3 Ditahan, 1 Saksi & 1 Kabur

by -

Operasi PETI, 6,3 Ton Timah Diamankan

OPERASI Peti Menumbing 2015 oleh Polres Bangka Tengah (Bateng), Polres Bangka Selatan (Basel) dan Polres Bangka hingga Rabu (11/11) kemarin, setidaknya berhasil mengamankan sebanyak 6,5 ton timah. Selain itu juga 3 pemilik ditahan, 1 orang berstatus saksi dan 1 orang lagi berhasil melarikan diri.
Kapolres Bateng, AKBP. Roy Ardhya Candra, SIK melalui Kasatreskrim, AKP. Pebriandi Haloho, SIK mengatakan tindakan tersebut dilakukan sebagai upaya penertiban aktivitas penambangan ilegal. Ia menegaskan, Operasi Peti Menumbing 2015 ini mengedepankan penindakan terhadap para pelaku tambang dan kolektor timah. “Saat ini, kami telah mengamankan 2 orang tersangka kolektor timah dan 1 saksi lainnya di kediamannya masing-masing,”ujar AKP. Pebriandi Holoho, Rabu (11/11) kemarin.
Diungkapkannya, para tersangka kolektor timah yang diamankan tersebut adalah NA (42) warga Desa Kemingking Kecamatan Sungaiselan dengan 523 kg dalam 15 kampil yang disimpan di dalam rumahnya tepatnya dibawah ranjang pada Jum’at (6/11) malam sekitar pukul 22.00 WIB. Kemudian AR (32) warga Desa Berok dengan barang bukti 132 Kg pasir timah di dalam 4 kampil diamankan di rumahnya pada Minggu (8/11) siang pukul 13.00 WIB, ditangkap juga oleh pihak Polsek Koba. “Selanjutnya seorang lainnya yakni, RO (34) warga Desa Penyak dengan barang bukti 14 kampil pasir timah dengan total 349 kg pada Senin (10/11) malam 21.15 WIB disembunyikan di dapur rumah tertangkap oleh Polsek Koba kemudian dilimpahkan ke Polres Bateng hingga kini masih berstatus sebagai saksi dan dalam pengembangan, karena menurut keterangan saksi barang tersebut adalah titipan orang,”katanya.
Ditegaskannya, sementara hingga saat ini di wilayah hukum Polres Bateng, baru pihak Polsek Koba yang berhasil melakukan penangkapan terhadap kolektor timah. “Selanjutnya kita terus menargetkan secara optimal giat Peti Menumbing 2015 ini, sementara pihak polsek diharapkan dapat lebih mengoptimalkan giat imbang dalam operasi ini,”tukasnya.
Para tersangka yang diamankan oleh pihak kepolisian tak bisa lagi menghindar dan mengelak terkait kepemilikan pasir timah tanpa izin tersebut, kemudian mereka pun mengakui jika mereka menjual pasir timahnya kepada orang yang tak dikenal atau siapa pun penawar tertinggi dengan harga beli Rp 60 ribu dan harga jual Rp 75 ribu.”Para tersangka telah diamankan, kemudian akan dijerat dengan UU Minerba pasal 158. Selain itu pula, operasi ini akan kita laksanakan secara maksimal untuk mencegah adanya aktivitas penambangan ilegal di Kabupaten Bateng ini,”tandas Pebriandi.
Sementara itu, Polres Basel berhasil mengamankan sebanyak 47 kampil pasir timah kering dan 4 kampil timah basah, Selasa(10/11) sekitar pukul 12.00 WIB yang langsung dipimpin Kasat Reskrim Basel AKP Henri.”Sekitar pukul 10.30 WIB, Tim Ops Peti mendapat informasi ada jual beli timah di Desa Terep. Pelaku dengan inisial KD berhasil diamankan, dan dimintai keterangan dan terus dilakukan penyelidikan maupun penyidikan selanjutnya. Ditemukan pasir timah kurang lebih 47 kampil timah kering dan 4 kampil timah basah, kurang lebih 2,3 ton,”terangnya Kasat Reskrim AKP Henri seizin Kapolres Basel AKBP Satria Rizkianov kepada Radar Bangka,Rabu (11/11).
Sebelum operasi jajaran Polres Basel menggelar apel konsulidasi yang dipimpin langsung oleh Waka Polres Kompol Andi Batara memberikan arahan dan petunjuk peraktis di lapangan.”Pemilik dan barang bukti pasir timah,timbangan beserta alat penggorengan pasir timah saat ini sudah diamankan di Mapolres Basel untuk pemeriksaan lebih lanjut,”tukas Henri.
Sama halnya dengan Polres Bateng dan Basel, Polres Bangka juga berhasil mengamankan timah ilegal. Unit Tipiter Satreskrim dan Buser Polres Bangka, mengamankan sebanyak 60 kampil pasir timah yang ditanam didalam pekarangan rumahnya di bawah pohon rambutan. Dalam penangkapan tersebut, pemilik timah berinisial Ak berhasil melarikan diri.
Kapolres Bangka. AKBP Sekar Maulana melalui Kasatreskrim Polres Bangka. AKP Agus Arif Wijayanto kepada sejumlah wartawan, Rabu (11/11) mengatakan, pengungkapan penyimpanan pasir timah tanpa dilengkapi izin bermula dari penyelidikan yang dilakukan oleh Polres Bangka sejak beberapa hari terakhir dalam rangka Operasi Penertiban Penambangan Timah Illegal ( PETI) Menumbing 2015. Penyelidikan yang dilakukan pun akhirnya membuahkan hasil. Rabu sore kemarin (11/11) sekitar pukul 15.00 WIB, Unit Tipiter bersama Buser Polres Bangka yang dipimpin oleh Kasatreskrim Polres Bangka. AKP Agus Arif Wijayanto langsung mendatangi kediaman orang tua AK yang berada di lingkungan Air Kenanga tepatnya di belakang Rumah Sakit Arsani Sungailiat.
Saat tim berada di kediaman orang tua Ak, petugas mengalami kendala di lapangan lantaran penghuni rumah diduga sedang berada di tempat.  Tak ingin buruannya lepas, polisi pun memanggil kaling setempat dan lurah Kenanga mendampingi polisi masuk ke dalam halaman pekarangan rumah orang tua Ak.
Pada saat berada di TKP, polisi mencurigai ada dua gundukan tanah seperti terlihat belum lama digali. Gundukan tanah itu berada di samping pohon rambutan pekarangan rumah orang tua Ak. Setelah dilakukan penggalian, polisi menemukan puluhan kampil pasir timah yang di tanam didalam tanah samping pohon rambutan. Akhirnya, sebanyak 60 kampil pasir timah yang ditanam di dua lobang di pekarangan rumah orang tua Ak diamankan petugas ke Mapolres Bangka.”Jadi pasir timah itu di tanam didua lobang di halaman rumah orang tua Ak. Kami menduga, Ak ini lah yang memiliki pasir timah ini,”ungkapnya.
Menurutnya, pada saat penggerbekan dan penggeledahan dilakukan, Ak diduga telah mengetahui polisi akan melakukan penggeledahan terhadap kediaman orang tuanya sehingga membuat Ak melarikan diri.”Tapi kita akan terus berupaya mencari saudara Ak ini. Dan kalau sudah kami tangkap, akan kami proses perkara ini lalu kami limpahkan ke Kejaksaan,”katanya.
Lanjutnya, berdasarkan informasi yang mereka terima di lapangan, pasiir timah yang ditanam Ak ini diperoleh dari hasil penambangan yang Ia lakukan serta membeli pasir timah tersebut dari penambang kecil. “Informasi yang kami dapatkan, sebagian timah itu hasil nambang dan beli dari penambang. Karena sekarang Operasi PETI, jadi timah itu dia tanam untuk mengelabui petugas,” tambahnya.
Sambungnya, Operasi PETI yang masih berlangsung hingga saat ini, Agus menduga para kolektor timah lebih memilih menyimpan pasir timahnya didalam tanah ketimbang didalam gudang. Pasalnya, sejauh ini, sudah dua kali Polres Bangka berhasil mengungkapkan aksi para kolektor yang menyimpan pasir timah dengan cara di tiimbun didalam tanah.”Jadi modus seperti ini lah yang digunakan oleh kolektor timah saat ini. Tapi kita akan berupaya untuk mengungkapkan modus penyimpanan pasir timah didalam tanah,”pungkasnya (and/bim/red)