banner 728x90

Ujian Nasional, Ujian Kejujuran

UJIAN nasional (UN) tiba lagi dan kembali ada yang berbeda dibanding yang pernah diselenggarakan sebelumnya. Paling mencolok adalah bahwa pelaksanaan UN antara SMA/MA sederajat dengan SMK tidak serentak. Sehingga memunculkan kekhawatiran terjadi kebocoran soal ujian.

Potensi kebocoran itu muncul karena siswa SMK memulai ujian lebih dulu pada Senin (3/4) hari ini. Mata pelajaran yang diujikan pada hari pertama adalah bahasa Indonesia. Setiap hari ada satu mata pelajaran yang diujikan. Mata pelajaran berikutnya adalah matematika, bahasa Inggris, dan ujian teori kejuruan.

Sementara anak-anak SMA/MA baru menjalankan UN Senin pekan depan (10/4). Urutan mata pelajaran yang diujikan sama seperti SMK, yakni bahasa Indonesia, matematika, bahasa Inggris, dan satu mata pelajaran pilihan sesuai jurusan masing-masing.

Kita mencemaskan terjadinya ketidakjujuran karena kita terpukul oleh merebaknya berita kebocoran soal pada ujian sekolah berstandar nasional (USBN) yang lalu, pada beberapa tempat di tanah air. Paling telak terkena pukulan ini adalah wajah pendidikan nasional kita.

Karenanya kita harus tetap nyinyir mengingatkan agar dalam pelaksanaan semua rangkaian UN tahun ini, sekolah-sekolah harus menjawab kepercayaan dari pemerintah dengan cara memberikan nilai yang objektif untuk menentukan siswa lulus atau tidak. Jangan pernah mengatrol nilai siswa agar bisa lulus, itu sama sekali tidak mendidik.

Artinya, kendati tidak menentukan kelulusan, rangkaian UN tetap harus dilaksanakan secara profesional. Pengawasan yang maksimal, tidak boleh ada kasus menyontek massal atau kasus kecurangan-kecurangan lain. Kejujuran tetaplah diutamakan, baik pesertanya, pengawasnya, dan tentu saja para guru juga harus jujur dalam menentukan kelulusan. Biarkan siswa berkompetisi secara alami. Berbuat curang, apalagi dilakukan oleh pendidik, sama saja dengan mengajarkan kecurangan kepada anak didik.

Kejujuran ini memang kita beri garis tebal. Sebab tujuan utama pendidikan di antaranya adalah membentuk kualitas generasi yang unggul dan itu tidak boleh dinodai dengan kecurangan-kecurangan.

Mari kita bersama-sama untuk terus menyuarakan pesan dan ajakan agar semua, siapa pun, yang terlibat dalam pelaksanaan ujian nasional untuk berhenti membiarkan kecurangan dan berhenti berbuat curang. Bahwa, mereka yang berusaha mengotori proses pendidikan ini adalah pengkhianat bangsa. Kecurangan berarti mengkhianati jutaan siswa lain yang belajar dengan serius, serta ratusan ribu guru yang membimbing siswa belajar dan bekerja dalam sunyi menyiapkan pelaksanaan UN.***

Related Search

Rate this article!
Tags:
author

Author: