1 Juli 1838, KA Rahad Dilantik Depati

by -

*Riwayat Hari Jadi Kota Tanjungpandan

20-57-00-batu-satam-4
bundaran satam

Ditetapkannya Hari Jadi Kota Tanjungpandan (HJKT) yang kini sudah berusia 178 tahun pada 1 Juli 2016, menjadi fundamental untuk menggugah kesadaran masyarakat. Masyarakat dan pemerintahan di daerah harus mampu membawa perubahan dari waktu ke waktu mengiringi usia sebuah daerah yang pastinya terus bertambah umurnya.

Pemerhati Budaya dan Sejarah Belitong Salim Yan Albert Hoogstad mengatakan, di Tanjungpandan, Ibukota Kabupaten Belitung, sebuah seminar yang dilangsungkan pada 17 Februari 1990, merupakan titik awal untuk mencari Hari Jadi Kota Tanjungpandan. Seminar ini diprakarsai DPD KNPI Kabupaten Belitung.

Dalam seminar tersebut menghadirkan nara sumber Alex A Rachim dan Rusli. Dari kedua nara sumber selaku pembicara, Alex A Rachim dan Rusli, mengajukan beberapa tanggal HJKT.

Pertama, tanggal 1 Juli 1838, Kiai Agus Rahad dilantik sebagai Depati. Kedua, pada  tanggal 23 Maret 1852, konsesi pertama penambangan timah di Tanjungpandan dan Sijuk. Ketiga, pada tanggal 24 November 1854 Kiai Agus Mohammad Saleh dilantik menjadi Depati menggantikan Kiai Agus Rahad. Keempat, pada tanggal 18 Februari 1887, penetapan batas-batas Kota Tanjungpandan oleh Pemerintah Hindia Belanda.

Untuk menyimpulkan  dinamika yang berkembang dalam seminar, diterbtikan oleh Panitia seminar sebuah surat dengan Nomor :21/SP/Pansem/II/1990 yang membentuk Tim penyimpul yang terdiri dari, Asnawie Said sebagai pembahas, Iswarin Yusuf Said sebagai pembahas, A. Hadi Adjin sebagai peserta, Alex A Rachim sebagai penyaji, Salim Y A H sebagai peserta, H. Abdul Hadi sebagai peserta dan H. Gairu Saridin sebagai peserta.

Ketika hendak mulai bekerja,  dari tujuh orang tersebut, ada dua orang yang tidak hadir yaitu Asnawie Said sebagai pembahas dan H. Gairu Saridin sebagai peserta. Karena dua orang team tidak hadir, kemudian diganti menjadi, Rusli sebagai penyaji, Iswarin Yusuf Said sebagai pembahas, A Hadi Adjin sebagai peserta,  Alex A Rachim sebagai penyaji, Salim Y A H sebagai peserta, H. Abdul Hadi sebagai peserta, dan Nyonya Soleha sebagai peserta.

Setelah dibahas selama dua jam, akhirnya tim menyimpulkan dari empat tanggal di atas diputuskan, Tanggal 1 Juli 1838 sebagai Hari Jadi Kota Tanjungpandan. Mengapa memilih Tanggal 1 Juli 1938? Sebab, 1 Juli 1838 merupakan pelantikan Kiai Agus Rahad menjadi Depati.
Siapa sebenarnya Kiai Agus Rahad? Kiai Agus Rahad adalah putra dari Kiai Agus Hatam yang mempertahankan Pulau Belitung dari penjajahan bangsa asing. KA Rahad juga diakui oleh rakyat Belitung sebagai Pahlawan dengan mendapatkan gelar Depati Cakraningrat VIII setelah menggantikan Ayahnya Kiai Agus Hatam. Kiai Agus Rahad memerintah dan berkendudukan di Kota Tanah atau sekarang dikenal daerah Cerucuk.

Setelah beberapa lama memerintah, Kiai Agus Rahad memindahkan pusat pemerintahannya ke Tanjung Gunung (Mess Bukit/Dian Sekarang). Untuk kediamannya, KA Rahad mendirikan rumah di depan Lembaga Lembaga Pemasyarakatan lama di  sekitar Masjid Agung Al Mabrur (Kampong Ume).

Sebagai tindak lanjut dari hasil seminar Tanggal 17 Februari 1990, Pemerintah Kabupaten Belitung mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) No 17 Tahun 1990 tentang Penetapan Hari Jadi Kota Tanjungpandan. Perda yang terdiri dari 8 pasal tersebut ditetapkan di Tanjungpandan  30 Juni 1990. Lantas, Perda tersebut disahkan dengan keputusan Gubernur Kepala Tingkat I Sumatra Selatan tanggal 7 September 1991 Nomor : 663/SK/IV/1991 dan diundangkan dalam Lembaran Daerah Kabupaten Belitung Nomor: 17 Tahun 1991 Serie D, Tanggal 5 Oktober 1991.

Menurut Salim Yan, dari tujuh orang tim penyimpul Hari Jadi Kota Tanjungpandan, Dua di antaranya sudah meninggal dunia, yaitu Alex A Rachim sebagai penyaji dan H. Abdul Hadi sebagai peserta.(mg2)