banner 728x90

Sikap Generasi Muda Menghadapi Globalisasi

Sadely Ilyas

Oleh: SADELY ILYAS*

Dari berbagai dimensinya, era globalisasi akan terus menggelinding dan menerpa kehidupan bangsa Indonesia. Para generasi muda pun tidak luput dari pengaruh tersebut, karena globalisasi datang dengan kekuatan yang luar biasa. Dimensi-dimensi global dapat merambah hingga ke wilayah-wilayah terkecil dari kehidupan masyarakat. Pendek kata, era globalisasi hadir tanpa mampu di hadang, bahkan justru akan ‘mewarnai’ kehidupan generasi muda selanjutnya.

Derasnya arus globalisasi ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama di bidang informasi dan komunikasi serta perdagangan bebas dari berbagai Negara dan benua. Prof Dr HAR Tilaar menegaskan, arus globalisasi, telah menimbulkan apa yang disebut “kesadaran global”, yaitu bahwa kita merasa sebagai bagian dari umat manusia secara keseluruhan. Kesadaran global, menurut Tilaar dapat menjadikan manusia bingung tanpa arah. Hal ini terjadi karena arus globalisasi bukan hanya menghadirkan peluang, namun sekaligus tantangan. Peluang tersebut dapat dimanfaatkan untuk membangun kesejahteraan masyarakat apabila kita mampu menangkapnya, dengan kemampuan sumber daya manusia yang unggul. Jika tidak, maka peluang tersebut akan terlepas begitu saja, dan bangsa kita akan termarjinalkan dari dunia global. Inilah tantangannya!

Lebih dari itu, globalisasi memiliki ‘wajah gelap’ bagi negara-negara berkembang. Apa pasalnya? Pertama: globalisasi telah memukul negara dunia ketiga yang tidak memiliki penjaminan sosial yang memadai. Banjirnya barang-barang impor, termasuk beras impor dengan harga murah membuat para petani lokal lumpuh secara ekonomi. Apalagi alat pertanian seperti cangkul pun diimpor. Kedua: globalisasi menyebabkan kesalahan alokasi ‘resource’ antara barang privat dan barang publik. Pasar global mampu menciptakan kemakmuran, akan tetapi bungkam ketika bicara sosial kebutuhan sosial. Seperti misalnya, sebuah anak perusahaan otomotif penyedia onderdil mobil yang terutama adalah onderdilnya murah dan mampu bersaing. Mereka tidak memikirkan bagaimana pencemaran lingkungan akibat limbah yang dihasilkan dari pemakaian teknologi tersebut. Dalam hal ini, mereka tidak memikirkan akibat negatif dari produk-produknya. Profit oriented tampaknya menjadi alasan kuat mereka melakukan hal tersebut. Ketiga: globalisasi membuat ikatan-ikatan primordial menguat dan agresif. Ketidaksiapan menghadapi carut-marutnya masalah etnis, ideologi, ras, dan gaya hidup membuat kelompok-kelompok tradisional berpaling pada kemurnian tradisi. Mereka mengeras dalam menghadapi realitas global yang tidak dimengerti. (Ahmad Fedyani S dan Mulyawan Karim: 2008).

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menghadirkan berbagai kemudahan dalam menjalani kehidupan ini, generasi muda dituntut untuk mampu ‘survive’, karena menghindar dari era global bukanlah langkah terbaik. Segala aspek kehidupan manusia berjalan dengan sangat cepat, arus budaya global secara terus-menerus merambah ke berbagai elemen kehidupan masyarakat, dan diyakini budaya-budaya lokal akan tergusur jika tidak memiliki akar budaya yang kuat. Kondisi ini dapat kita lihat pada perilaku kehidupan masyarakat, di mana gaya hidup barat dapat dengan jelas berkembang. Dalam aspek budaya saja, misalnya. Perkembangan budaya global terus diwarnai oleh negara-negara “adikuasa”, sedangkan negara-negara berkembang tidak mampu menghalanginya. Pada situasi ini kita dapat menyaksikan, “campur tangan” negara-negara adikuasa atas berbagai konflik yang terjadi di berbagai Negara berkembang.

Hal yang mengkhawatirkan seiring dengan perkembangan globalisasi, — sebagai bagian dari ekses perkembangan budaya global — adalah gaya hidup “hedonisme” yang mulai menjangkiti masyarakat, termasuk para pelajar remaja. Karena realitas membuktikan, generasi muda inilah yang pada dasarnya menjadi “sasaran tembak” dari gaya hidup seperti ini.        Sempalan pemikiran dari paham hedonisme adalah pola materialisme. Gagasan utamanya adalah bahwa pada dasarnya alat pokok untuk memenuhi kepuasan manusia adalah materi, manusia tidak lagi memiliki hakikat sebagai manusia jika melepaskan diri dari materi (Wahyudi: 2007).

Pola hidup seperti ini akan berpengaruh negatif bagi generasi muda secara umum. Sebab mereka akan tumbuh menjadi generasi yang materialistis, mengejar kesenangan dan kenikmatan semu. Padahal kehidupan di dunia ini bukan hanya berorientasi untuk kepentingan duniawi semata. Namun menuntut keseimbangan nilai material dan spiritual, jasmani dan rohani yaitu nilai-nilai yang berhubungan dengan unsur keagamaan (Ketuhanan) seperti; ketenangan jiwa, keihklasan, kejujuran, sikap bertanggung jawab, menghormati orang lain, serta akhlak dan budi pekerti yang santun. Oleh karenanya, generasi muda perlu dibina dan diarahkan ke hal-hal yang baik agar tidak terjerumus pada gaya hidup hedonis yang fatal.

Pada kondisi dan situasi yang bagaimana pun, generasi muda adalah aset bangsa yang dituntut memiliki sikap kritis terhadap berbagai perkembangan yang terjadi. Sikap ini penting bagi generasi muda umumnya dan para remaja pelajar khususnya. Karena tidak semua yang dijumpai dari luar (baca: lingkungan sosial) akan bernilai positif bagi kehidupan generasi muda. Waspada terhadap berbagai keadaan dan perilaku yang mempengaruhi mereka, seperti pergaulan bebas, minuman keras, narkoba, dan zat adiktif lain yang merusak perkembangan pelajar remaja mesti dihindari dan diberantas. Sikap ini penting sebagai langkah kehati-hatian dalam bertindak; sebab sekali generasi muda terjerumus ke dalam kubangan narkoba dan seks bebas, akan terasa sulit kembali pada kondisi semula.

Sikap kritis bukan berarti selalu mempertanyakan apa-apa yang terjadi di sekitar secara emosional, melainkan mampu menyikapi yang terjadi itu dengan sikap obyektif dan rasional. Sikap kritis juga berarti mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi sebagai akibat dari apa yang sekarang terjadi. Begitupun dengan waspada, bukan berarti selalu curiga terhadap apa-apa yang terjadi di sekitarnya. Waspada berarti selalu ‘mawas diri’ dan kemudian secara mandiri mampu memecahkan persoalan yang dihadapinya.

Segala peristiwa yang terjadi di lingkungan kita, terkadang tidak terlepas dari sifat ‘menipu’. Artinya, sekilas tampak baik bahkan enak untuk dirasakan. Tetapi seringkali berdampak negatif bahkan akan mencelakakan diri kita, apalagi dalam kehidupan era informasi seperti yang terjadi sekarang. Penggunaan media sosial saja, misalnya. Jika tidak digunakan secara porposional, niscaya akan mencelakakan si pengguna. Contoh lain, penyalahgunaan narkoba. Barang haram ini sesaat tampak nikmat, akan tetapi setelah kecanduan justru akan menjerumuskan diri pada lembah kehancuran hidup. Tidak ada ceritanya para pengguna dan pecandu narkoba hidup sehat dan bahagia, yang ada adalah malapetaka. Begitu pun dengan kehidupan seks bebas yang justru akan menjerumuskan para pelakunya kepada penyakit mematikan seperti HIV/AIDS.

Sikap kritis dan waspada generasi muda seyogianya dikembangkan dengan tetap berpijak pada norma-norma dan budaya yang berlaku. Sebab, jika tanpa “pijakan” yang jelas, maka generasi muda akan menjadi manusia yang bimbang dan bingung (stress) menentukan nasibnya di masa depan.

Jangan sampai generasi muda hidup sebagai “parasit” pada orang lain. Karena itu mereka harus berjiwa mandiri. Siapa manusia mandiri? yakni manusia yang mampu hidup dengan berbagai kompetisi dan persaingan. Manusia mandiri adalah manusia yang berpijak pada akar budaya lokal dan nasional. Arus globalisasi dapat melahirkan marginalisasi budaya yang pada akhirnya akan membuahkan kloningsasi budaya, yang berarti hilangnya nilai budaya yang otentik dan hilangnya identitas suatu bangsa. (HAR Tilaar, 1999).

Masuknya kejahatan-kejahatan transnasional, terorisme global, jaringan peredaran narkoba internasional, dan budaya seks bebas merupakan tantangan generasi muda. Ini semua adalah ekses globalisasi yang harus dihadapi oleh setiap bangsa. Dalam konteks ini, masuknya budaya Barat dalam kehidupan masyarakat kita juga telah membawa perubahan yang sangat besar terhadap pola dan gaya hidup dari berbagai elemen masyarakat, termasuk generasi muda.

Hingga hari ini, anggapan sebagian masyarakat bahwa meniru Barat itu dianggap sebagai “perilaku modern”. Pada hal perilaku yang datang dari Barat (baca: westernisasi), belum tentu modernisasi. Misalnya, jika tidak minum minuman beralkohol dianggap ketinggal zaman. Berbusana tidak memperlihatkan aurat (bagi wanita) dianggap kampungan. Pelajar tidak merokok dibilang banci oleh teman-temannya. Ini semua pemaknaan yang salah. Modernisasi tidak bisa dimaknai sebagai westernisasi (gaya hidup kebarat-baratan). Modernisasi adalah kemajuan yang dimaknai berpikir dan berperilaku rasional; karena tidak semua yang datang dari Barat itu baik dan menguntungkan, bagi budaya timur. Sisi-sisi negatif yang tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur budaya kita, wajib kita tinggalkan. Ambil sisi positif, seperti kemampuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kerja keras, berpikir logika, dan senang membaca.

Sikap generasi muda terhadap globalisasi, semestinya tidak langsung menerima secara mentah-mentah. Tetapi dicerna, difilter dan diseleksi melalaui pemikiran keritis dan sikap waspada. Ini semua kita lakukan agar generasi muda terhindar dari perbuatan yang bertentangan dengan nilai, norma, serta adat istiadat ketimuran! Wallahu A’lam (*)

*) Pemerhati pendidikan, pensiunan Guru SMA Negeri 2 Tanjungpandan, Belitung

Related Search

Tags:
author

Author: