Ada Oknum Nakal Bermain, Erzaldi Minta Polisi Tindak Pengoplos Beras!

by -
Ada Oknum Nakal Bermain, Erzaldi Minta Polisi Tindak Pengoplos Beras!
Ilustrasi beras

belitongekspres.co.id, PANGKALPINANG – Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Pemprov Babel) akan melakukan koordinasi dengan Satgas Pangan yang terdiri kepolisian untuk menindak pelaku pengoplos beras. Demikian ini disampaikan oleh Gubernur Babel, Erzaldi Rosman dalam High Level Meeting TPID Babel, Rabu (3/3).

“Aneh, beras kita jika disandingkan dengan beras premium tidak laku, karena ada oknum nakal yang bermain di mutu premium dengan mengoplos beras biasa ke beras premium. Maka kita harapkan peran satgas pangan untuk menindak ini,” tegasnya.

Dikatakan Gubernur sektor pertanian merupakan salah satu fokus Pemprov Babel yang diharapkan ke depan akan menjadi mandiri swasembada pangan, sehingga tidak perlu impor dari daerah lain.

“Ini kita minta kerjasamanya dengan kabupaten, kami siap membantu jika luas sawah di atas 1.000 hektare, karena di bawah itu masih kewajiban dari kabupaten,” ungkapnya, seraya menambahkan sektor pertanian khususnya beras, hingga saat ini beras Babel mampu mengakomodir sekitar 48 persen kebutuhan lokal.

Ia juga berbicara mengenai percepatan pemulihan ekonomi daerah di masa pandemi Covid-19 yang juga menjadi fokus Pemprov Babel. Oleh karena itu, gubernur sudah menyiapkan sejumlah strategi.

“Untuk mengendalikan inflasi daerah, kita perkuat empat pilar strategis, yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif,” sebut Gubernur Erzaldi.

Ia meyakini, ekonomi akan kembali bangkit apabila stabilitas harga di masyarakat sudah bisa terjangkau. “Maka untuk mendapatkan keterjangkauan harga melalui stabilitas harga, perlu melakukan optimalisasi pasar murah dan operasi pasar komoditi seperti bawang merah, cabai merah, cabai rawit, daging ayam ras, efisiensi jalur distribusi toko pertanian, dan pemantauan stok HET oleh satgas pangan, serta melakukan pengawasan penyaluran LPG bersubsidi,” tuturnya.

Di samping itu, terkait ketersediaan pasokan, melalui ekstensifikasi luas lahan pertanian tanaman hortikultura antara lain cabai merah dan bawang merah, pemanfaatan platform di marketplace untuk meningkatkan produktivitas dan perluasan akses pasar komoditas pertanian, pemanfaatan fasilitas cold storage untuk komoditas pertanian, serta peningkatan akses pembiayaan dan lembaga keuangan bagi pertanian.

“Pada sektor peternakan, Babel ke depan tidak perlu impor sapi dari luar seperti Jawa dan Lampung. Kami sedang mencanangkan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR). Di mana hingga saat ini, yang mengikuti kerjasama tersebut sejumlah 138 peternak, sehingga ke depan kita usahakan mengurangi inflasi dari sektor ini,” terangnya.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kepulauan Bangka Belitung, Tantan Heroika mengatakan, pemulihan perekonomian global diperkirakan berlanjut pada tahun 2021. Kenaikan aktifitas ekonomi global didorong implementasi vaksinasi Covid-19 di berbagai negara serta keberlanjutan stimulus kebijakan fiskal dan moneter. “Vaksinasi Covid-19 ini semoga menjadi game changer perbaikan ekonomi kita,” ujarnya.

Terkait laju pertumbuhan ekonomi Babel pada triwulan IV tahun 2021 mengalami kontraksi sebesar 1,04%, menunjukan arah yang membaik dibandingkan triwulan sebelumnya yang mengalami kontraksi sebesar 4,37%.

Konsumsi rumah tangga diperkirakan akan meningkat, didorong mulai meningkatnya mobilitas masyarakat, puncak penyaluran bansos, pelaksanaan pilkada dan libur panjang akhir tahun. Namun demikian perbaikan konsumsi masih fluktuatif dikarenakan ketidakpastian berakhirnya pandemi sehingga konsumsi tertahan.

Dia pun melanjutkan pada bulan Februari 2021, Babel tercatat mengalami deflasi sebesar 0,11%, secara tahunan mengalami inflasi 0,94%, lebih rendah dibandingkan capaian inflasi nasional 1,38% dan wilayah Sumatera 1,44%.

“Deflasi Februari 2021, didorong kelompok bahan makanan seperti daging dan telur ayam ras, serta sayuran hijau seiring normalisasi permintaan dan melimpahnya pasokan,” jelas Tantan.

Penurunan tekanan inflasi diakibatkan menurunnya daya beli masyarakat akibat pandemi Covid-19, laju deflasi tertahan oleh inflasi komoditas perikanan dan pertanian hortikultura seperti cabai dan bawang, serta efek La Nina di Indonesia berdampak pada gangguan produksi dan distribusi sehingga berdampak pada penurunan pasokan. “Tahun 2021, ketahanan pangan yang harus menjadi fokus Pemprov Babel dalam menghadapi pandemi ini,” pesannya.

Sementara itu, Kepala BPS Babel, Dwi Retno Wilujeng Wahyu Utami menjelaskan, data Kota Pangkalpinang di bidang pengeluaran terbesar di kota ini pada tahun 2021, yakni sektor makanan, minuman, dan tembakau.

“Adapun komoditas penyumbang inflasi terbesar di Pangkalpinang yakni tingginya kenaikan harga sektor perikanan, khususnya ikan kembung dan deflasi terbesar yakni angkutan udara,” ujar Dwi.

Inflasi terjadi di Pangkalpinang pada tahun 2020 karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran yaitu, kelompok makanan, minuman, dan rokok sebesar 4,25%; kelompok pendidikan sebesar 6,24%; kelompok sandang sebesar 0,44%; kelompok kesehatan sebesar 0,17%; dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 4,94%. (jua)