banner 728x90

Tolak TI Dekat Sekolah dan Perusak Mangrove!

banner 468x60

*Merusak Sumber Air dan Sebabkan Banjir
*Jawahir dan Kaling Diteror
*Polres Bangka bersama Polsek Sungailiat Gelar operasi

Polres Bangka bersama Polsek Sungailiat menertibkan aktivitas tambang inkonvensional (TI) illegal yang beraksi di area hutan mangrove dan daerah aliran sungai Jalan Laut. Penertiban dilakukan Sabtu (11/3/2013) lalu dan berhasil diamankan sejumlah peralatan TI milik para penambang.

banner 300x250

SUNGAILIAT – Warga Lingkungan Jalan Laut Kelurahan Matras Kecamatan Sungailiat menegaskan penolakan aktivitas Tambang Inkonvensional (TI) jenis rajuk yang beroperasi di hutan mangrove dan daerah aliran sungai. Penolakan juga didasari, karena warga tidak ingin sumber air mereka tercemar,ancaman bahaya banjir serta salah satu sekolah di dekat lokasi tambang jadi rusak.? ?

Dalam pertemuan tampak hadir Ketua DPRD Bangka Parulian, Camat Sungailiat Kusyono Aditama, Kapolsek Sungailiat AKP Yudha, Sat Pol PP Kabupaten Bangka, perwakilan Walhi Babel, Kaling Jalan Laut Feriyanto dan puluhan warga Lingkungan Jalan Laut tolak TI rajuk. Kaling Jalan Laut yang menjadi moderator pertemuan, Sabtu malam (11/2) di Balai Pertemuan Jalan Laut menyatakan, penolakan sudah lama dilakukan. Termasuk pernah dilakukan pada tahun 2012 lalu.

Menurutnya, warga Jalan Laut mayoritas adalah petani sehingga tidak menginginkan tambang. Pihaknya sudah berusaha melakukan peringatan atas aktivitas penambangan namun tetap saja aktivitas berlanjut. Untuk itu lah warga mengundang pihak terkait agar duduk bersama mencari solusi sebagai pencegahan tindakan anarkis.

Salah satu warga Jalan Laut, Ahmad Jawahir mengatakan ?warga Jalan laut telah menolak adanya tambang pada tahun 2009 lalu sempat mencuat lagi sehingga terjadi lagi penolakan tahun 2012. Di tahun 2017 kembali ada aktivitas tambang dan kembali warga menyatakan penolakan.

lingkungan-edisi-13-maret-2017-TI

Alasan warga menolak karena selama ini sangat sulit untuk mencari air bersih dan baru sekarang mulai dapat. Namun apabila ada penambangan hingga merusak mangrove maka dipastikan akan membuat sumber air warga jadi keruh lagi. Hal lainnya, ada SD yang dekat dengan penambangan dengan jarak sekitar 50 meter.  “Masalah lainnya banjir itu. Hujan kecil kemarin saja banjir, apalagi dengan tidak ada bakau nanti. Jadi masalah air bersih, banjir, terganggunya anak sekolah itu sebetulnya dikeluhkan warga,” sebut Jawahir.

Aktivitas TI rajuk yang kembali terjadi telah beraktivitas sekitar 2 bulanan belakang. Padahal ia sebutkan, selama ini warga Jalan Laut telah bersepakat tidak ada lagi tambang. Pihak yang melakukan penambangan adalah warga dari luar Jalan Laut sedangkan dari warga Jalan laut dengan sadar menolak karena alasan banjir dan faktor lainnya.  “Warga ini sebenarnya menahan, tapi alhamdulillah masih mendengar nasehat jangan anarkis,” sebutnya.

Masalah adanya oknum yang membekingi tambang itu ia menyatakan tidak bisa menyebutkan siapa, tetapi ada. Ia sendiri mengaku banyak mendapat sms teror dari oknum yang tidak suka dengan penolakan warga. Untuk itu ia harapkan tidak ada lagi penambangan agar warga tetap aman, dan tentram, tidak terganggu air tercemar ataupun khawatir akan banjir.?

Susah kita dapat air bersih, pas dapat jadi keruh kembali karena tambang merusak mangrove dan menyebabkan banjir, anak sekolah kami terancam tenggelam. Saya dan pak Kaling diteror, saya dibilang dapat sogok.

Sejauh ini warga kami masih denger, kalau tidak, bisa saja ribut.? Kita ini orang jalan laut, tapi yang nangkring di situ orang lain. Dipikirnya orang jalan laut takut. Kami tidak iri mereka dapat timah banyak tapi kami memang tidak mau ada penambangan karena khawatir banjir dan lainnya.? Kami harap tidak sekedar kesepakatan malam ini, tapi benar-benar tak ada lagi tambang itu,” tegasnya.

Camat Sungailiat Kusyono Aditama mengatakan, pihaknya ikut menghadiri pertemuan atas undangan warga Jalan Laut.
Kesimpulan pertemuan telah jelas bahwa warga Jalan Laut ingin tidak ada lagi kegiatan tambang di Lingkungan Jalan Laut dengan alasan rusaknya hutan mangrove, tercemarnya air bersih, ancaman banjir dan sekolah terancam rusak. Ia juga meminta warga membuatkan berita acara hasil pertemuan dan disampaikan ke pihak terkait di Kabupaten Bangka.  “Sehingga harapan masyarakat tidak ada lagi pertambangan, begitu kesimpulannya. Kami sangat mendukung karena ini warga kami, cuma itu tadi kami tidak bisa melakukan tindakan yang sifatnya represif hanya melakukan koordinasi dengan pihak Sat Pol PP, kepolisian, TNI dan segala macemnya,” sebut Kusyono Aditama.

Sementara itu Kapolsek Sungailiat AKP Yudha mengatakan pihaknya pada Sabtu pagi hingga siang telah melakukan tindakan tegas bersama Polres Bangka atas aktivitas TI rajuk illegal tersebut. Diamankan barang bukti sejumlah mesin peralatan TI dari ponton-ponton pertambangan illegal hujan manggrove Jalan Laut.

“Kami turun ke lapangan bersama Polres dan situasinya memang parah, sudah merusak hutan maggrove dan berdampak secara keseluruhan bagi ekosistem dan warga sekitar. Kami sudah mengangkut segala mesin di situ. Apa pun bentuknya saya menyatakan tidak ada lagi orang lagi yang boleh nambang di situ.  Kami melaksanakan pembersihan dan itu sudah tugas kami. Kami sudah melaksanakan tindakan preventif, preemtif dan terakhir refresif,” kata Yudha,

Saat ini sedang dilakukan penyelidikan oleh Polres Bangka melalui unit Tipiter Satreskrim Polres Bangka untuk mencari tahu siapa yang berada di belakang penambangan tersebut. Kedepannya pihak kepolisian pun menginginkan tidak ada lagi penambangan di daerah tersebut.  “Kita akan berupaya semaksimal mungkin dengan bantuan dari tiga pilar antara pemerintah, masyarakat dan petugas keamanan untuk bersama-sama membantu. Saling menjaga, dan memonitor apabila ada kejadian dan aktivitas kembali di daerah tersebut segera dilaporkan ke pihak berwajib. Jangan ada melakukan tindakan anarkis,” tegasnya.

Tindakan tegas dilakukan agar tidak ada lagi penambangan dan perlakuan sama semua kalangan masyarakat di mata hukum. Sementara yang diamankan baru peralatan, pihaknya belum menemukan para pekerja TI rajuk sehingga akan dikembangkan pihak-pihak di belakang aktivitas TI tersebut dan akan dilakukan pemanggilan.  “Silahkan kalau ada yang lihat dilaporkan saya akan datang dan angkut. Kita sudah baik-baik tapi tidak bisa jadi jangan salahkan kami untuk keras karena sebelumnya sudah ada himbauan,” pungkas mantan Kasat Sabhara Polres Bangka ini.

Ketua DPRD Siap Hadapi Pembeking TI
Ketua DPRD Bangka Parulian alias Ucok mendukung langkah yang dilakukan warga dan pihak kepolisian. Masalah yang dihadapi warga Jalan Laut merupakan masalah bersama sehingga perlu kepedulian semua pihak. Apalagi menurut politisi PDI Perjuangan ini, yang dirusak para penambang adalah hutan manggrove sebagai penahan abrasi, banjir dan penjaga berbagai habitat mahluk hidup.  “Yang merusak hutan mangrove itu jelas sudah salah, kalau hutan mangrove ini dirusak pasti akan terjadi abrasi. Termasuk juga seperti dikatakan warga pencemaran air dan mengganggu anak-anak sekolah karena penambangan tersebut,” sebut Ucok.

Menurutnya, aktivitas penambangan tersebut telah memenuhi berbagai unsur yang merugikan masyarakat. Selain perusakan lingkungan, habitat hewan dan tumbuhan mangrove termasuk fasilitas umum seperti sekolah dasar. Sehingga ia menilai aktivitas tambang tersebut tidak bisa dibenarkan.  “Itu tetep salah dan kita sepakat tidak ada penambangan apapun. Mari kita sama-sama untuk menjaga lingkungan tersebut. Siapa yang membekingi akan berhadapan dengan saya. Saya akan tindak tegas, kalau kebijakannya lebih tinggi saya akan bermain ke pusat. Masyarakat tidak usah takut melapor siapa bekingnya. Jadi langkah yang dilakukan warga Jalan Laut sudah benar, jadi tidak usah takut,” tandasnya.

Disikat Polres
Polres Bangka bersama Polsek Sungailiat menertibkan aktivitas tambang inkonvensional (TI) illegal yang beraksi di area hutan mangrove dan daerah aliran sungai Jalan Laut. Penertiban dilakukan Sabtu (11/3/2013) lalu dan berhasil diamankan sejumlah peralatan TI milik para penambang.

Penertiban dipimpin Kabag Ops Polres Bangka Kompol S. Sophian, Kapolsek Sungailiat AKP Yudha serta didampingi anggotanya selama tiga jam dari Pukul 09.00 sampai 12.00 WIB. TI tersebut juga dekat fasilitas umum yang mana terdapat SDN 1X Sungailiat dengan jarak hanya puluhan meter. Sebelumnya keberadaa TI rajuk Jalan Laut telah diprotes warga setempat.

“Kegiatan ini dilakukan berdasarkan informasi dari masyarakat tentang adanya belasan unit ponton TI rajuk yang beroperasi di Jalan Laut Kampung Pasir. Masyarakat khawatir karena apabila turun hujan cukup deras akan mengakibatkan banjir bagi pemukiman masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai. Khususnya masyarakat yang tinggal di daerah jalan laut,” kata Sophian, Minggu (12/3/2017).

Lebih lanjut ia katakan, saat dilakukan penertiban di lokasi tidak ditemukan kegiatan penambangan. Ponton-ponton yang biasanya berada di lokasi dimaksud sudah bergeser sekitar 500 meter dari lokasi, namun peralatan tambang berupa ponton-ponton TI Rajuk yang berjumlah belasan masih berada di sekitar lokasi aliran sungai. Sebagian peralatan tambang, dari beberapa ponton yang ada sudah tidak ada lagi.

“Selanjutnya untuk peralatan tambang yang masih ada di beberapa ponton dilakukan penertiban dengan mengangkat peralatan tambang tersebut. Kita amankan di Polres Bangka antara lain beberapa unit mesin robin, pompa tanah, mesin robin, win, selang spiral, dan pipa,” sebut Kabag Ops. (trh)

Related Search

banner 468x60
Tags:
author

Author: