Kasus RSUP-PLTU Tetap Berjalan

by -

PANGKALPINANG – Proses kasus korupsi Rumah Sakit Umum Provinsi (RSUP) dan PLTU Air Anyir yang ditangani Kejaksaan Tinggi Bangka Belitung, masih terus berjalan. Kepala Kejaksaan Tinggi Babel, Agus Riswanto SH melalui Asisten Pidana Khusus Ariefsyah Mulia Siregar SH mengatakan, kedua kasus besar tersebut hingga saat ini prosesnya masih terus berlanjut.
“Kedua kasus korupsi tersebut masih terus kita proses hingga tuntas, tidak berjalan di tempat. Hanya saja proses penyelidikan maupun pemeriksaan suatu kasus korupsi tersebut tidak bisa secepatnya, kita harus mengumpulkan barang bukti dan pemeriksaan para saksi,” kata Arief, Senin (27/4). Arief mengatakan, untuk kasus korupsi RSUP Babel sudah dilakukan penyelidikan lahan senilai Rp 34 miliar dan sebagainya. Sementara kasus PLTU sudah dilakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi, yang terakhir Direktur Direktur Konstruksi dan Energi Baru Terbarukan PLN, Nasri Sebayang.
“Pak Nasri diperiksa sejak pukul 13.15 WIB hingga sore hari. Beliau diperiksa masih sebagai saksi dalam proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Air Anyir,” katanya. Sebelumnya kejati sudah memeriksa mantan Direktur Engineering PLN Pusat tahun 2012. Mereka kita periksa terkait pengadaan mesin PLTU Air Anyir dan mantan pengawas proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Air Anyir, RI. Mantan pengawas proyek pembangunan PLTU tahun 2011 ini diperiksa penyidik sejak pagi hingga sore hari, di ruang bagian intelijen Kejati Babel.
“Kita memang sedang ngebut melakukan pemeriksaan terhadap pihak PLN dan PLTU dan saat ini kita sudah memeriksa mantan pengawas proyek pembangunan PLTU. Hari-hari berikutnya akan ada lagi yang kita periksa demi kepentingan penyidikan,” kata Kasi Penkum dan Humas Kejati Babel, Rindang Onasis SH.
RI sendiri saat ini masih sebagai saksi, namun tidak ada keterangan resmi dari penyidik saksi atas calon tersangka siapa. Rizal sendiri dari informasi yang diperoleh wartawan, merupakan menjabat sebagai pengawas dalam proyek senilai Rp1 triliun tersebut pada 2011. Saat ini Rizal sendiri memegang salah satu jabatan penting dan strategis di PLN Kalimantan. “Dia kita penggil dalam kapasitas sebagai mantan pengawas proyek PLTU Air Anyir pada 2011. Selaku pengawas kita menilai dia tahu persis soal kondisi proyek pada saat itu. Kenapa proyek PLTU tidak optimal dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, tentunya selaku pengawas dia pasti tahu.” ungkap seorang penyidikan yang enggan namanya disebutkan.
Penyidik sendiri saat ini sudah memeriksa sedikitnya 30 saksi, baik dari pihak PLN dan PLTU. Namun hingga kini nama-nama calon tersangka masih disimpan rapat-rapat oleh penyidik. Kasus PLTU ini mulai dilakukan penyidikan pada saat peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia pada 9 Desember 2014 lalu. (CR62)