1328 Tablet Obat Batuk Diamankan, 3 Toko Kelontong Tak Kantongi Izin

by -
1328 Tablet Obat Diamankan
Barang bukti yang diamankan Satpol PP Bersama BNNK Belitung.

belitongekspres.co.id, TANJUNGPANDAN – Sebanyak 1328 tablet obat batuk merek Maxtril diamankan oleh Satpol PP bersama Badan Narkoba Nasional Kabupaten (BNNK) Belitung saat di beberapa toko kelontong seputaran Kota Tanjungpandan, Rabu (19/2) malam. Hal itu dilakukan untuk menindaklanjuti laporan dari masyarakat terhadap banyaknya pemuda yang sering menyalahgunakan obat batuk tersebut.

Setidaknya ada tiga tempat yang menjual obat tersebut tanpa adanya izin baik dari Dinas Kesehatan maupun dari BPOM Belitung. Tiga tempat tersebut yakni di Jalan Hasan Saie, Jalan Anwar, Desa Pilang dan Tengku Umar, wilayah Kecamatan Tanjungpandan.

Kabid Ketertiban Umum dan Ketenteraman Masyarakat Satpol PP Kabupaten Belitung, Saparudin mengatakan setidaknya dalam patroli wilayah itu mendapatkan 1328 tablet obat batuk, 27 bungkus obat bantuk cair merek Komik dan 15 kaleng Lem Aibon dari tiga toko kelontong. “Setiap obat yang dijual mereka (toko) harus memiliki izin dari Dinas Kesehatan atau pemegang izin toko obat serta memiliki penanggung jawabnya,” beber Saparudin.

Ketiga toko tersebut masing-masing telah dimintai keterangan serta data diri untuk di lakukan penanganan lebih lanjut pada Kamis (20/2). “Sementara ini, barang bukti yang kami sita diamankan di Mako Pol PP. Setelah itu kami (Pol PP) akan meminta keterangan tindak lanjut ke pihak BNNK Belitung dan Badan Pengawas obat dan makanan (BPOM),” sebutnya.

Sementara itu, salah satu penjual obat batuk tersebut, Yap Cit Sen alias Asen Bintang 7 mengatakan, tidak mengetahui akan maksud dari konsumennya yang sering menyalahgunakan obat yang ia jual tersebut. “Tidak tahu, saya cuma sering bertanya kepada mereka (konsumennya) untuk apa, mereka jawab untuk kuat bekerja,” bebernya.

Namun ketika disinggung mengenai kenapa ia menyimpan ribuan obat tersebut di dalam kamarnya dan tidak di pajang di toko miliknya itu, ia hanya terdiam dan tidak berbicara. Sedangkan kepada media ia mengaku, menjual obat tersebut dengan harga Rp1000 untuk satu tabletnya.

Selain itu, ia yang sudah mendapatkan surat pernyataan dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. “Sumpah, kapok saya. Saya berjanji tidak akan menjualnya lagi. Kalau saya menjual lagi saya siap di penjara,” tukasnya. (fg6)

Editor: Yudiansyah