by -
BELUM SURUT Hari kedua banjir merendam sebagaian besar wilayah Kota Pangkalpinang belum juga tampak bakal surut. Pasang naik air laut yang mencapai puncaknya, ditambah hujan yang terus menerus mengguyur Pulau bangka membuat banjir belum juga berkurang. Bahkan Senin malam hingga Selasa dini hari (9/2) kemarin, banjir mencapai titik tertinggi sehingga ada sebagaian rumah warga yang terendam hingga ke atap rumah. Banjir ini tak hanya dialami warga Kota Pangkalpinang saja, namun juga sebagain wilayah Pulau Bangka, termasuk di Kabupaten Bangka, Bangka Barat, Bangka Tengah dan Bangka Selatan. Tampak Evakuasi warga di kawasan Jl A Yani kota Pangkalpinang oleh Tim Gabungan dari berbagai instansi pemerintah dibantu warga. Foto: Budi Rahmad

 

BELUM SURUT Hari kedua banjir merendam sebagaian besar wilayah Kota Pangkalpinang belum juga tampak bakal surut.  Pasang naik air laut yang mencapai puncaknya, ditambah hujan yang terus menerus mengguyur Pulau bangka membuat banjir belum juga berkurang.  Bahkan Senin malam hingga Selasa dini hari (9/2) kemarin, banjir mencapai titik tertinggi sehingga ada sebagaian rumah warga yang terendam hingga ke atap rumah.  Banjir ini tak hanya dialami warga Kota Pangkalpinang saja, namun juga sebagain wilayah Pulau Bangka, termasuk di Kabupaten Bangka, Bangka Barat, Bangka Tengah dan Bangka Selatan.  Tampak Evakuasi warga di kawasan Jl A Yani kota Pangkalpinang oleh Tim Gabungan dari berbagai instansi pemerintah dibantu warga.  Foto: Budi Rahmad
BELUM SURUT
Hari kedua banjir merendam sebagaian besar wilayah Kota Pangkalpinang belum juga tampak bakal surut. Pasang naik air laut yang mencapai puncaknya, ditambah hujan yang terus menerus mengguyur Pulau bangka membuat banjir belum juga berkurang. Bahkan Senin malam hingga Selasa dini hari (9/2) kemarin, banjir mencapai titik tertinggi sehingga ada sebagaian rumah warga yang terendam hingga ke atap rumah. Banjir ini tak hanya dialami warga Kota Pangkalpinang saja, namun juga sebagain wilayah Pulau Bangka, termasuk di Kabupaten Bangka, Bangka Barat, Bangka Tengah dan Bangka Selatan. Tampak Evakuasi warga di kawasan Jl A Yani kota Pangkalpinang oleh Tim Gabungan dari berbagai instansi pemerintah dibantu warga. Foto: Budi Rahmad

 

 

 

Foto Satgas Penanggulangan bencana membawa pengungsi sekitar Kelurahan Genas Pangkalpinang , Selasa (9/2) kemarin.

Banjir Belum Surut

* Di Pangkalpinang, 1 Korban Tewas

HINGGA hari kedua, Selasa (9/2) kemarin, bencana banjir yang melanda beberapa wilayah Pulau Bangka belum surut.  Akibatnya, praktis semua masih lumpuh.

Di Ibukota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Pangkalpinang, banjir masih menggenang tinggi.  Bahkan disejumlah titik air masih setinggi lutut hingga pinggang orang dewasa. Akibatnya, akses jalan di ruas kota masih lumpuh total.  Berdasarkan pantauan Babel Pos, di kawasan Kelurahan Paritlalang yang menjadi salah satu titik terparah banjir, ratusan rumah masih terendam.
Parahnya lagi, salah satu tanggul jembatan yang berada di wilayah tersebut jebol karena kencangnya arus, sehingga membuat air mengalir ke pemukiman warga dan banjir susah surut.  Menurut Ketua RW 03 Kelurahan Paritlalang Kecamatan Rangkui, Muchsin, kondisi banjir di Kelurahan tersebut sekitar pukul 07.00 Wib hampir surut. Namun karena tanggul jebol, katanya, banjir naik kembali hingga pinggang orang dewasa.  “Tanggulnya jebol malam hari dan paginya jebol lagi hingga rata sungai. Jadi walaupun banjir surut, airnya tetap masuk,” katanya.
Melihat kondisi itu, ia bersama warga pun langsung mencari bantuan baik ke Tagana maupun BPBD. Sebab jika tidak diperbaiki, katanya, banjir di Parit Lalang tidak akan surut.  “Ke Pak Walikota juga sudah kita lapor, kita berharap tanggul yang jebol ini bisa segera diperbaiki,” pintanya.
Selain tanggul jebol, lanjut Muchsin, masalah lain yang tak kalah penting adalah pasokan bantuan makanan dan obat-obatan bagi warga. Karena bantuan yang diterima warga khususnya makanan masih sangat terbatas.  “Di Posko kita ini bantuannya baru dari swadaya masyarakat.  Ada berupa beras dan mie instant. Cuma selaku RW, saya berharap sumbangan makanan terus berdatangan, karena lokasi banjir di sini (Parit Lalang-red) sudah masuk skala nasional.  Jadi besar harapan kami para pengusaha untuk mengeluarkan bantuannya kepada warga kami yang totalnya mencapai ribuan jiwa  dengan 700 kepala keluarga,” harapnya.
Kondisi serupa masih terjadi di Kelurahan Keramat.Puluhan rumah masih terendam banjir hingga pinggang orang dewasa. Mirisnya, bantuan pangan dan sandang yang diharapkan belum juga datang.  “Ya sampai sekarang bantuan belum juga ada.  Kita hanya mendapatkan bantuan makanan dari para warga. Untuk itu kita sangat mengharapkan bantuannya khususnya dari pemerintah,” ujar Sangkod salah seorang warga, kemarin.
Menurut Sangkod, banjir yang terjadi di Kelurahan Keramat diperkirakan akan terus terjadi hingga besok (hari ini-red). Hal itu terlihat dari kondisi air yang masih belum surut.  “Ini surutnya lama, apalagi wilayah kita ini berdekatan dengan Kolong Nangka, mungkin besok (hari ini-red) masih terendam banjir,” katanya.
Menanggapi hal ini, Walikota Pangkalpinang Muhammad Irwansyah saat dikonfirmasi harian ini mengakui bahwa dirinya sudah menerima laporan masing-masing kondisi posko penampungan sementara korban banjir. Menurutnya, pendistribusian bantuan baik berupa pangan dan sandang hingga saat ini masih berjalan lancar.  “Saya bersama Kapolres terus memantau dan meninjau langsung titik-titik banjir. Alhamdulillah Kota Pangkalpinang belum lumpuh dan bantuan yang didistribusikan masih berjalan lancar,” kata Irwansyah.

Pantauan di Posko Kelurahan Opas, Kecamatan Pangkalbalam, Aksi pengumpulan sumbangan korban banjir dilakukan sejumlah pemuda di kawasan tersebut. Sejumlah pemuda tampak berdiri di beberapa ruas jalan dengan membawa kardus bertuliskan korban banjir. Sore, di kawasan ini ketinggian banjir sudah mulai surut sekitar 40-50 cm dibanding hari sebelumnya yang mencapai 70-80 cm. Menurunnya ketinggian air seiring dengan kondisi air laut surut dan meredanya hujan pada sore hari kemarin.
Ketinggian air di Kelurahan Pasir Putih juga sudah mulai surut dengan kisaran masih 30-40 cm, hingga beberapa jalan yang sebelumnya terendam sekitar 60-70 cm perlahan sudah mulai bisa dilalui kendaraan. Sementara itu, kendati banjir sudah mulai surut di kawasan rendah Kelurahan Parit Lalang beberapa rumah masih terendam sekitar 120 cm atau setinggi dada orang dewasa.

Kabupaten Bangka

Dari Kabupaten Bangka dilaporkan, petugas kepolisian harus menutup 2 jam jalan di perbatasan Desa Air Ruai-Desa Pemali Kecamatan Pemali karena air Kolong meluap. Sementara di jembatan kayu besi satu pengendara diterkam buaya.  Informasi yang berhasil Babel Pos rangkum, kepolisian bersama ormas Laskar Sekaban harus memandu pengguna jalan karena derasnya air yang meluap ke jalan KH. Agus Salim di perbatasan Desa Air Ruai-Desa Pemali. Air meluap karena tidak mampu menampung debit air setelah hujan sejak Sabtu lalu. Wakil Bupati Bangka Rustamsyah tampak mengawasi secara langsung hingga tengah malam.
“Ditutupnya jalan ini karena air deras dengan kedalaman 50 cm. Dari jam setengah 10 tadi,” ujar salah satu warga, Bayu yang juga petugas PMI Kabupaten Bangka, di lokasi kejadian, semalam (9/2).
Masih di Kabupaten Bangka, ratusan rumah dipastikan terkena dampak banjir. Sedikitnya 6 jembatan rusak parah akibat banjir dari tingginya curah hujan selama 3 hari belakangan. Beberapa akses jalan yang putus pun harus menggunakan perahu karet untuk membantu perjalanan warga.

Bangka Tengah

Sedangkan di Kabupaten Bangka Tengah (Bateng), pada Selasa (09/02) kemarin belum seluruhnya surut. Di beberapa titik memang sudah terjadi penurunan ketinggian banjir, seperti di Desa Jelutung II Kecamatan Namang yang sudah bisa dilalui kendaraan dan juga di ruas jalan Desa Puput dan Desa Celuak Kecamatan Simpang katis, kendati masih ada genangan air setinggi 60 cm lebih. Akan tetapi, hal ini berbanding terbalik dengan Kota Koba yang justru mengalami puncak terjadinya banjir pada Selasa kemarin.
Pantauan Babel Pos di lapangan, titik banjir paling parah di Kota Koba terdapat di tiga titik, yakni Desa Nibung, jembatan Berok dan depan SMAN I Koba. Titik banjir yang disebutkan terakhir tersebut merupakan titk baru, karena pada Senin (08/02) kemarin belum ada titik banjir tersebut. Kondisi ini membuat Kota Koba terisolir dari akses keluar masuk.

Sebab, ketinggian air di tiga titik ini sempat mencapai 2 meter lebih dan praktis tidak bisa dilintasi kendaraan apapun. Namun, menjelang sore hari, titik banjir di depan SMAN I Koba mulai menurun dengan ketinggian sekitar 70 cm lebih. Akan tetapi, tidak demikian dengan di jembatan Berok dan Desa Nibung yang ketinggiannya tetap diatas 1,5 meter dan hanya bisa dilalui jenis kendaraan tertentu seperti truk Fuso. Khusus untuk banjir di jembatan Berok, telah memporakporandakan SPBU SPBU 24 331 72 yang terdapat tidak jauh dari jembatan tersebut dan merendam Pasar Modern Koba hingga aktifitas ekonomi warga pun lumpuh. Selain itu, beberapa bangunan yang berada di sekitar titik banjir ini banyak yang roboh dan hanyut akibat derasnya arus banjir. Aspal di atas jembatan inipun mulai tergerus. Tidak jelas lagi bentuk aliran Sungai Berok ini, yang terlihat sejauh mata memandang seperti lautan. Pihak PLN Rayon Koba pun sejak Senin malam sudah mengantisipasi titik banjir di jembatan Berok dan depan SMAN I Koba ini dengan mematikan aliran listrik lampu jalan khawatir terjadinya konsleting.

Kepala BPB-Kesbangpol Kabupaten Bateng, Kaharuddin, M.Si. saat dikonfirmasi menyatakan beberapa titik banjir memang sudah mengalami penurunan ketinggian dan debit air, sehingga sudah bisa dilintasi. Namun, untuk wilayah Kota Koba diakuinya memang baru mengalami puncak banjir pada Selasa kemarin.  “Mulai sore tadi debit air mulai menurun, demikian juga dengan ketinggiannya. Kita harapkan ini terus menurun. Mudah-mudahan malam ini (semalam-red) tidak terjadi hujan,” ujarnya kepada Babel Pos, semalam.
“Untuk titik banjir paling parah di daerah kita (Bateng-red) saat ini memang di dekat jembatan Berok, dimana ketinggian air masih 1 meter lebih,” sambungnya.
Diungkapkannya, hingga sekarang pihaknya terus melakukan evakuasi terhadap warga pada masa tanggap darurat ini. Kondisi siaga satu pun menurutnya masih belum dicabut. Untuk itu, ia pun meminta warga agar tetap waspada mengingat ketinggian air bisa saja terjadi sewaktu-waktu.
“Kita juga menghimbau warga jangan terlalu dekat dengan lokasi banjir, bisa berbahaya, terutama di dekat jembatan Berok. Sebab, arusnya masih cukup deras. Selain itu, patuhi apa yang disampaikan petugas di lapangan dan jangan nekad menerobos tanpa ada pengawalan dari petugas di lapangan. Kadang-kadang warga kita ini menganggap remeh hal seperti ini. Makanya, kita minta himbauan seperti ini dapat benar-benar diperhatikan betul,” ingatnya. (pas/obh/tob/fiz/aka/trh/joi/lya/bgs/red)