“Abay Mau Sekolah Lagi, Mak”

by -

PANGKALPINANG – Dengan posisi miring dan nyaris telungkup, suara lirih Abay terdengar penuh semangat. Meski dengan lubang menganga di bagian punggung dekat tulang ekor membuatnya tak mampu berbaring secara normal, namun bocah berusia 6 tahun itu merindukan bersekolah kembali.

“Abay mau sekolah lagi, mak. Habis lebaran sekolah ya mak,” kata Abay di ranjang putih ruang Asoka RSUD Depati Hamzah Pangkalpinang, Selasa (31/5) kemarin.

Dengan kondisi yang lemah itu, Pria mungil bernama lengkap Hardiansyah Rozikin Akbar itu, tetap teguh niatnya mengenyam pendidikan. “Nggak apa-apa pakai kursi roda, nanti mak yang dorong,” ucap Abay kepada sang Ibu, tidak lama setelah menjalani operasi di bagian punggung, pada 29 Desember 2015 silam.

Kata-kata sang Buah hati membekas di hati Siti Muawana, ibunda Abay saat mendampingi anaknya yang kini terbaring tak berdaya.
Abay divonis kanker tulang oleh dokter pada Desember lalu, setelah ditemukan benjolan sebesar telur ayam di punggungnya.

Namun, siswa TK Pembina 2 di Kelurahan Air Itam, Pangkalpinang itu, tak mengeluh sakit berlebihan. Dia hanya mengaku kaki kanannya sakit dan sulit bergerak. Pihak keluarga mengaku terkejut saat pertama kali mendapatkan kabar buruk tersebut. “Pas kami periksa kaki kanannya ke dokter dan ternyata ada kanker di punggung. Makanya kami tak menyangka sama sekali. Apalagi disebut kanker stadium lanjut,” ungkap Miftahudin, ayah Abay.

Berbekal kartu BPJS Kesehatan, Abay dioperasi di RSUD Depati Hamzah Pangkalpinang. Usai operasi, kondisi Abay sempat membaik dan lincah seperti anak-anak lainnya. Selama dua bulan, Abay rajin ke sekolah. Sampai pertengahan Februari 2016, Abay tak kuat lagi. Tubuh mungilnya tidak mampu menahan kanker ganas yang mendera tubuhnya.

Kini, Abay lemah tak berdaya. Lubang menganga di punggung dekat tulang ekor membuatnya tak mampu berbaring secara normal. Darah tak berhenti menetes di sela-sela perban yang direkatkan dengan popok bayi. Abay terpaksa tidur dengan kondisi miring sebelah kiri, tanpa sehelai benang membalut tubuhnya.

Nafas bocah yang membaca tiga surat pendek Al Quran itu tidak lagi berirama. Matanya terus terpejam, seakan-akan tidak ingin orangtua tahu derita yang dialaminya. “Kami akan terus berusaha, meski secara medis, dokter menyatakan kanker yang diderita Abay sangat parah. Namun, Allah yang menentukan hidup manusia,” kata Miftahudin.

Kepala TK Pembina 2 Airitam, Pangkalpinang Erna didampingi guru Kalsumi datang menyemangati Abay di pembaringan. “Abay, ini ibu guru Erna datang. Yuk, kasih salamnya mana” ujar Erna.

Abay hanya bergerak sebentar, lalu menyodorkan tangan kanannya. Diraihnya tangan sang guru ke arah pipi kanannya. Begitulah Abay, si pintar dan lincah di kelasnya, tetap memiliki semangat hidup yang tinggi. “Kami kangen Abay sekolah lagi. Barang-barang di kelas, masih disimpan. Anaknya lincah, nyanyi dan bacaan hapalan surat pendek baik-baik saja,” kata Kalsumi.

Pada kesempatan itu, donatur memberikan sumbangan kecil sebesar Rp1 juta mengurangi beban Abay dan keluarganya.
Walikota Pangkalpinang, Muhammad Irwansyah juga sempat menemui Abay. Ia langsung meminta Direktur RSUD Pangkalpinang, serta tim dokter terkait dan Kepala Dinkes untuk terus memantau perkembangan Abay, dan apabila kondisinya sudah memungkinkan untuk segera dibawa ke Rumah sakit di Jakarta untuk diberikan perawatan yang lebih baik, dengan peralatan yang lebih lengkap.

“Tolong pak Direktur, pak Kadinkes saya minta kondisi Abay harus dipantau terus, apabila memungkinkan, segera dibawa ke Jakarta,” ujar Irwansyah.

Orang nomor satu Pangkalpinang ini juga, berjanji kepada orang tua Abay untuk membantu Abay semaksimal mungkin. “Bapak yang sabar yah, banyak berdoa pak. Saya akan semaksimal mungkin membantu. Saya sudah, empat hari lalu dapat informasi ini, tapi belum sempat karena masih tugas luar. Hari ini, saya sempatkan harus datang,” ucapnya. (tya)