banner 728x90

Veve Zulfikar, Qariah Muda dan Berprestasi, Sering Gantikan Ayah Mengajar Ngaji

banner 468x60

SEBARKAN VIRUS: Veve Zulfikar sering mengisi qiraah dan salawat di berbagai daerah. Sejak usia tiga tahun, dia terbiasa mendengarkan bacaan Alquran.

 

banner 300x250

Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Pepatah itu sangat pas untuk Veryal Eisha Aqila Zulfikar. Dara 14 tahun itu mengikuti jejak sang ayah, Ustad Miqdar Zyalfikar. Dia memiliki jam terbang tinggi menjadi qariah.

SEPTINDA AYU PRAMITASARI

SUARA merdu Veryal Eisha Aqila Zulfikar begitu menggetarkan. Itu dibuktikan ketika dara 14 tahun tersebut bersalawat di hadapan Jawa Pos dan sang ayah, Ustad Miqdar Zyalfikar, di salah satu restoran di Puri Surya Jaya pada Rabu (18/1). Sholaatun Bis Salaamil Mubiin pun dinyanyikan dengan indah. Meski tenggorokannya saat itu sedikit sakit karena serak, Veve –sapaan akrab Veryal Eisha Aqila Zulfikar– tetap menikmati bersalawat.

Veve mengaku memiliki hobi mengaji dan bersalawat sejak kecil. Hampir setiap hari dia memanfaatkan waktu untuk salawat dan ngaji dengan nada-nada yang indah. Baik di rumah, sekolah, maupun di setiap perjalanan. Kegiatan itu kadang dilakukan bersama ayahnya. ”Pokoknya, pas ada waktu kosong, pasti salawatan atau ngaji,” katanya.

Kebiasaan tersebut menjadi kegiatan rutin Veve di luar sekolah. Putri sulung pasangan Miqdar Zyalfikar dan Riza Fitriatus Zahro itu akhirnya menjadi qariah muda berbakat yang kerap diundang di berbagai daerah. Mulai di wilayah Jawa Timur, Bogor, Jakarta, hingga Banjarmasin.

Veve mengatakan, bakat yang dimiliki saat ini sebagai qariah memang tidak lepas dari peran sang ayah yang juga qari. Sejak kecil, dia selalu ikut Zyalfikar, yang akrab dipanggil Ustad Zulfikar, untuk memenuhi undangan mengaji di berbagai daerah. Kebiasaan tersebut membuat Veve semakin jatuh hati pada dunia mengaji. ”Setiap Abi (panggilan Veve kepada Zyalfikar) diundang sebagai qari, saya selalu diajak,” katanya.

Selain itu, lanjut Veve, ayahnya selalu mendengarkan qiraah dari Iran melalui YouTube setelah selesai salat. Dua surah yang kali pertama dikenalkan adalah Surah Adh-Dhuha dan Al-Kautsar. ”Mau tidak mau, saya sering mendengar qiraah itu. Lama-lama saya mulai suka dengan qiraah,” ujarnya.

Saat itu, usia Veve masih tiga tahun. Bahkan, dia belum bisa membaca Alquran. ”Padahal, saya belum tahu sama sekali huruf hijaiyah,” ungkapnya. Kebiasaan mendengarkan orang mengaji ternyata membuat Veve sangat mudah belajar Alquran. Bahkan, ketika kali pertama belajar iqra, guru mengajinya langsung menyuruh untuk langsung melanjutkan Alquran. ”Saya kaget juga,” katanya.

Dari situ, lanjut dia, proses belajar Alquran semakin mudah. Ketertarikannya terhadap qiraah pun semakin besar. Hampir setiap hari dia mempraktikkan cara membaca Alquran dengan gayanya sendiri. Begitu juga salawatan. Aktivitas tersebut kerap diabadikan Ustad Zulfikar dengan cara merekamnya. ”Abi paling suka membuat video saya sedang bersalawat dan mengaji,” ujar siswa kelas VII di SMP Asa Cendekia, Sedati, Sidoarjo itu.

Veve mengatakan, rekaman-rekaman tersebut mulai dilihat banyak orang. Ditambah kebiasaannya mengikuti ayah mengisi pengajian membuat orang-orang mengetahui bakatnya. Karena itu, banyak tawaran untuk mengisi qiraah. ”Waktu saya masih kelas I SD sudah diundang ke Surabaya untuk pembukaan suatu acara,” katanya.

Tampil kali pertama membuatnya sangat deg-degan bercampur senang. Sebab, apa yang dilakukan itu adalah kesenangannya. Sejak itu, gadis kelahiran Jombang, 7 Juli 2003, tersebut banjir order. ”Saya malah bisa seperti Abi,” tuturnya dengan bangga.

Veve juga terus menunjukkan prestasinya di bidang qiraah. Dia pernah menjuarai lomba tingkat kabupaten dan merebut posisi ketiga level Provinsi Jawa Timur. Menurut dia, hobi qiraah dan salawatan tidak ingin dinikmati sendiri. Selama ini, dia kerap menyebarkan virus salawat dan qiraah kepada teman-teman sejawatnya. Dia kerap mengajari teman-teman santri lainnya saat mondok. ”Ada juga sih yang usianya di atas saya,” ujarnya.

Saat ini, dia menularkan virus tersebut di SMP Asa Cendekia. Veve menyebutkan, setiap kali ada jam kosong, dirinya sering mengajak teman-teman sekelas salawatan bersama. Sebagian besar temannya sangat menyukai kegiatan tersebut. Bahkan, ada teman yang ingin belajar secara privat. ”Saya senang. Guru juga ikut senang,” katanya.

Menjadi guru mengaji, tambah Veve, dilakoni sejak kecil. Dia juga kerap menggantikan ayahnya mengajar. Padahal, murid-murid ayahnya rata-rata sudah dewasa. ”Awalnya ragu. Tetapi, Abi bilang pasti bisa. Jadi, sampai sekarang saya bantu menggantikan ayah mengajar kalau sedang berhalangan,” ujarnya.

Saat ini, penggemar Veve beragam, baik anak muda maupun dewasa. Veve mengaku sangat bersyukur dengan capaiannya saat ini. Namun, yang dia harapkan selama ini adalah ingin bisa mengajak seluruh anak muda untuk kembali mencintai budaya mengaji dan salawatan. Sebab, menurut dia, anak muda saat ini mulai tergerus oleh budaya Barat. ”Peduli pada keselamatan bangsa. Abi selalu mengingatkan saya untuk menyebarkan kebaikan,” ujarnya. (*/c6/dio/sep/JPG)

Related Search

banner 468x60
Tags:
author

Author: