Ada Apa Dengan Sucofindo & Bea Cukai? Zirkon Bermasalah Kok Dikirim

by -
Ada Apa Dengan Sucofindo & Bea Cukai? Zirkon Bermasalah Kok Dikirim
Pemeriksaan Zirkon Pasca Dibongkar Kemarin.

belitongekspres.co.id, PANGKALPINANG – Nyaris lolosnya 8 kontainer bahan tambang zirkon bermasalah di Pelabuhan Panghkalbalam, membuat kinerja Sucofindo dan Bea Cukai dipertanyakan. Selain tentunya peran PT CAL (Cinta Alam Lestari) selaku pemilik barang.

Kepala unit Sucofindo Pangkalpinang, Rafli kepada wartawan mengelak dipersalahkan. Rafli berdalih pemeriksaan atas barang selama ini sudah sesuai dengan Permendag 96 tahun 2019 dan Permen ESDM 25 tahun 2019. “Di mana di situ kan ada terkait dengan batasan minimum untuk dijual atau ekspor juga terkait zirkon,” sebutnya.

Pengujian lab sendiri dikatakanya dilakukan di Surabaya. “Terkait sampel zircon PT CAL kami melakukan pengiriman sendiri ke laboratorium di Surabaya. Namun sebelumnya langsung diambil sendiri sebelum diekspor,” ujarnya.

Setelah lolos dari sini lanjutnya, lalu memperoleh sertificate of analisis (CoA). Dalam hal ini juga ada pengawasan serta laporan dari surveyor. Adapun tanggung jawab pihak Sucofindo sendiri berakhir pada pemuatan barang dalam kontainer disertai penyegelan. “Ranah kami berakhir di situ,” sebutnya.

Terkait dengan polemik ini, dia bersikukuh adalah murni komoditinya adalah pasir zirkon. Di sini mayoritasnya zirkon silikan dan S22 atau kuarsa. Namun begitu dia juga tak membantah terdapat kandungan lainya namun klaimnya hanya kecil.

“Sebetulnya ada juga kandungan beberapa lainya misalnya kita lihat dari analisis yang kami keluarkan. Di situ ada kandungan lainya tapi di bawah 1 persen. Sedangkan zirkon 60,5 persen, kalau ini sudah lolos dari batasan minimum,” klaim Rafli.

Sementara itu, hingga berakhirnya pengambilan sampel usai Ashar, sedikit ada keanehan bagi awak media. Pimpinan PT CAL selaku pemilik barang yakni Marcel tidak nongol, melainkan hanya diwakili oleh petugas lapangan yakni Jonatan. Sementara itu Jonatan sendiri ogah dimintai konfirmasi, tapi dia tidak membatah atas kepemilikan barang.

Keanehan serupa juga terjadi pada pihak Bea Cukai dimana Kepala Kantor Bea Cukai Pangkalpinang, Yetty Yulianti tak nampak batang hidungnya. Padahal banyak pimpinan instansi terkait yang hadir langsung ke lapangan.

Sementara itu, Bea Cukai kemarin di lapangan hanya diwakili bawahanya. Kehadiran Yetty Yulianti sendiri di lapangan sangat dinanti wartawan guna memperoleh langsung konfirmasi dan klarifikasinya.

Dalam polemik ini Bea Cukai sendiri juga menjadi sorotan tajam media. Sebab, tiba-tiba memasang segel pada 8 kontainer tersebut pada malam hari usai dibongkar dari kapal Trans Jaya. Padahal sebelumnya hanya ada 2 segel Wan Hai dan Sucofindo saja.

Ironinya lagi, pihak Bea Cukai melalui Humasnya adalah yang paling getol menyatakan kegiatan ekspor oleh PT CAL ini adalah legal. Namun anehnya kini, pihak Bea Cukai justeru lebih memilih bungkam usai kehadiran pihak Kementerian secara langsung ke lapangan kemarin.

Sementara, menyoroti Zirkon bermasalah ini, kemarin selain pihak Kementerian ESDM, juga hadir menyaksikan kondisi lapangan yakni anggota DPR RI Komisi 7 Bambang Patijaya dan Direktur Kriminal Khusus (Krimsus) Polda Bangka Belitung Kombes Haryo Sugihartono, Kasubdit Krimsus AKBP Wahyudi dan Kadis ESDM Bangka Belitung, Amir.

Direktorat Jenderal Minerba Kementerian ESDM RI, ambil sampel zirkon dari dalam kontainer milik PT CAL. Pengambilan sampel dalam 8 kontainer dipimpin langsung oleh Dirjen Ridwan Djamaluddin. Sampel tersebut akan dilakukan uji laboratorium terkait apakah murni zirkon ataukah bercampur dengan mineral lainya.

Dalam pantauan harian ini, pengambilan sampel tersebut berlangsung sekitar pukul 13.30 WIB. Dengan cara dilakukan secara acak pada isi jumbo bag yang masing-masing berukuran 1 ton. Adapun jumlah jumbo bag sebanyak 200. Di mana masing-masing kontainer berisikan sebanyak 25 jumbo bag.

Saat pengambilan sampel, ada sedikit pemandangan mencurigakan bagi tim dan wartawan. Pasalnya, pada bagian luar jumbo, banyak terdapat ceceran pasir hitam mirip pasir timah. Kecurigaan itu juga diperkuat dengan alat digital pendeteksi mineral ikutan itu memberikan petunjuk naik turun atas radiasinya.

Akhirnya, semakin membuat petugas bekerja keras tidak saja mengambil sampel pada bagian atas jumbo bag. Melainkan dari seluruh sisi walau bersifat acak. Sehingga semakin membuat petugas bongkar pelabuhan nampak sibuk mengeluarkan jumbo bag ke luar kontainer.

Ridwan Djamaluddin kepada wartawan mengatakan kecurigaan pertama tidak saja sebatas perizinan ekspor. Melainkan sorotan utama adalah terkait dengan kecurigaan barang yang diekspor itu. Di mana di atas kertas ekspornya adalah zirkon. Namun apakah itu murni zirkon atau yang lainya perlu kita uji laboratorium selama 2 minggu ke depan.

“Makanya harus diambil sampel dulu dengan cara mewakili setiap kontainer. Akan dicek juga asal barang. Sekaligus ini juga bukan sekedar urusan kadar, tapi barangnya juga apa saja di dalam kontainer itu,” ujar pria asal Muntok Bangka Barat itu lagi.

Dia sendiri ogah berkomentar lebih jauh terkait kemungkinan-kemungkinan yang ada. Terutama terkait dengan dugaan kuat bukan hanya zirkon semata yang diekspor itu. Melainkan banyak kandungan mineral logam jarang lainnya. Baginya terpenting adalah menyelamatkan kekayaan bumi pulau Bangka Belitung ini, jangan sampai negara dirugikan.

“Kan berbeda terkait regulasi setiap logamnya, kalau zirkon ada regulasi tersendiri. Kalau yang lainya, ada regulasi lain lagi. Maka dari itu harus kita uji laboratorium dulu, apa saja barang di situ. Sekaligus juga kita akan memanggil Sucofindo,” ungkap Ridwan.

Ia sempat membocorkan juga terkait latar sikap Kementerian ESDM yang kali ini memilih tegas terkait ekspor mineral logam jarang. Sikap tegas ini menurutnya dilatari dengan ramai serta gaduhnya pemberitaan media cetak dan online beberapa hari terakhir. Sikap masyarakat dalam hal ini media baginya sudah tepat dalam rangka kontrol atas kekayaan buminya. “Kita datang ke sini karena kita baca di media terkait pemberitaan ini. Makanya kita langsung lakukan uji laboratorium saja,” tegasnya.(eza)