9 Tersangka Tragedi Sijuk Mulai Disidang, Didakwa Pasal Berbeda

by -
9 Tersangka Tragedi Sijuk Mulai Disidang, Didakwa Pasal Berbeda
Para terdakwa tragedi Sijuk saat duduk di kursi pesakitan PN Tanjungpandan, Selasa kemarin.

belitongeskspres.co.id, TANJUNGPANDAN – Sebanyak 9 tersangka kasus penganiyaan, pengerusakan dan pembakaran saat penertiban tambang ilegal di kawasan Sijuk, mulai disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Tanjungpandan, Selasa (22/12) sore kemarin.

Sidang perdana ini mengagendakan pembacaan dakwaan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Belitung dan terbuka untuk umum. Puluhan massa dari masyarakat ikut menyaksikan jalannya sidang kasus tragedi Sijuk tersebut.

Adapun para terdakwa dari pihak penambang adalah Iskandar (40), Nurdiansyah (25), Anggara (32), Galuh (23), Martani (51), Wendri (32), Hendra (30), dan Indra (38). Sedangkan terdakwa dari Satpol PP Provinsi Babel yaitu Sandi Aji (45). Dalam kasus ini mereka didakwa pasal yang berbeda.

Di hadapan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Tanjungpandan yang diketuai Anak Agung Niko Brama, didampingi Hakim Anggota Rino Adrian dan Andri, JPU Kejari Belitung Jaksa Aulia Pradana membacakan dakwaan masing-masing terdakwa tersebut.

Jaksa Aulia menjelaskan, untuk Anggara, Galuh, Martani, Hendra, Indra, Nurdiansyah dan Wendri, pihaknya mendakwa dengan Pasal 170 ayat 1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), Pasal 406 ayat 1 KUHP junto 55 KUHP.

Sebab, mereka dinilai telah melakukan pengerusakan fasilitas negara. Seperti sejumlah mobil dinas milik Pemerintah Provinsi Bangka Belitung dan Satpol PP Kabupaten Beltim. Akibat peristiwa ini, negara mengalami kerugian ratusan juta rupiah.

Sementara untuk Wendri, JPU mendakwa dengan pasal berlapis. Yakni Pasal 351 Ayat 1 KUHP atau Pasal 212 KUHP. Pasalnya, selain merusak fasilitas negara, Wendri juga melakukan penganiyaan terhadap Satpol PP atau melawan petugas.

“Akibatnya perbuatan yang dilakukan oleh Wendri, sejumlah mobil mengalami kerusakan. Serta sejumlah Satpol PP Provinsi Bangka Belitung (Babel) mengalami luka-luka,” kata Jaksa Aulia ketika membacakan dakwaan.

Sedangkan untuk Anggota Satpol PP Babel Sandi Aji, JPU mendakwa dengan Pasal 170 Ayat 1 KUHP Juncto Pasal 55 Ayat 1 ke 1 KUHP atau Pasal 406 Juncto Pasal 55 Ayat 1 KUHP. Dalam kasus ini, Sandi diduga telah menggunakan jabatannya untuk memerintahkan Satpol PP membakar alat mencari timah milik penambang.

Jaksa Aulia memaparkan peristiwa ini terjadi pada bulan November 2019 lalu. Pada saat itu rombongan Satpol PP yang dipimpin Wakil Gubernur Babel Abdul Fatah dan Kasatpol PP Provinsi Babel Yamoa’a Harefa melalukan razia penertiban tambang di lokasi.

Setelah tiba di lokasi, oknum Satpol PP ini diduga melakukan pembakaran terhadap alat tambang inkonvensional (TI). Akibat pembakaran ini, menimbulkan asap tebal. Melihat kepulan asap tersebut, 8 terdakwa dari penambang langsung menuju ke lokasi.

Sesampai di tempat kejadian mereka melihat oknum Pol PP melakukan pembakaran. Para terdakwa yang kesal dengan apa yang dilakukan oknum Satpol PP. Para terdakwa akhirnya melalukan perlawanan. Sehingga terjadi peristiwa pengerusakan mobil dan penganiyaan.

Menanggapi dakwaan yang dibacakan Jaksa, seluruh terdakwa tidak mengelak. Mereka mengakui dan menyatakan tidak keberatan dengan dakwaan dari Kejaksaan Negeri Belitung. Sidang kembali digelar awal Januari 2021 tahun depan, dengan agenda pemeriksaan saksi. (kin)