banner 728x90

Waspada Ancaman Pariwisata Seks Anak

banner 468x60

*Sebagai Destinasi Pariwisata, Belitung Lakukan Upaya Pencegahan

TANJUNGPANDAN-Pulau Belitung merupakan salah satu destinasi pariwisata prioritas nasional, yang digadang-gadang akan menjadi Maldives-nya Indonesia, setelah Bali dan Lombok. Namun, seiring majunya pariwisata tersebut, Eksploitasi Seksual Komersial (EKSA) menjadi ancaman yang harus diwaspadai. Untuk itu, perlu upaya serius dari semua pihak dalam tindakan pencegahannya.

banner 300x250

Sebab, berdasarkan data ECPAT (End Child Prostitution, Child Pornography and Trafficking of Children for Sexual Purposes), Indonesia termasuk 10 negara yang menjadi destinasi pariwisata seks. Indonesia sendiri menempati peringkat keempat. Sedangkan untuk se Asia tenggara Indonesia peringkat kedua terbesar, setelah Thailand, yang destinasi terutama pariwisata seks anak.

Kepala Bidang (Kabid) Perlindungan Hak Perempuan dan Hak Anak, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Sosial Belitung, Wandi Suparto mengatakan, bentuk-bentuk utama ESKA adalah pelacuran anak, pornografi anak dan perdagangan anak (Trafiking) untuk tujuan seksual.

Wandi mengungkap data Trafiking di Belitung di Tahun 2015, terdapat satu kasus Eksploitasi seksual anak, dan itu sudah ditangani Polres Belitung. Sedangkan di Tahun 2016, laporan tersebut tidak ditemukan.

Data itu disampaikan, saat memaparkan materi Situasi Terkini dan Upaya Pencegahan Eksploitasi Seksual Anak (PESA) dan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di Lingkungan Pariwisata Kabupaten Belitung. Materi ini, merupakan salah satu materi yang disampaikan dalam sosialisasi Homestay dan Sadar Wisata oleh Kementerian Pariwisata RI, di Bahamas Hotel, Selasa (21/2).

“Tidak ada laporan, bukan berarti kasus tersebut tidak ada atau tidak akan terjadi. Sebab fenomena ini kan sama seperti Gunung Es. Tetapi kami akan terus melakukan upaya-upaya pencegahan dan mensosialisasikannya kepada masyarakat. Apalagi Belitung merupakan salah satu daerah tujuan pariwisata di tanah air,” ujarnya.

Wandi menambahkan, dalam upaya pencegahan harus saling bersinergi dan komitmen bersama. Para pekerja pariwisata merupakan sumber daya yang sangat penting dalam memerangi PSA. Apalagi beberapa perusahaan perjalanan dan pariwisata telah melakukan pelatihan bagi staf mereka tentang isu PSA.

Pelatihan tersebut mencakup definisi ESKA, kerangka hukum, Konvensi Hak Anak, profil korban dan pelaku.Selain itu ada pula pembekalan konsep tanggung jawab sosial perusahaan, latar belakang sosiologis eksploitasi seksual terhadap anak, studi kasus, latihan role play dan komponen-komponen lain.

“Setelah menyelesaikan pelatihan, para pekerja pariwisata diharapkan bisa lebih mengenali PSA dan melakukan aksi untuk menentangnya,” ujar Wandi.

Sedangkan pariwisata seks anak dan beberapa contoh perkawinan anak, juga dapat dianggap sebagai bentuk-bentuk khusus dari pelacuran anak. Menurutnya, ESKA terjadi karena berbagai alasan yang berbeda seperti kemiskinan, permintaan untuk melakukan hubungan seks dengan anak-anak (pedofilia), konflik bersenjata, sikap sosial atau konsumerisme yang luar biasa.

“Salah satu bentuk ESKA yang telah mendapatkan perhatian besar dari media dan masyarakat selama 15 tahun terakhir adalah pariwisata seks anak atau PSA,” sebut Wandi.

Menurutnya, pariwisata seks anak kadang-kadang mengacu pada eksploitasi seksual anak dalam pariwisata. Pariwisata seks anak terjadi di berbagai tujuan wisata dan bahkan di tempat-tempat yang sebenarnya tidak memiliki prasarana pariwisata sama sekali.

“Pariwisata seks anak merupakan ujian terberat bagi dunia tanpa batas, dan merupakan sebuah tantangan penting bagi para industri perjalanan dan pariwisata yang selalu berkembang. Termasuk Belitung yang menjadi 10 besar destinasi prioritas nasional,” kata Wandi.

Lebih lanjut dipaparkannya, pariwisata seks anak melibatkan pemberian uang, pakaian, makanan atau bentuk kebaikan lain kepada seorang anak atau pihak ketiga untuk melakukan hubungan seksual. PSA terjadi di berbagai tempat, mulai dari lokalisasi -lokalisasi di daerah pelacuran sampai ke pantai-pantai atau hotel-hotel berbintang lima dan di daerah-daerah perkotaan, pedesaan atau pesisir.

“Pariwisata seks anak dapat terjadi dalam kurun waktu yang lama, khususnya jika ada proses ‘grooming’ atau persiapan yang panjang. Dimana selama masa tersebut seorang pelaku kekerasan seks terhadap anak berteman dengan seorang anak yang rentan, dan berusaha untuk mendapatkan kepercayaan dari anak tersebut sebelum mengeksploitasi anak tersebut secara seksual,” terangnya.

Pelaku PSA tersebut dikelompokkan menjadi katagori. Pertama,Wisatawan Seks Anak Situasional . Yaitu, pelaku kejahatan seks anak situasional melakukan kekerasan terhadap anak dengan cara coba-coba. Kedua, Wisatawan Seks Preferensial, yaitu isatawan seks anak preferensial menunjukkan sebuah pilihan seks aktif terhadap anak-anak.

“Walaupun orang tersebut masih memiliki kemampuan untuk mengalami ketertarikan seksual terhadap orang dewasa, tetapi dia akan secara aktif mencari anak-anak untuk melakukan hubungan seksual dengan mereka. Yang ketiga, kategori Pedofil yang menunjukkan sebuah kecenderungan seksual khusus terhadap anak-anak yang belum puber,” papar Wandi.

Fenomena prostitusi yang melibatkan anak-anak seperti fenomena gunung es. ECPAT Indonesia mencatat berdasarkan hasil putusan Mahkamah Agung selama 2010-2014, terdapat 35 kasus pornografi anak, 64 kasus prostitusi anak, 46 kasus pariwisata seks anak, dan 74 kasus perdagangan anak. Dengan kata lain lanjut Wandi, ada sejumlah 219 kasus eksploitasi seksual terhadap anak.

“Angka ini hanya bongkahan kecil dari gunung es yang terlihat. Dibalik itu ada kasus yang tidak terlaporkan, apalagi yang berhasil mendapatkan putusan sangat banyak. Ini seperti bongkahan gunung es yang berada dibawah laut, lebih besar dari bongkahan di atas yang terlihat,” jelasnya

Berdasarkan data Ecpat, ada lima daerah pariwisata di Indonesia yang memiliki kasus eksploitasi seksual komersial anak terbesar. Yaitu, Bali, Lombok, Batam, Jakarta, dan Yogyakarta.

“Nah, apakah Belitung yang digadang-gadang menjadi Destinasi Wisata Nasional dan Internasional akan mengalami hal serupa dengan daerah pariwisata lainnya? Untuk itu, PSA harus kita cegah sedini mungkin, jangan sampai terjadi Belitung,” ajaknya.

Ia menambahkan, maka dari itu pihaknya mengambil langkah pencegahan supaya kedepannya hal seperti itu tidak terjadi di Negeri Laskar Pelang ini.

“Dampak PSA terhadap anak-anak ini memang sangat serius. Soalnya cukup rentan dan sangat berbahaya. Akibatnya bisa menimbul penyakit infeksi menular seksual (IMS), termasuk HIV/AIDS,”  tukasnya. (yud/mg2)

Related Search

banner 468x60
Rate this article!
Tags:
author

Author: