banner 728x90

UPI Bandung Beberkan Hasil PKL di Desa Wisata Burung Mandi

MANGGAR – Profesor di Program Studi (Prodi) Manjemen Resort dan Leisure Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Dasiharjo menuturkan, UPI Bandung menemukan sejumlah kelemahan dan kelebihan terkait pengembangan pariwisata di Desa (Pantai) Burung Mandi, Kecamatan Damar, Kabupaten Belitung Timur (Beltim). Temuan ini diperoleh setelah 64 mahasiswa Manajemen Resort dan Leisure dan 4 dosen UPI melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di desa wisata tersebut.
Temuan kelemahan dan kelebihan yang disampaikan Prof Dasiharjo yang juga merupakan Guru besar dibidang Geografi dan pariwisata UPI Bandung saat ditemui Belitong Ekspres, disela kegiatan malam ramah tamah dengan Pemkab Beltim di Rumah Makan Fega, Selasa (7/11) malam.
Prof menyebutkan ada beberapa di antara temuan adalah Desa Burung Mandi dinilai belum maksimal mengeksplore potensi wisata Burung Mandi. “Kalau dilihat dari potensi, itu Burung Mandi sangat luar biasa. Tidak salah Pemerintah daerah menetapkannya sebagai Desa wisata. Hanya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan Pemda Beltim, terutama segmen pasar wisata Burung Mandi ini, Juga memberikan catatan untuk UMKM di Desa Burung Mandi. Setelah datang, sektor ini belum digarap maksimal dan belum melibatkan hal-hal kecil yang ada di tengah masyarakat,” ungkap Prof Dasiharjo.
Dia menyontohkan, keunikan Pantai Burung Mandi adalah perahu kater nelayan setempat yang dinilai unik. Namun UPI merasa tak ada yang memanfaatkan hal ini. “Kelihatannya belum dimanfaatkan maksimal. Perahu kater itu, bentuknya unik, tapi belum karena mungkin masyarakatnya belum mengetahui dimana letak yang bagus dibuat sebuah keunikannya. Ini jadi PR pemerintah daerah. Pariwisata itu sebenarnya akan menciptakan lapangan kerja yang cukup besar. Di Kepulauan Seribu itu contohnya, nelayan sana akhirnya malas cari ikan, dan mereka lebih pilih mengantar wisatawan, dan masih banyak sebenarnya yang bisa digarap,” ujar Prof Dasiharjo yang menilai potensi pariwisata di pulau Beltim ini akan pesat, tapi harus membutuhkan waktu serta peran aktif seluruh masyarakat dan juga Pemerintah daerah.
Pada kegiatan ini, ada Sebanyak 64 mahasiswa dan 4 orang dosen Prodi Manajemen Resort dan Leisure UPI Bandung yang melaksanakan PKL di Desa Burung Mandi, Kecamatan Damar, dan kegiatan ini dilaksanakan Selama dua hari (6-7 Oktober 2017). Mereka mengobservasi dan mengumpulkan data lapangan di desa yang kerap disebut sebagai desa wisata di Beltim itu.
Mereka mengumpulkan data sumber daya alam, sumber daya manusia, kelembagaan, terkait pariwisata di Desa Burung Mandi. Mahasiswa juga menyebarkan kuisioner, membuat peta wilayah, mewancarai masyarakat, hingga mengunjungi Disbudpar Beltim.
Sementara itu juga disampiakan dosen yang juga sebagai Ketua Prodi Manajemen Resort dan Leisure UPI Bandung Fitri Rahma Fitriah mengatakan Setelah PKL, mahasiswa diminta membuat blue print kawasan yang mereka kunjungi. “Kali ini kami memilih ke Burung Mandi, sebelumnya kami beberapa kali ke Kabupaten Belitung, Bali, dan Lombak,” sebut Fitri Rahma Fitriah saat berbincang-bincang dengan wartawan di Rumah Makan Fega, disela kegiatan yang dilaksanakan di Rumah Makan Fega, Selasa (7/11/2017) malam.
Fitri mengatakan, data pariwisata Burung Mandi itu kemudian akan diolah saat para mahasiswa ini kembali ke kampusnya. Mereka akan membuat buku. Dan diharapkannya, tugas mahasiswanya itu dapat membantu Pemkab Beltim untuk mengembangkan pariwisata di Desa Burung Mandi. “Dan bukunya akan diserahkan kepada Pemerintah daerah nantinya,” imbuhnya.
Setelah di Beltim, mereka juga akan mengunjungi sejumlah tempat wisata di Kabupaten Belitung untuk membandingkan pengembangan pariwisata di dua Kabupaten ini. Ditambahkannya, kegiatan selama dua hari tersebut adalah kegiatan rutin sebagai upaya memperisapkan lulusan menjadi perencana dan pengembang pariwisata di Indonesia. Salah satu kompetensi yang diharapkan adalah mampu merencanakan pencanagan dan pengembangan kawasan pariwisata.
Fitri Rahma Fitriah kembali menuturkan, satu hal lain yang ia temukan di Desa Burung Mandi adalah belum adanya kekhasan kuliner saat orang berkunjung Desa Burung Mandi. Dia mengaku belum menemukan ini saat bersama 64 mahasiswanya melakukan Praktik Lapangan di Desa Burung Mandi. Padahal, dari Burung Mandi, Fitri menilai ikan Kerisi bakar bisa menjadi kekhasan Burung Mandi. “Ikan Kerisi itu harusnya jadi identitas. Saat masuk ke Burung Mandi, seharusnya jadi ikon Burung Mandi. Saya pikir ini harus jadi ikonik. Hal-hal seperti ini, kalau ditonjolkan, konsep melayunya, nelayannya, itu kelihatannya akan jadi kekuatan luar biasa bagi Pantai Burung Mandi,” sebut wanita cantik asal Bandung itu, sembari menyebutkan bahwa UPI merasa perlu untuk memikirkan konsep pengembangan Desa Burung Mandi. Dan Semua aspek yang mendukung pariwisata Burung Mandi akan dikaji, termasuk terkait SDM yang ada di Burung Mandi.
Kegiatan ini juga dihadiri oleh Asisten II Bupati Beltim, Khadir Lutfhi, Plt.Kepala Dinas BKD Beltim, dan juga perwakilan dari Dinas Pariwisata Beltim, serta OPD terkait lainnya. (feb)

iklan swissbell

 

Related Search

Tags:
author

Author: