3A Terminal Wisata

by -
3A Terminal Wisata - Fendi Haryono

Oleh. Fendi Haryono

RENCANA Pemerintah kabupaten Belitung untuk mem-branding Terminal Tanjungpandan menjadi Terminal Pariwisata tentu sangat menarik untuk dicermati.

Bukan karena menghidupkan yang selama ini vakum. Lebih dari itu, setelah hidup, akan lebih dihidupkan lagi dengan banyak gagasan.

Bahkan, menurut pemberitaan di dari berbagai media, terminal ini disebutkan akan menjadi Terminal Pariwisata pertama di Indonesia. Ini akan sangat menarik. Tentu akan jadi jualan baru bagi penggiat wisata di Belitung.

Gagasan destinasi dengan judul Terminal Pariwisata atau Terminal Wisata, sepertinya sudah ada di Kecamatan Tangkuban Perahu. Tepatnya di Desa Cikole. Nama pendek destinasi wisatanya TWGC. Panjangnya Terminal Wisata Grafika Cikole. Itu perbukitan yang isinya tempat peristirahatan dan atraksi dalam bentuk outbound.

Namun, terminal bus yang kemudian disulap jadi Terminal Wisata, boleh jadi terminal yang destinasi wisata, baru kali ini dan hanya di Belitung. Ide yang sangat menarik.

Untuk memulai, tentunya ada banyak sudut pandang yang menjadi perhatian.

Yakni ada tiga aspek yang kekinian masih menjadi andalan Kemenparekraf. Diantaranya Akses, Atraksi, dan Amenitas.

Konsep yang diusung Pemkab Belitung untuk Terminal Tanjungpandan memenuhi semua unsur tersebut.

Pertama akses. Dalam dunia pariwisata, akses atau connectivity ke suatu destinasi menjadi salah satu hal penting. Akses yang dimaksud di sini tidak melulu membahas asal jalur menuju lokasi.

Akses melingkupi jarak. Apakah dekat atau jauh. Selain itu apakah aman? Lebih jauh lagi akan ada pertanyaan, biayanya berapa?

Terakhir adalah gampang. Artinya tidak harus melalui jalur berliku, naik turun bukit. Demikianlah sederhanya terkait akses.

Kembali ke terminal.

Salah satu area paling strategis di Tanjungpandan tentu saja terminal. Berada di tengah kota; Dekat dengan jantung kota; Jalur lurus ke bandara; dan masih banyak lagi.

Selain itu, terminal adalah aset vital bagi Pemerintah Kabupaten Belitung. Meski keberadaannya dipandang sebelah mata, tapi harus tetap ada. Selain itu, perlu area yang luas pula.

Apalagi, setiap wisatawan yang datang ke Belitung akan melewati terminal. Tak boleh tidak.

Kemudian atraksi. Di Spanyol ada banyak atraksi. Negeri matador itu melestarikan tempat-tempat bersejarah. Bentuknya berupa arsitektural klasik, dan gedung berumur yang berusia ratusan hingga ribuan tahun.

Itu Spanyol, Setidaknya itulah gambaran atraksi yang dimaksud.

Di Belitung, di ujung nan jauh pelosok Sumatera ini, lain lagi bentuk atraksi yang bisa di-performing-kan.

Adanya warkop di sekeliling terminal, dengan dekorasi yang menarik, akan menjadi magnet. Hingga kini belum ada magnet kuat dan mampu menyaingi rutinitas ngopi. Dalam perjalanannya, banyak hal bisa diceritakan hanya dari ngopi.

Selanjutnya amenitas. Ini pun tak kalah penting. Semuanya juga jadi hal utama, termasuk amenitas. Dalam kosmos yang lebih kecil, prasarana pendukung wisata ini wajib dipenuhi.

Terminal Tanjungpandan sebetulnya sudah lengkap. Semua fasilitas ada.

Dari mulai kios restoran, kios kopi, masjid, kantor, dan kamar kecil. Meski masih diperlukan pembenahan, yang jelas unsur-unsur pendukung ini sudah ada.

Yang diperlukan hanya pemolesan. Seperti halnya Belitung, laik dayang kampong yang manis dan perlu polesan sedikit agar boleh disebut cantik.

Prosfek terakhir yang selama ini menjadi PR pemerintah adalah pemberdayaan KUKM (Koperasi Usaha Kecil Menengah). Terutama mereka yang jualannya masih bersifat lokal dan belum berfikir untuk ekspor.

Meski terdengar “kecil” kenyataannya KUKM merupakan salah satu leader sektor perekonomian di Indonesia.***