by -
Hikmah Jum’at

Pembelajaran dari Kisah Qobil dan Habil

 

Oleh: Sadely Ilyas

 

Pengorbanan dua anak Adam As. tidak akan sia-sia jika anak-cucunya seperti kita ini bisa memaknai peristiwa kehidupan manusia dan kejadian awal dari berbagai peristiwa rumit yang berkembang di dunia terutama cinta, kebencian, pembunuhan dan kekuasaan. Pembunuhan antara sesama manusia ketika dua saudara Habil dan Qobil memperebutkan cinta yang tak lain saudaranya juga yang dilahirkan dari Adam dan Siti Hawa yang memperebutkan Iklima.

Seperti dikisahkan, Siti Hawa setiap mengandung selalu melahirkan dua orang anak, satu laki-laki dan satu perempuan. Kala itu jumlah manusia baru enam orang. Allah SWT kemudian memerintahkan Nabi Adam As. agar memberlakukan terjadinya perkawinan secara silang, yaitu anak laki-laki dari kelahiran pertama dinikahkan dengan anak perempuan dari kelahiran kedua. Demikian pula sebaliknya, anak laki-laki kelahiran kedua dinikahkan dengan anak perempuan dari kelahiran pertama.

Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 27 menceritakan pertikaian dua bersaudara yang berakhir dengan pertumpahan darah, yang terjadi pada kedua putra Nabi Adam As dan Siti Hawa, yaiki Habil dan Qobil. Certita ini juga menjadi pertanda awal pertentangan dan sekaligus embrio tragedi kemanusiaan. Sebab terjadinya pembunuhan antara Qobil dan Habil, seperti banyak diuraikan dalam kitab tafsir yang merujuk pada rentetan kalimat di atas.

Iklima sesungguhnya adalah saudara perempuan Qobil yang merupakan kelahiran pertama Siti Hawa. Sedangkan kelahiran kedua Siti Hawa melahirkan Habil dan saudara perempuannya, Labuda. Bila mengacu pada aturan yang telah ditetapkan Allah SWT, maka Qobil harus menikah dengan Labuda, dan Habil menikah dengan Iklima. Allah SWT selalu punya rahasia yang tidak diketahui manusia ciptaan-Nya. Karena ketidaktahuan itu manusia selalu menuruti kehendak hatinya yang dibiarkan lepas hingga menuju lautan kekuasaan diri yang berlebihan. Egoisme Qobil berkehendak menolak ketentuan Sang Maha Pencipta, Allah SWT yang melarang menikahi saudara perempuannya yang berkelahiran sama. Namun Allah SWT menggantikan dengan Ciptaan-Nya yang lain. Qobil diperkenankan menikah tetapi dengan Labuda yang kurang beruntung karena seperti yang dirasakan Qobil, Labuda yang buruk rupa dibandingkan dengan Iklima yang cantik, saudara perempuannya. Qobil bersikeras untuk mengawini Iklima, saudara perempuannya yang lahir bersamanya. Terang saja Habil melayangkan protes.

Selaku orang tua Nabi Adam As. mencoba menengahi masalah pelik ini. Karena Qobil tetap ngotot pada pendiriannya, Nabi Adam pun menyuruh Qobil dan Habil untuk melakukan pengorbanan dari hasil usaha keduanya. Usulan Nabi Adam As. diterima mereka. Qobil mengorbankan hasil tanamannya yang paling buruk, sedangkan Habil yang berprofesi sebagai peternak mengorbankan kambing terbaik dari hasil ternaknya. Allah SWT menurunkan api kepadanya dan membakar kambingnya. Beginilah Allah SWT menerima korban yang dipersembahkan Habil dengan cara Allah SWT.

Isyarat tersebut menunjukkan Qobil harus menikahi Labuda. Sayangnya Qobil tak mau menerima keputusan Allah SWT. Qobil justru naik pitam dan berniat menghilangkan nyawa alias membunuh Habil. Tak ayal, beberapa saat setelah peristiwa itu, Habil pun tewas akibat ulah Qobil yang jiwanya sudah terselimut emosi dan hawa nafsu. Akibatnya Qobil termasuk orang yang celaka, dan Habil tergolong orang yang selamat. Setelah sadar barulah kemudian Qobil menyesali tindakan yang telah diperbuatnya salah.

Seperti dinukilkan dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 28-30, Allah SWT berfirman yang artinya: ”Sungguh kalau kamu menggerakan tanganmu kepadaku untuk membuhuhku, aku tidak akan sekali-kali menggerakkan tanganku untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam. (QS. Al-Maidah: 28)

Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim. (QS. Al-Maidah: 29)

Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi.”(QS. Al-Maidah: 30)

Dari rangkaian cerita di atas, pelajaran penting yang bisa kita petik bahwa munculnya konflik yang berujung pada lenyapnya nyawa seseorang satu dari sekian faktornya disebabkan sikap membangkang atas ketentuan yang sudah digariskan Allah. Bermula dari sikap tidak ridha inilah, lantas berbagai rentetan penyakit lain bermunculan, seperti hasut, dengki, iri hati, dan lahirnya aneka perilaku buruk yang dapat mencelakakan pihak lain.

Kiranya realitas tersebut dapat pula menimpa siapa pun, tak terkecuali dalam kehidupan masyarakat kita saat ini. Dalam konteks pemilihan kepala daerah misalnya, seseorang beserta kubunya yang tidak siap menerima kekalahannya akan menghalalkan segala cara untuk merongrong pihak yang menang, mengerahkan massa, menghancurkan kantor-kantor pemerintahan, atau membuat kerusuhan yang berakibat orang lain terluka. Andai kata pihak yang tersingkir menyadari dan menerima secara lapang dada bahwa ini memang sudah menjadi kehendak Allah, niscaya sikap permusuhan bisa dihindari. Toh, pihak yang kalah belum tentu dianggap kelompok yang hina, atau dikatakan tidak berguna bagi masyarakat.

Sisi lain dari kisah Qobil dan Habil, sesungguhnya Allah SWT ingin menggambarkan sekaligus mengingatkan ’jati diri manusia’ yang kadang sok jagoan, dan lebih senang mengikuti hasrat hawa nafsunya yang dikendalikan setan. Bila kita mau jujur, jangankan ketokan palu yang dihasilkan oleh sekumpulan manusia, sesuatu yang multak datangnnya dari Allah SWT saja masih sering dibantah dan diingkari manusia. Manusia memang senang berkelit dan beralibi supaya dapat membenarkan tindakan dirinya, seakan-akan mereka tidak melakukan kekhilafan. Bukankah Allah SWT lebih tahu mengenai skenario perjalanan jagat raya ini, dibanding manusia yang memiliki ragam keterbatasan?

Orang yang menyambut baik apapun keputusan Allah SWT, lantas berprasangka baik kepada-Nya, hakikatnya menjadi orang yang beruntung. Ibnu Mas’ud berkata, Rasulullah Saw. bersabda: ”Laksanakan apa yang diwajibkan oleh Allah, maka engkau akan menjadi orang yang paling taat. Jauhi olehmu apa yang diharamkan Allah, maka engkau akan menjadi orang yang paling berhati-hati. Ridhalah kalian pada ketentuan Allah, maka engkau akan menjadi orang yang paling kaya.” (HR. Ibnu ’Addi)

Sejarah tentang kisah Qabil dan Habil setidaknya menjadi pelajaran bagi manusia untuk mengendalikan hawa nafsu berupa iri dengki, hasud, dan dendam dalam setiap keadaan dan kesempatan. Selain itu, lazimnya manusia menyesali kekeliruan langkahnya setelah perbuatan negatif usai, hal ini bisa terjadi karena ketidaktahuan dan kebodohan manusia. Akhir kalam, mudah-mudahan kita menjadi hamba Allah yang senantiasa ikhlas atas kemauan-Nya, berupa menjalankan perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Semoga, amiin.Wallahu A’lam(**)