by -

 

 

201240_195209_LGBT_pelukan_d
Ilustrasi LGBT

LGBT Tak Berhak Bicara Hak
>Jika Orientasi Seks Masih Menyimpang
PANGKALPINANG – Merebaknya perkembangan lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) di Indonesia dirasakan sebagai bentuk keprihatinan yang mendalam oleh salah satu aktivis LSM Perlindungan Perempuan dan Anak Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Zubaidah.
Kepada Babel Pos, Zubaidah, mengatakan LGBT di Indonesia tidak boleh dibiarkan tumbuh dan berkembang karena di dalam Islam dan semua agama atau keyakinannya tidak membenarkan LGBT ini. Karena itulah dalam rangka menyelamatkan para generasi muda di masa depan agar tidak terjebak di dalam pemahaman hubungan seks yang salah dan melanggar tersebut, maka yang dibutuhkan adalah peran orang tua sebagai madrasah paling utama untuk senantiasa menanamkan pentingnya nilai-nilai agama di dalam menjalani kehidupan ini.
Bahkan hal ini seharusnya sudah dilakukan sejak bayi masih dalam kandungan. Apalagi bagi seorang muslim hal ini begitu sangat-sangat memiliki peran penting untuk terlahirnya seorang generasi muslim yang cerdas, berakhlak mulia dan beramal soleh.
“Saya yakin dengan peran orang tua yang optimal dalam mendidik anak-anaknya tersebut, maka generasi ini akan bisa terhindar dari pemahaman ekstrim LGBT, yang jelas dalam pandangan agama adalah penyimpangan sedangkan dalam tatanan sosial pemahaman ini juga merupakan sebuah hal yang sangat keliru dan salah jika disebut sebagai gaya hidup,“ ujarnya.
Orang memiliki kewajiban untuk mengawasi dan memantau apa yang dilakukan oleh sang anak baik laki-laki maupun perempuan saat berada di luar rumah.
Zubaidah menyebut bahwa dari pengalaman yang selama banyak ia ditemukan bahwa, mereka-mereka yang tergabung dalam komunitas yang berpandangan terhadap hubungan seks menyimpang ini memang kebanyakan berasal dari keluarga broken home.
Misalnya yang dibesarkan oleh sang ibu atau bapaknya tentunya berbeda konteks dengan ketika anak hanya dibesarkan oleh seorang ibu tunggal maka akan condong ke penyimpangan seks sebagai lesbian tetapi kalau dibesarkan oleh ayahnya maka cenderung kepada homo. Sehingga sekali lagi memang peran orang tua sangat-sangat jelas menentukan bagaimana sang anak akan memperoleh masa depannya.
Disamping peran utama sebagai nomor wahid, maka selanjutnya faktor lingkungan tempat anak dibesarkan juga sangat mempengauhi.
“Mereka komunitas LGBT ini bilang bahwa hak-hak mereka dilanggar. Padahal sebenarnya mereka lah yang melanggar hak orang lain yang berarti juga melanggar hak asasi manusia (HAM) khususnya hak perempuan. Karena yang berhubungan seks ini memang antar lawan jenis bukan oleh orang-orang satu jenis.
Sehingga, saya mempertanyakan darimana komunitas LGBT ini mengatakan bahwa hubungan sesama jenis adalah hak mereka. Padahal selama mereka masih terus melanggar dan melakukan perbuatan yang menyimpangnya tersebut, maka mereka tidak berhak berbicara soal hak di Babel. Kata Zubaidah, kalaupun ada komunitas yang menyimpang semacam ini, maka mereka melakukan semuanya untuk “menjual diri“ demi faktor uang.
Tapi di sisi lain ada juga anggota komunitas ini yang berasal dari keluarga baik-baik, mereka menikah, berkeluarga dan memiliki anak walaupun aktivitasnya lebih kepada keperempuanan seperti di salon, rias pengantin atau memasak,“ sebut Zubaidah lagi. (lya)