banner 728x90

Veri Yadi: 5 Warisan Geologi Dunia Modal Kuat Bagi Belitong Menjadi UGGp

Veri Yadi sedang mengecek Batu Gamping di Geosite Lava Bantal Siantu.

Perjuangan Veri Yadi, sang Konsultan Geopark Belitung belum usai untuk mewujudkan Negeri Laksar Pelangi sebagai destinasi pariwisata dunia. Satu-satunya jalan untuk mencapai itu adalah dengan mendapatkan pengakuan dari UNESCO Global Geopark (UGGp).

Yudiansyah: Belitong Ekspres

SEBAGAI langkah awal upaya meraih status Unesco Global Geopark, Badan Pengelola (BP) Geopark Nasional Belitung melakukan seminar. Seminar Nasional Geopark Belitung Menuju Smart Tourism, berlangsung di Swiss-Belresort Tanjung Binga, pada 29 Januari 2019 lalu.

Menteri Pariwisata (Menpar), Arief Yahya dan Veri Yadi hadir sebagai pembicara dalam seminar nasional tersebut. Sama seperti yang diungkapkan Menpar, kata Veri tak ada pilihan lain Belitung harus meraih Label UGGp. Belitung yang telah dimasukkan dalam program 10 Bali Baru harus siap untuk Go International.

Menurut Veri, ada tiga poin yang wajib dilakukan dalam membangun pariwisata Belitung supaya diakui dunia Internasional. Ketiga poin itu adalah 3 A. Yakni, Atraksi yang dihadirkan ditempat wisata berkelas dunia, Akses sarana dan infrastruktur yang memenuhi standar Internasional. Selain itu, Amenitas sebagai sarana pendukung wisatawan selama mengunjungi destinasi wisata yang juga harus berkelas Internasional.

UGGp kata Veri, dibentuk pada tahun 2015 berdasarkan usulan 195 negara anggota pada konferensi organisasi UNESCO ke-38. Label baru UGGp menekankan suatu kawasan yang memiliki nilai warisan geologi secara Internasional. UGGp memberikan keterkaitan yang erat antara warisan geologi, biologi, dan budaya, serta adanya unsur edukasi dan konservasi terhadap warisan tersebut.

“Warisan tersebut tentu akan memberikan kebanggaan terhadap masyarakat lokal serta akan memberikan dampak ekonomi melalui rekreasi (UNESCO, 2016),” kata Veri yang saat ini sedang mengambil S3 Geologi di University of the Witwatersrand, Johannesburg, South Africa.

Dalam paparannya di Seminar Nasional Geopark Belitung Menuju Smart Tourism, Menpar ujar Veri menyebutkan kunjungan wisatawan ke Belitong tahun 2018 sebanyak kurang lebih 500 ribu. Di mana wisatawan mancanegara (wisman) berjumlah 15 ribu orang saja.

Melihat jumlah wisman yang relatif masih sedikit dengan ada penerbangan Internasional saat ini, maka Belitong kata Veri harus mempunyai brand yang bisa dilirik oleh wisatawan mancanegara. Untuk itu dia kembali menyarankan bahwa cara satu – satunya bagi Belitong masuk dalam percaturan destinasi wisata kelas dunia adalah menjadikan Belitong sebagai UGGp.

“Hal ini menurut Menpar mengingat Belitong tidak dikarunia World Heritage ataupun warisan kelas dunia lainnya, yang menjadi bagian dari UNESCO,” ujar Veri yang kini sudah berada di Afrika Selatan.

Pernyataan Menpar bukan tanpa alasan menyatakan bahwa Belitong harus menjadi anggota UGGp. Dimana syarat pertama dan mutlak suatu kawasan menjadi UGGp adalah memiliki nilai warisan geologi skala dunia.

Adapun persyaratan lainnya adalah memiliki fasilitas pendukung di kawasan geopark yang berskala dunia. Seperti papan narasi dan panel sebagai media informasi pengunjung yang minimal memiliki dua bahasa (Indonesia & Inggris), di toilet, transportasi, serta sarana dan prasarana pendukung lainnya.

“Juga harus ada manajemen dan badan pengelola secara professional, serta adanya jaringan kerjasama dengan anggota UGGp lainnya. Persyaratan lainnya adalah bahwa kawasan tersebut sudah menjadi anggota geopark nasional setempat, serta telah berjalan selama dua tahun,” jelas Veri.

Persyaratan pertama dan utama bahwa UGGp harus memiliki warisan geologi bertaraf Internasional merupakan hal mutlak. Veri menjelaskan, penilaian terhadap warisan geologi Internasional dilihat dari lima aspek.

Pertama Jenis Batuan, kedua Kandungan Mineral, ketiga Struktur Geologi, keempat Jenis dan Usia Fosil, dan kelima Morfologi Batuan (Alie, 2017). Lima aspek tersebut dapat dikaji baik secara kasat mata. Seperti kandungan mineral, arah struktur, dan jenis batuan maupun yang non-visual seperti usia, kandungan mineral mikroskopik, dan aspek geologi lainnya.

“Merujuk pada definisi tersebut, setidaknya Belitong memiliki 5 warisan geologi tingkat dunia. Antara lain, Morfologi Granite Tanjung Pandan, Mineral Timah Open Pit Nam Salu Kelapa Kampit, Batu Tektites di Garumedang Dama, Struktur Sungai Lenggang, dan Struktur Samudra Purba Siantu,” terang Veri.

Pertama Veri menjelaskan, Morfologi Granite Tanjung Pandan. Granit Tanjung Pandan merupakan gugusan batu granite yang merupakan gugusan dari ujung Southeast Asian Granite Belt. Batu granite ini berusia mutlak 218 juta tahun berdasarkan Analisa pembobotan K-Ar dan dibandingkan hasilnya dengan Analisa R-Sb dari mineral Hornblende/Biotite yang terkandung pada batuan graint tersebut (Priem et al, 1977).

“Batuan ini membentuk susunan batuan yang eksotis di pesisir pantai yang memberikan suguhan panorama yang indah. Susunan batuan tersebut merupakan proses TOR lingkungan pantai yang memiliki nilai geologi warisan dunia (Komoo, 2017),” jelasnya.

Kedua Mineral Timah Open Pit Nam Salu Kelapa Kampit. Mineral merupakan salah satu parameter utama dalam upaya melakukan penilaian terhadapa warisan geologi Internasional. Nam Salu Open Pit merekam sejarah penemuan timah terkaya di Asia Tenggara untuk satu lokasi yang ditemukan oleh PT. Broken Hill Proprietary tahun 1975.

Ketiga, Batu tektites di Garumedang Dama. Tektites merupakan batuan luar angkasa yang jatuh ke bumi. Tektites Belitong dikenal dengan Billitonite mempunyai khas dengan kandungan NiO terbesar di dunia serta memiliki alur – alur sebagai pembeda dari jenis tektites lainnya. Billitonite termasuk bagian dari Australasian Strewn Field tipe layered atau stratified.

Keempat Struktur Sungai Lenggang. Menurut Veri Sungai Lenggang merupakan sungai purba yang merekam peristiwa pergeseran Lempeng Sundaland yang dari Austalia menuju posisi sekarang pada era Kenozoikum. Peristiwa ini ditandai dengan widespread rifting process yang besar di Kawasan Asia Tenggara, sehingga membentuk rawa – rawa Rheotropic.

“Peristiwa Kenozoikum juga merekam pembentukan Batubara di Kawasan Asia Tenggara dan ditemukan jejak – jejak gambut di dasar Sungai Lenggang. Warisan geologi ini diikuti dengan ditemukan warisan hayati dunia seperti ikan Arwana yang bergerak dari Lempeng Australia menuju Sundaland & Amerika Latin,” jelasnya lagi.

Kelima atau yang terakhir adalah Struktur Samudra Purba Siantu. Tanjung Siantu merekam jejak Gunung Api Purba Bawah Laut. Namun, warisan dunia Siantu terletak pada ditemukannya jejak – jejak Samudra Purba dalam Palaeo Tethys yang muncul jaman Devon dan menghilang jaman Trias. Bagian Timur merupakan bagian dari Indochina dan Barat adalah Sibumasu merupakan lempeng yang berada di sekitar Samudra Purba yang hilang.

“Kelima warisan geologi tersebut merupakan modal yang kuat buat Belitong menjadi UGGp. Namun, nilai warisan tersebut harus menggambarkan kaitan yang erat dengan kehadiran flora dan fauna serta kaitannya dengan warisan budaya,” tukas Veri.

Nilai – nilai tersebut lanjutnya, harus diajarkan ke pengelola kawasan dilengkapi dengan fasilitas papan narasi, panel, brosur, video, serta alat komunikasi lainnya untuk memudahkan pengunjung menjaga kawasan tersebut. Termasuk, berapa geosite sudah ada papan narasi dan akan ditambah dengan brosur, serta panel – panel deskripsi keunikan tiap – tiap spot di geosite sebagai bagian dari geowisata.

“Selanjutnya, yang harus disiapkan akses untuk menuju lokasi tersebut. Kawasan tersebut harus berinovasi untuk membuat pengunjung tidak bosan dan akan meningkatkan jumlah kunjungan dari waktu ke waktu,” tutur Veri.

Selain itu, warisan – warisan tersebut harus dijaga keberlangsungannya, serta dilakukan riset secara berkesinambungan agar nantinya bisa diajarkan sebagai bagian dari program edukasi. Untuk itu dibutuhkan kerjasama dengan institusi pendidikan terkait yang harus berjalan secara simultan. Ini sebagai upaya untuk menggali dan mengembangkan kekayaan dan warisan nilai alam, serta budaya yang akan menjadi daya tarik pengunjung sebagai pelengkap rekreasi.

Lebih lanjut Veri menjelaskan, untuk menjaga kawasan tersebut harus adanya pengelola tiap – tiap kawasan yang dikenal dengan istilah geosite. Pengelola ini akan dilatih menguasai warisan tersebut dan akan memaparkan kepada pengunjung tentang keunikan tiap – tiap geosite dan kaitannya dengan keragaman hayati dan budaya di kawasan itu.

Namun, untuk berkesinambungan maka geosite tersebut harus menghadirkan pengembangan ekonomi buat masyarakat pengelola dan sekitar, sehingga unsur konservasi dan pengembangan kawasan akan berjalan dengan baik.

Supaya program itu berjalan dengan baik, maka ujar Veri diperlukan manajemen yang mengatur aspek perencanaan dalam penelitian, pengelolaan, ekonomi, legal, dan aspek penting lainnya. Dalam menyongsong UGGp yang betaraf internasional. Maka, Belitong harus menyiapkan Akses, Amenitas, serta Atraksi yang berkelas global. Untuk itu fasilitas yang dihadirkan harus bertaraf Internasional dari Bandara, Rumah Sakit, Travel Guide, serta faktor – faktor pendukung lainnya.

Sumberdaya manusia juga harus disiapkan demi menyongsong pengakuan internasional dalam memahami warisan, menyampaikan serta mengelola kawasan geosite. Karena itu, Badan Pengelola Geopark harus menjadi fasilitator dan memiliki kekuatan legalitas hukum. “Akan tetapi Kendala yang dihadapi adalah saat ini BP Geopark Pulau Belitung belum memiliki anggaran dalam mengelola program – program Geopark tersebut,” tukas Chief of Alumni SMA Negeri 6 Bandung Class of 99 itu.

Oleh sebab itu, langkah pemerintah kabupaten selanjutnya harus menyiapkan anggaran untuk memperkerjakan tenaga professional, ranger, peneliti, dan petugas lainnya. Itu nantinya tentu akan menggerakkan roda ekonomi kabupaten tersebut.

“Badan Pengelola juga harus bergerak secara professional, dalam rangka mengelola geopark yang akan menjadi penopang ekonomi masa depan Pulau Belitong,” harap General Secretary lkatan Keluarga Masyarakat Belitung (IKMB) Jakarta ini.

“Pekerjaan belum selesai sampai di sini. Upaya edukasi, sosialisasi, serta peran serta aktif Pemerintah Kabupaten Belitung dengan pelaku wisata dan pengelola geosite, menjadi kunci kekuatan geopark dalam upaya menjadi penopang ekonomi yang berkesinambungan,” tandas Veri. (habis)

Related Search

Tags:
author

Author: