98 Calon Jemaah Umroh Terkatung-katung

by -

*Sudah Bayar Biaya, Penyelenggara Sering Menghindar

TANJUNGPANDAN- Sebanyak 98 orang jumlah calon jemaah umroh di Kabupaten Belitung dan Belitung Timur hingga kini terlantar dan masih terkatung-katung nasibnya. Padahal, jamaah yang terdaftar di Kantor Cabang PT Linus Belitung sejak tahun 2013 sampai 2015 itu sudah memenuhi kewajiban membayar biaya umroh.
Tidak jelasnya jadwal keberangkatan mereka dalam rangka ibadah umroh di Mekkah Al-Mukarromah itu memunculkan “kegeraman” dari sejumlah jamaah. Sebab, mereka merasa sudah membayar biaya umroh. Bahkan, sebelumnya sempat dijanjikan akan berangkat sampai dua kali, meski akhirnya gagal terus hingga saat ini.

Tak tahan dengan kondisi yang serba tidak pasti ini, perwakilan calon jemaah umroh Rabu (18/3) kemarin, mendatangi Kantor Bupati Belitung untuk meminta agar dilakukan mediasi dengan Pimpinan Kantor Cabang PT Linus Belitung H. Rusli.

Anggota Pengurus Ikatan Persaudaran Haji Indonesia (IPHI) Kabupaten Belitung H Asmai Ahmad mengatakan, alasan penundaan keberangkatan para calon jemaah umroh yang sudah terdaftar sejak tahun 2013 sampai tahun 2015, hingga saat ini belum ada kejelasan. “Sementara uang yang sudah terkumpul dari calon jemaah, hampir mencapai Rp 3 milliar. Sampai sekarang, tidak ada kepastian. Lantas, orangnya (H Rusli,red) sudah menghilang,” kata Asmai kepada BE Rabu (18/3) kemarin.
Dikatakannya, para calon jemaah umroh itu bahkan sudah sampai enam kali dijanji-janjikan oleh Haji Rusli akan segera diberangkatkan. “Sampai hari ini pun, koper barang-barang mereka masih ada di Kantornya Haji Rusli,” bebernya.
Asmai menyebut, sebanyak 17 orang dari jumlah calon jemaah umroh yang datang menghadap Bupati hari ini di antaranya dua leader dari Belitung Timur di bawah naungan Haji Rusli. “Yakni pak Junaidi dan Ibu Lia. Mereka berdua tim leader Beltim,” ujarnya.
Pengurus MUI Kabupaten Belitung ini menyatakan, sejauh ini para jemaah umroh telah berupaya menghubungi nomor telepon Haji Rusli. Namun, tidak pernah diangkat. “Jadi, untuk sementara sesuai hasil kesepakatan rapat bersama dengan pak Bupati tadi (Rabu, 18/3 siang kemarin,red), masalah ini jangan dulu dibawa ke ranah hukum,” katanya.

Alasannya, karena pemerintah daerah masih tetap akan memfasilitasi dan menangguhkan waktu sampai pada batas tanggal 31 Maret 2015 mendatang. “Jika Pemda tidak berhasil memediasi jemaah dengan yang bersangkutan (Haji Rusli,red). Maka, barulah akan dibawa ke ranah hukum,” ungkapnya.

Jadi, pada saat Pemda memberikan tenggang waktu untuk melakukan pemanggilan terhadap Haji Rusli. Tetapi, yang bersangkutan tidak dapat hadir misalnya. “Pemda harus segera melaporkan kembali kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) Belitung. Artinya, untuk bermusyawarah kembali dengan para jemaah. Apakah mau dilanjutkan keranah hukum atau tidak?,” terangnya.
Wakil Bupati Belitung Erwandi A Rani mengatakan, pemerintah daerah sifatnya hanya memediasi saja. Sebab, pemerintah juga tidak boleh harus mengintervensi agar mengajukan ke ranah hukum.
“Yang berhak itu adalah yang sedang berperkara. Kita (Pemda,red) hanya memberi mediasi dengan tenggang waktu sebelum tanggal 31 Maret 2015,” kata Erwandi.

Erwandi menginginkan, agar mediasi tersebut nantinya dapat dihadiri oleh pihak-pihak terkait. Baik dari isteri Haji Rusli maupun dari jemaah umroh. “Harapan saya semoga semua yang mengelola travel-travel ini hadir. Bagaimana pernyataan mereka terhadap jemaah ini,”  harapnya.

Erwandi mengatakan, jika proses mediasi tidak berhasil dilakukan. Prinsipnya, pemerintah daerah sudah melakukan mediasi.  “Soal proses selanjutnya mau diapakan, itu terserah jemaah yang berwenang saja.Tapi saya berharap, semoga ada statemen pak Haji Rusli dalam mediasi nantinya,” tandas Erwandi.
Pengamatan Belitong di rumah H Rusli yang juga dikatakan sebagai kantor, H Rusli sering tidak ada di rumah. Hingga berita ini dicetak, H Rusli pun  belum bisa dikonfirmasi.(mg2)