banner 728x90

Tantangan Guru Di Era Revolusi Industri 4.0

guru dan murid berdiskusi

ilustrasi guru dan murid. Foto: JPNN.com

Oleh: Rizki Aditia Pratama
Guru SMA Negeri 1 Gantung

belitongekspres.co.id, POTRET kehidupan guru tidak lagi sesuram masa lalu. Pada masa lalu, guru digambarkan sebagai sosok yang sederhana, status sosial menengah, dan jauh dari kehidupan yang mewah.

Seiring pemberian tunjangan sertifikasi kompetensi guru, kehidupan guru menjadi berubah drastis. Dampak pemberian tunjangan sertifikasi kompetensi guru, status sosial guru semakin menggembirakan.

Tidak ada lagi yang akan menyangkal  hakikat dari peran seorang guru. Sistem pendidikan nasional yang merupakan salah satu garda terdepan pencapaian kesejahteraan bangsa, sedikit banyak ditentukan oleh kualitas kesejahteraan guru, baik guru di tingkat pendidikan dasar, maupun menengah.

Maka tak heran jika sistem pendidikan kita menempatkan pekerjaan guru sebagai suatu tugas yang harus bekerja secara profesional.

Tujuan pemerintah memberi penghargaan berupa pemberian tunjangan sertifikasi kompetensi guru yaitu untuk meningkatkan kesesejahteraan. Peningkatan kesejahteraan diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan.

Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 1 ayat 1, dinyatakan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, dan mengevaluasi siswa pada pendidikan anak usia dini, jalur pendidikan dasar dan menengah.

Tugas pengajaran, pendidikan, dan kepemimpinan, tentu harus ditopang oleh berbagai kompetensi. Seperti pernah diungkapkan oleh Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan, Sumarna Surapranata (2015), bahwa program sertifikasi kompetensi guru berhasil meningkatkan kesejahteraan guru, tetapi belum mampu meningkatkan mutu dan hasil pembelajaran.

Sertifikasi kompetensi guru bertujuan meningkatkan motivasi, meningkatkan keterampilan, dan menarik minat lulusan terbaik untuk menjadi guru.

Pernyataan Sumarna Surapranata tersebut, hendaknya menjadi lonceng peringatan bagi guru di seluruh Indonesia. Sebab, harapan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan guru yang berdampak positif bagi peningkatan mutu dan hasil pembelajaran.

Karena itu, guru sudah harus merevolusi mentalnya agar berubah menjadi guru profesional. Guru profesional harus bekerja secara profesional.

Kemampuan mengajar guru yang sesuai dengan tuntutan standar tugas yang diemban memberikan pengaruh positif bagi hasil yang ingin dicapai seperti perubahan hasil akademik, sikap, keterampilan peserta didik, dan perubahan pola kerja guru yang makin meningkat.

Sebaliknya jika kemampuan mengajar yang dimiliki guru sangat sedikit akan berakibat bukan saja berdampak pada prestasi belajar anak didik, tetapi juga menurunkan tingkat kinerja guru itu sendiri yang berdampak kualitas pembelajaran yang semakin menurun.

Untuk itu kemampuan mengajar guru menjadi sangat penting dalam menjalankan tugas dan fungsinya, tanpa kemampuan mengajar yang baik sangat tidak mungkin guru mampu melakukan inovasi atau kreasi dari materi yang ada dalam kurikulum, yang pada gilirannya memberikan rasa bosan bagi guru maupun siswa untuk menjalankan tugas dan fungsi masing-masing.

Proses pembelajaran di sekolah tidak lebih merupakan rutinitas pengulangan dan penyampaian (informatif) muatan pengetahuan yang tidak mengasah siswa untuk mengembangkan daya cipta, rasa, karsa, dan karya serta kepedulian sosial. Guru menyelenggarakan pembelajaran tahun ini masih seperti tahun-tahun sebelumnya.

Sementara, implementasi pendidikan dan pembelajaran masih dibatasi dinding-dinding ruang kelas yang tidak memungkinkan anak didik mengeksplorasi lingkungan pendidikan yang sesungguhnya, ialah keluarga, masyarakat, dan sekolah.

Guru menyelenggarakan pembelajaran selalu sebagaimana biasanya dan bukan sebagaimana seharusnya, miskin inovasi dan kreasi.

Oleh karena itu, aspek-aspek teladan mental guru berdampak besar terhadap iklim belajar dan pemikiran peserta didik yang diciptakan guru.

Guru harus memahami bahwa perasaan dan sikap peserta didik akan berpengaruh kuat pada proses belajarnya. Agar guru mampu berkompetensi, maka guru harus memiliki jiwa inovatif, kreatif dan kapabel; serta dapat meninggalkan sikap konservatif, tidak bersifat defensif tetapi mampu membuat anak lebih bersifat ofensif (Sutadipura; 1994).

Penguasaan seperangkat kompetensi keterampilan proses dan  kompetensi penguasaan pengetahuan merupakan unsur yang dikolaborasikan dalam bentuk satu kesatuan yang utuh dan membentuk struktur kemampuan yang harus dimiliki seorang guru.

Sebab kompetensi merupakan seperangkat kemampuan guru searah dengan kebutuhan pendidikan, tuntutan masyarakat, serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kompetensi keterampilan proses adalah penguasaan terhadap kemampuan yang berkaitan dengan proses pembelajaran.

Kompetensi dimaksud meliputi kemampuan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran, kemampuan dalam menganalisis, menyusun program perbaikan dan pengayaan, serta menyusun program bimbingan dan konseling.

Sedangkan kompetensi penguasaan adalah penguasaan terhadap kemampuan yang berkaitan dengan keluasan dan kedalaman pengetahuan guru.

Sedangkan kompetensi dimaksud meliputi pemahaman terhadap wawasan  pendidikan, pengembangan diri dan profesi, pengembangan potensi peserta didik, dan penguasaan akademik.

Menghadapi era revolusi industri 4.0 merupakan tantangan berat bagi guru Indonesia. Mengutip Jack Ma dalam pertemuan tahunan World Economic Forum 2018, pendidikan adalah tantangan besar abad ini.

Jika tidak mengubah cara mendidik dan belajar-mengajar, 30 tahun mendatang kita akan mengalami kesulitan besar.

Pendidikan dan pembelajaran yang sarat dengan muatan pengetahuan mengesampingkan muatan sikap dan keterampilan sebagaimana saat ini terimplementasi, akan menghasilkan anak didik yang tidak mampu berkompetisi dengan mesin.

Dominasi pengetahuan dalam pendidikan dan pembelajaran harus diubah agar kelak anak-anak muda Indonesia mampu mengungguli kecerdasan mesin sekaligus bijak menggunakan mesin untuk kemaslahatan Siapkah guru kita menghadapai era revolusi industri 4.0 ketika masih disibukkan oleh beban penyampaian muatan pengetahuan dan ditambah berbagai tugas administratif?

Saat ini yang dirasakan guru kita beban kurikulum dan beban administratif yang terlalu padat sehingga tidak lagi memiliki waktu tersisa memberi peluang anak didik menjelajahi daya-daya kreatif mereka menghasilkan karya-karya orisinal.

Akibatnya, interaksi sosial anak didik terbatasi, daya kreasinya terbelenggu, dan daya tumbuh budi pekerti luhurnya bantet. (Ki Sugeng Subagya, KR, 9/3/2018).

Senada dengan itu pakar pendidikan Univertitas Negeri Malang, Prof Dr Anshari (2015), menegaskan bahwa revolusi mental guru mesti diwacanakan.

Mental para guru harus diubah. Banyak guru yang hanya menunaikan tugas dan kewajiban, tetapi tidak memiliki kepedulian yang tinggi terhadap mutu pendidikan.

Mental guru yang hanya mengajar, tetapi tidak mendidik perlu direformasi. Revolusi mental guru merupakan harga mati bagi peningkatan mutu pembelajaran.

Sekolah bukanlah tempat isolasi para peserta didik dari dunia luar, justru sekolah adalah jendela untuk membuka dunia sehingga para siswa mengenali dunia.

Untuk menjadikan sekolah sebagai jendela dunia bagi para peserta didik, guru harus memiliki kompetensi penyajian pembelajaran yang inovatif.

Pembelajaran yang disajikan harus mengarah pada pembelajaran yang ‘joyfull and inovatif learning’, yakni pembelajaran yang memadukan ‘hands on and mind on, problem based leraning dan project based learning’.

Dengan pengemasan pembelajaran yang joyfull dan inovatif learningakan menjadikan peserta didik lebih terlatih dan terasah dalam semua kemampuannya, sehingga diharapkan lebih siap dalam menghadapi perkembangan zaman dengan era revolusi industri 4.0. Semoga! (*)

Related Search

Tags:
author

Author: