banner 728x90

Sikap Referendum Kata Tare: Sangat Berlebihan

Muchtar motong

TANJUNGPANDAN – Ingar bingar referendum mendapat tanggapan dari Tokoh Presidium Pembentukan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) Muchtar Motong. Menurutnya, referendum bukan sesuatu hal yang aneh meski masih terkesan asing di masyarakat.
Tare sapaan akrabnya menjelaskan, referendum merupakan sikap politik ataupun gerakan politik yang dilakukan oleh mayoritas masyarakat pada suatu wilayah. Itu untuk menginginkan atau tidak mengingingkan suatu keputusan atau kebijakan pemerintah, di mana akhirnya mampu mempengaruhi konstitusi.
Katanya, referendum yang berkembang di masyarkat baik itu melalui media sosial maupun media cetak. Di mana ada kelompok Komite Perjuangan Referendum yang ingin Belitung pisah dari Provinsi Kepulauan Babel, apabila kapal isap masih beroperasi di wilayah Pulau Belitong.
“Saya pikir semangat untuk memisahkan diri itu sangat berlebihan. Saya sendiri melihat sebagai salah satu tokoh presidium yang masih berperan aktif tidak ada semangat untuk meninggalkan Babel sebagai provinsi ini,” ujarnya kepada Belitong Ekspres Jumat (8/6) akhir pekan memarin.
Menurut Tare, titik permasalahan ketika mereka tidak menginginkan adanya kapal isap yang beroperasi di perairan Pulau Belitung. Sebab, mereka sudah merasa nyaman dan memiliki harapan pada sektor lain yang lebih berkepanjangan untuk perekonomian masyarakat.
“Dalam pemikiran kami-kami dulunya, berdirinya Provinsi Babel ini, bagaimana agar pembangunan bisa cepat, birokrasi menjadi pendek, membangun daerah dan mensejahterahkan masyarkat. 18 tahun berdirinya provinsi Babel mulai terlihat apa yang menjadi harapan kami meski hal itu masih membutuhkan proses,” papar Tare.
“Kita juga tidak pernah bermimpi kalau sektor tambang timah menjadi kekuatan untuk menopang perekonomian masyarakat, ┬ákarena masa timah kita anggap sudah selesai,” sambungnya sembari menceritakan awal mula berdirinya Provinsi Babel.
Tare melanjutkan, ini yang menjadi tidak sejalan ketika Gubernur menyebutkan kalau tambang distop perekonomian Bangka Belitung akan kolap. Lantas, pandangan seperti ini lah tambah Tare, menunjukkan bahasa yang lemah dari seorang pemimpin.
Padahal dalam janji politiknya gubernur lebih menawarkan bagaimana harga lada menjadi baik, sektor perkebunan di tingkatkan. Selain itu, sektor perikanan dan kelautan, sektor pariwisata, jasa, industri dan perdagangan untuk menopang ekonomi masyarkat.
“Tiba-tiba dikatakan tanpa tambang perekonomian Babel akan kolap ini memperlihatkan kalau tambang sebagai primadona. Lantas, hal ini tidak sesuai dengan janji politiknya sehingga memicu kemarahan di masyarakat,” imbuhnya.
Tare menceritakan, lahirnya provinsi Babel itu dengan perjuangan sejak era tahun 50 berlanjut ke era tahun 70 dan puncaknya pada tahun 1999 – 2000.
Oleh sebab itu kalau berbicara referendum untuk memisahkan diri itu berlebihan, tetapi kalau referendum meminta jejak pendapat adanya tambang atau tidak ada tambang hal itu baru menarik.
“Jadi saya berpikir terlalu berlebihan jika ingin memisahkan diri dari Provinsi Babel dan masyarakat jangan salah analogi tentang referendum memisahkan diri atau referendum meminta jejak pendapat. Karena Provinsi Babel lahir dengam penuh perjungan apa lagi saat ini untuk memisahkan diri sangatlah sulit dan masyarakat secara keseluruhan belum tentu menginginkan hal tersebut,” tutupnya. (rez)

Related Search

Tags:
author

Author: