USA milik Bobby de Porter ini.

Sesungguhnya kita tidak mengetahui bahwa setiap anak memiliki kecerdasan. Namun hanya ada beberapa kecerdasan yang dominan (menonjol) dalam diri seseorang. Misalnya anak memiliki kecerdasan berhitung atau matematika dianggap sebagai anak yang cerdas. Namun, survei membuktikan bahwa anak yang dulunya terkenal nakal dan bandel di kelas, justru pada saat bekerja ia bisa sukses atas orang-orang yang dikenal rajin dan pandai di kelas. Mengapa bisa begitu? Mungkin anak bandel bukan lantaran bodoh, tetapi memang tidak menonjol dalam kecerdasan matematis dan mungkin menonjol dalam jenis kecerdasan yang lain, kecerdasannya yang lain tidak tergalikan oleh guru. Mengutip Howard Gardner, dalam bukunya “The Multiple Intelelligence”, ada delapan macam kecerdasan. Antara lain, cerdas bahasa, cerdas gerak, cerdas bergaul, cerdas bermusik, cerdas gambar, cerdas angka, cerdas diri, dan cerdas alam.

Otak adalah komponen inti kecerdasan. Beberapa bagian otak pada anak-anak berkebutuhan khusus mungkin mengalami kerusakan. Namun, persentase yang tidak rusak itu masih sangat besar dan kemampuan pada bagian otak inilah yang perlu dilejitkan. Asalkan mendapatkan stimulus yang tepat, apapun kondisinya setiap individu memiliki kecerdasan.

Sudah banyak bukti jika kecerdasan itu tak tergantung dengan kondisi pisik, kondisi otak, hasil tes-tes standar. Misalnya, Albert Einstein yang baru bisa membaca saat duduk di kelas 4 sekolah dasar. Ada juga Stephen Hawking, ilmuwan yang cacat. Dan bahkan anak-anak yang mengalami cacat penglihatan (tuna netra), bisa terampil memainkan alat musik, dan sanggup melakukan apa yang dilakukan oleh anak-anak normal penglihatannya. Oleh karena itu, Untuk mengetahui kecerdasan pada anak, guru harus memahami gaya belajar siswanya. Kemudian membuat strategi pembelajaran yang tepat, selanjutnya wajib membuat rencana pembelajaran.

Dalam proses pembelajaran, guru tidak hanya berpusat pada kecerdasan secara kognitif saja. Tetapi berupaya menghargai setiap kecerdasan majemuk anak. Oleh karena itu, seorang peserta didik tidak hanya dinilai dari tinggi rendahnya nilai dalam suatu pelajaran tertentu, melainkan menghargai dan mensupport bakat dan kecerdasan yang dimiliki anak secara keseluruhan. Luasnya spektrum kecerdasan ini bisa disimpulkan, bahwa setiap anak pada dasarnya juara (baca: cerdas). Setiap kecerdasan ini semestinya dihargai oleh guru dalam proses pembelajaran. Untuk meraih prestasi dalam belajar, di sini guru memberi peluang untuk menggali potensi-potensi diri mereka. Karena itu, guru tidak dapat mengandalkan hanya satu metode mengajar untuk menggali potensi-potensi yang dimiliki anak didik, tetapi melalui berbagai gaya, pendekatan, dan strategi mengajar. Kebijakan guru dalam menggunakan metode, gaya, pendekatan dan strategi mengajar yang tepat akan memberikan kontribusi terhadap potensi-potensi dari multi-kecerdasan yang dimiliki siswa. Agar bisa menemukan kemampuan setiap anak, guru harus menjadi fasilitator, katalisator dan melakukan penilaian otentik. Upaya terakhir yang harus dipahami setiap guru adalah memahami bakat yang ada pada setiap anak. Bakat yang diasah terus-menerus akan menciptakan sosok profesional. Apalagi jika guru memahami bahwa potensi yang ada pada anak, kemudian dipadu dengan hobi sehingga dia berbakat, selanjutnya memiliki minat yang kuat, akhirnya akan menciptakan individu yang profesional.

Banyak murid yang mengalami kebingungan dalam menerima pelajaran dan tidak mampu mencerna materi yang diberikan. Tak jarang, justru mereka yang dituduh “bermasalah”. Ternyata, kegagalan siswa mencerna informasi dari gurunya disebabkan oleh ketidaksesuaian gaya mengajar guru dan gaya belajar siswa. Padahal, apabila gaya mengajar guru sesuai dengan gaya belajar siswa, semua pelajaran akan terasa sangat mudah dan menyenangkan, yang pada akhirnya terciptalah sebuah proses pembelajaran dimana 1) guru memandang semua siswanya pandai dan cerdas. 2) para siswanya merasakan semua pelajaran yang diajarkan mudah dan menarik. 3) di dalam kelas dan pembelajaran, suasananya selalu hidup, dan 4) saat keluar dari kelas, semua siswa mendapatkan kesan dan pengalaman yang luar biasa dan takkan terlupakan. 5) akhirnya semua anak menjadi cerdas dan juara.

Menurut Zulfikri Anas, Direktur Institut Indonesia Bermutu (IIB), “setiap individu terlahir membawa pesan/amanah yang berbeda dan unik sehingga kehadirannya tak tergantikan. Hidup adalah hasil kolaborasi bukan perlombaan yang saling mengalahkan. Allah tidak mengenal produk gagal. Untuk itu kewajiban kita sebagai pendidik untuk menerima setiap anak sebagai murid. Dalam rangka itulah kurikulum dibangun untuk menciptakan iklim atau suasana belajar setiap anak menemukan dan mengembangkan keunikan potensi dirinya itu sedini mungkin. Sehubungan dengan itu, kurikulum seyogianya memberikan ruang bagi setiap individu anak untuk mengeksplorasi potensinya agar kelak setelah dewasa tidak ada yang mengingkari amanah yang telah diterimanya sejak dari dalam kandungan”. Wallahu ‘Alam (*)

Related Search

Rate this article!
Setiap Siswa Adalah Juara,5 / 5 ( 1votes )
Tags:
author

Author: