Ada Apa Dengan “Sekolah “

by -

Oleh : Sabarudin, M.Pd*

Dunia pendidikan semakin hari dihadapkan pada semakin kompleksnya masalah pendidikan. Berbicara masalah pendidikan bukan hanya berbicara mengenai sekolah yang berkaitan  dengan kurikulum, guru, siswa, dana, sarana prasarana,  hubungan sekolah dan masyarakat, layanan khusus.
Tetapi lebih dari itu.  Kalaulah kita mau jujur bercermin, masih kita temui tingginya kasus tawuran pelajar, tingkat putus sekolah, pernikahan dini dan kasus kasus lain yang dilakukan oleh siswa. Akibat yang ditimbulkan cukup serius dan tidak dapat lagi dianggap sebagai suatu persoalan sederhana. Sebab, tindakan tersebut sudah menjurus kepada tindakan kriminal.
Potret buram tawuran  pelajar ini menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan kita, ketika begitu besar harapan semua komponen bangsa akan lahirnya generasi yang cerdas, berkarakter dan berintegritas tinggi. Pertanyaan krusial dan mendesak muncul di pikiran kita semua, Ada apa dengan dunia pendidikan saat ini? Apa yang terjadi dengan pelajar kita? Apakah anak didik kita tidak lagi terdidik?
Banyak pihak menanggapi fenomena di atas. Kritik terhadap sistem pendidikan dan pembelajaranpun dilayangkan. Pendidikan kita dinilai terlalu menonjolkan kognisi tetapi minus emosi dan moral. Sebagian bahkan menilai, pendidikan kita terkesan mekanistik, full hafalan, dan mematikan kreativitas siswa. Alih-alih membenahi moral dan karakter , membuat siswa pintar saja tidak.
Kalaulah kita  berandai-andai, jika setiap kepandaian dibarengi dengan kepribadian dan karakter yang baik, tentu akan lebih mulia dan membuat pelajar bernilai dalam hidupnya. Seandainya peningkatan kecerdasan diiringi dengan kematangan mental dan spiritual, tentu  akan lahir pelajar yang unggul secara intelektual, anggun secara moral, mengusai IPTEK dan peduli sosial. Namun, sayangnya fakta lapangan menunjukkan bahwa  hal tersebut “jauhlah panggang dari api”  dimana kesantunan dan  “ilmu padi” tidak laku lagi.
Tak sedikit sekolah kini kehilangan maknanya sebagai wahana pendewasaan, bagi seluruh penghuni di dalamnya dan otoritas-otoritas yang bersinggungan dengan keberadaannya. Apa bedanya sekolah dengan penjara jika ruang-ruang kelas bagi siswa lebih mirip kerangkeng; pintu yang tertutup ketika pelajaran berlangsung, sehingga siswa kehilangan cakrawala optik alternative. Bangku-bangku memaku tubuh para siswa supaya sedikitpun tidak bergerak, dan guru-guru mirip sipir penjara; marah jika dikritik, menolak jika ada usulan, membentak jika ada kesalahan. Bahkan memukul ketika ada yang dirasanya pantas dipukul.
”The end of school (Neil Postman, 2001). Sebuah penelitian menunjukkan bahwa anak-anak rata-rata menerima 460 komentar negatif atau kritik dan 75 komentar positif atau dukungan setiap hari. Situasi seperti apakah yang  menyebabkan anak tidak menyenangi belajar di kelas dan hasilnya tidak melahirkan siswa yang cerdas,berintegritas dan berkarakter baik?
Thomas Armstrong, dalam buku “Awakening Your Child’s Natural Genius”,., Interaksara, 2004, hal.78-79, mengungkap; Pertama, di kelas anak-anak hanya menemukan buku pelajaran dan kertas kerja, dan tidak menemukan media belajar lain, seperti: binatang, tumbuhan, bahan-bahan seni, alat peraga, teleskop, mikroskop, komputer, dan lain-lain.
Kedua, di kelas anak-anak hanya menulis, membaca buku dan mendengarkan, dan tidak melakukan hal-hal yang dialami di dunia nyata seperti membongkar, membangun, bereksperimen, merancang, merencanakan, berkomunikasi serta memecahkan masalah. Ketiga, di kelas anak-anak hanya mendengarkan Guru berceramah/bercerita. Lantas, Guru yang senantiasa memberi tugas/PR, menagih tugas/PR sambil marah.
Keempat, di kelas anak-anak mengalami perlakuan belajar  ibarat “CANGKIR dan TEKO” di mana guru adalah TEKO yang menuangkan pengetahuan ke dalam CANGKIR yang kosong (Anak).
Pada dasarnya semua manusia ingin belajar, belajar dan belajar. Pada dasarnya pula semua manusia ingin belajar dengan cara yang menyenangkan. Setiap hari kita belajar, belajar dan belajar. Belajar yang diharapkan adalah belajar dengan senang, gembira, dan bahagia; selalu ditingkahi dengan gelak tawa.
Coba bandingkan dengan suasana belajar di sejumlah sekolah yang menimbulkan stress, kecemasan, bahkan ketakutan. Seharusnya sekolah  perlu menyadari dan melaksanakan sepenuh hati bahwa  kita belajar 10 % dari apa yang kita baca, 20% dari apa yang kita dengar, 30% dari apa yang kita lihat, 50% dari apa yang kita lihat dan dengar, 70% dari apa yang kita katakana dan 90% dari apa yang kita lakukan. Hal ini diperkuat dengan realitas bahwa kontribusi IQ adalah 20% terhadap keberhasilan hidup seseorang, sedangkan kontribusi kecerdasan emosional 80% terhadap keberhasilan hidup seseorang.
Semua belum terlambat. tingkat tawuran pelajar, putus sekolah, pernikahan dini dan lain-lain harus ditekan dan dikurangi kalau perlu dihilangkan. Sekolah sesegera mungkin harus mengambil inisiatif dan bersikap serta mengambil tindakan untuk membangun kembali kesadaran akan pembinaan karakter bagi pelajar di indonesia.
Lantas, perlu adanya upaya bersama, sistemik dan terpadu agar pendidikan karakter menjadi efektif dan bergaung dengan mereformulasikan dan direoperasionalkan melalui transformasi budaya dikehidupan sekolah. Ada beberapa agenda dan kegiatan yang kiranya dapat menjadi rujukan dan dijadikan contoh kepada sekolah dalam membumikan olah hati, olah pikir, olah raga dan kinestetik serta olah rasa dan karsa. Langkah konkritnya Sekolah harus menciptakan iklim dan kultur (budaya) sekolah yang kondusif.
Kultur sekolah merupakan pandangan hidup yang diakui bersama oleh warga sekolah, yang mencakup cara berfikir, perilaku, sikap, nilai yang tercermin baik dalam wujud fisik maupun abstrak.  Perilaku positif yang dibangun dan dikembangkan ini harus dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.
Dengan demikian, dapat menjadi jembatan emas dan wadah siswa beradaptasi dan bersosialisasi, sarana bertukar pikiran dan menciptakan suasana dan kondisi sehat dan kondusif.  Selain itu, perlunya perubahan secara fundamental paradigma bahwa pendidikan itu menjadi sekedar bersekolah dimana guru hanya mengajar. Akibatnya, murid tidak lagi tumbuh, ia hanya belajar.
Pada dasarnya siswa itu baik. mereka punya kebutuhan untuk berekspresi, mengendalikan, memberi atensi dan mencintai. Beberapa cara yang mereka pilih untuk mengekspresikan kebutuhan kadang-kadang tidak sesuai dengan situasi (sekolah). Jadi, sediakanlah tempat-tempat produktif  untuk melepaskan frustrasi dan berikan perhatian. Pahami pula, secara hakiki bahwa anak-anak yang gagal dan sekolah yang gagal adalah sebuah indikasi dari adanya sistem yang salah, bukan otak yang salah.
(Eric Jensen: 2008)). Jadikan sekolah sebagai  jembatan dan wadah dalam  menciptakan  jalan agar semua anak menjadi unggul dan berkarakter sesuai tumbuh kembang dan potensinya. Lakukanlah SEKARANG, karena esok belum tentu datang dan kemarin tak pernah kembali.(***)
*)Kepala SMAN 1 Gantung/Ketua Forum Ilmiah Guru Kab. Beltim.