banner 728x90

Tertangkapnya Orang Penting

banner 468x60

belitongekspres.co.id, BAGAI pagar makan tanaman adalah peribahasa yang kerap terjadi dalam realitas kehidupan sehari-hari. Peribahasa ini mempunyai arti penjaga atau pengawas yang mengambil sesuatu yang seharusnya dijaga. Hal itulah yang terungkap saat operasi tangkat tangan (OTT) KPK menjerat Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Pameksan Rudy Indra Prasetya (RUD). Sebagai penegak hukum, Rudy mestinya menegakan aturan, namun dia justru memeras Pemkab Pamekasan sebesar Rp250 juta hingga terjaring OTT KPK, Rabu (2/8).

banner 300x250

KPK juga menangkap Bupati Pamekasan Achmad Syafii, Kasi Intel Kejari Pamekasan Soegeng Prakoso, Kasipidsus Eka Hermawan, dan staf Kejari Indra Pramana. Penangkapan orang-orang penting itu diduga terkait penyimpangan alokasi dana desa (ADD) di Pamekasan tahun anggaran 2015–2016. Ironisnya lagi penyimpangan dana proyek desa itu nilainya ”hanya” Rp100 juta sedangkan dana suap yang diminta jaksa mengamankan kasus itu Rp250 juta.

Komisioner Komisi Kejaksaan Erna Ratnaningsih sampai heran mengapa banyak jaksa korupsi dan ia mengku belum tahu apa penyebabnya. Sebenarnya tidak perlu heran. Korupsi (bahasa Latin: corruptio dari kata kerja corrumpere yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok). Secara harfiah, korupsi adalah perilaku pejabat publik, baik politikus/politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka.

Korupsi merupakan penggunaan yang korup dari derived power atau sebagai penggunaan secara diam-diam kekuasaan yang dialihkan berdasarkan wewenang yang melekat pada kekuasaan itu atau berdasarkan kemampuan formal, dengan merugikan tujuan kekuasaan asli dan dengan menguntungkan orang luar atas dalih menggunakan kekuasaan itu dengan syah. Menurut seorang tokoh bijak yang hidup di abad ke-11, korupsi terjadi karena buruknya hukum dan buruknya manusia. Yang pertama terkait dengan atribut kelembagaan (institutional attributes) dan yang kedua dengan atribut masyarakat (societal attributes).

Buruknya hukum di antaranya disebabkan oleh tiadanya tindakan hukum yang keras terhadap pelaku korupsi. Akibatnya pelaku korupsi tidak takut dan selalu menggunakan celah dan kesempatan yang ada. Dia tahu kalau tertangkap toh tidak ada hukuman berat menanti. Hal ini pada gilirannya menimbulkan kelangkaan lingkungan yang subur untuk prilaku anti korupsi. Lingkungan yang ada cenderung menyalahgunakan kekuasaan untuk mendapatkan keuntungan dengan segala cara. Hal ini ditunjang pula oleh buruknya atribut sosial masyarakat yang gemar budaya instan asal cepat dapat atau cepat urusan dengan menyuap pun tidak masalah.

Bagaimana dorongan untuk korupsi dapat dikurangi? Dengan jalan meningkatkan ancaman. Korupsi adalah persoalan nilai. Nampaknya tidak mungkin keseluruhan korupsi dibatasi, tetapi memang harus ditekan seminimum mungkin, agar beban korupsi organisasional maupun korupsi sestimik tidak terlalu besar sekiranya ada sesuatu pembaharuan struktural, barangkali mungkin untuk mengurangi kesempatan dan dorongan untuk korupsi dengan adanya perubahan organisasi.

Di lain pihak, celah-celah yang membuka untuk kesempatan korupsi harus segera ditutup, begitu halnya dengan struktur organisasi haruslah membantu kearah pencegahan korupsi, misalnya tanggung jawab pimpinan dalam pelaksanaan pengawasan melekat, dengan tidak lupa meningkatkan ancaman hukuman kepada pelaku-pelakunya.

Namun elemen yang terpenting sebenarnya adalah meningkatkan nilai moral dan religiutas para penyelenggara negara. Sistem bisa diakali oleh manusianya. Maka manusinya yang harus dibenahi kesadarannya betapa merusaknya korupsi bagi bangsa dan negeri ini ataupun bagi bangsa apa saja. VOC yang pernah demikian berkuasa di zaman penjajahan Belanda akhirnya runtuh bukan oleh perang. Tetapi oleh prilaku korupsi para pengelolanya.

Kasus tertangkapnya orang-orang penting di Pamekasan Madura ini mengingatkan kita akan bahaya laten korupsi di sekitar kita. Sebenarnya boleh jadi banyak yang terus melakukan korupsi secara diam-diam di negeri ini tapi belum ketahuan. Kita kesal mengapa ini terus terjadi? Bak menemukan kebenaran sebuah judul novel bahwa kita sedang tinggal di negerinya para bedebah.***

Related Search

banner 468x60
Rate this article!
Tags:
author

Author: