Air Mata Pemadam Api Neraka

by -

Oleh: Sadely Ilyas

Jika seseorang menangis, yang keluar tentu tetesan air mata. Air mata yang mengkomunikasikan sejumput pesan dengan makna-makna tertentu, dalam mengekspresikan suasana hati terdalam. Menurut Manshur Abdul Hakim (2006), tangisan alias air mata yang keluar itu bermacam-macam. Tangisan (air mata) yang tertinggi adalah takut karena Allah. Yang terendah, takut dan sedih karena urusan dunia, yakni menangis terhadap sesuatu selain Allah SWT. Ada pula tangisan rahmat, kasihan, dan kesan. Ada juga tangisan gembira, sakit dan sedih. Tapi ada pula tangisan -air mata- yang diharamkan, seperti tangisan jeritan kepada mayit untuh mendapatkan upah, dan tangisan munafik.

Dalam suatu kisah, ketika Ibrahim, putra baginda Rasulullah, meninggal dunia, beliau mengeluarkan air mata. Abdurrahman bin ’Auf bertanya, ”Wahai Rasulullah, ini kan yang engkau larang kepada manusia? Jika kaum Muslimin melihat engkau menangis, mereka akan menangis semua.” Baginda Rasulullah Saw.  menjawab, ”Sesungguhnya, ini adalah ungkapan rasa sayang. Siapa yang tidak menyayangi maka tidak akan disayangi. Aku melarang manusia meratap-ratap dan menyebut-nyebut pada mayat sesuatu yang tidak ada padanya”.

Kemudian beliau bersabda, ”Wahai Ibrahim, seandainya kamatian bukanlah takdir dan janji Allah bahwa kita semua akan mati dan yang terkemudian akan mengikuti yang terdahulu, tentulah semakin berat kesedihan kami. Wahai mata yang menangis, wahai hati yang diliputi pilu, yang dapat kami katakan hanyalah menyenangkan Allah. Ibrahim sayangku, kami sungguh berduka karena kehilanganmu.”

Air mata dapat dikatakan sebagai alat komunikasi dan pengekspresian emosi. Ketika seorang manusia lahir hingga masa tertentu, air mata yang mengiringi tangisan menjadi alat komunikasi utama. Air mata sangat ampuh untuk menarik perhatian orang yang ada di sekitar. Dengan air matalah seorang anak bisa ’menekan’ sang ibu untuk memberikan air susu dan aneka perhatian. Nilai air mata begitu istimewa. Air mata tidak hanya ’menyentuh’ mata, tetapi mampu menyentuh hati manusia. Bukankah air mata hadir dari hati yang mendalam? Oleh karena itu, tidak heran jika air mata bisa meluluhkan hati yang keras dan menaklukkan sesuatu yang tidak bisa ditaklukkan dengan pedang sekali pun.

Lebih dari itu, air mata pun mampu menembus batas-batas dimensi. Bahkan menjadi alat komunikasi yang sangat canggih antara seorang hamba dengan Sang Khalik. Betapa tidak, tetesan air mata atau menangis di jalan Allah bisa ’memadamkan’ kobaran api neraka. Sabda Rasulullah Saw, ”Diharamkan  neraka atas mata yang  menangis karena takut kepada Allah.” (HR. Ahmad). Dalam sabda yang lain, ”Sepasang mata yang takkan pernah disentuh api (neraka) adalah mata yang bangun malam  menjaga kaum Muslim berjuang di jalan Allah, dan mata yang menangis takut karena Allah.” (HR. Abu Ya’la)

Tetesan air mata bisa mendatangkan pertolongan Allah di akhirat kelak. Dalam sebuah hadits disebutkan, bahwa ada tujuh golongan manusia yang akan ditolong Allah pada Hari Kiamat, ketika tidak ada lagi pertolongan selain pertolongan-Nya. Salah satunya adalah orang yang berurai air mata (menangis) di keheningan malam ketika orang-orang terlelap tidur. Dia menangis karena besarnya rasa takut dan harap kepada Allah. Air mata pun bisa mempercepat terkabulnya doa-doa. Efek tetesannya mampu menembus batas-batas dimensi. Nabi Saw. mengingatkan, ”Takutlah engkau akan doa orang-orang yang dizalimi, sesungguhnya tiada lagi jarak pemisah antara Allah dengan orang tersebut” (HR. At-Tirmizi). Terlebih jika yang disakiti tersebut orang-tua kita sendiri. Satu tetes air mata saja keluar dari mata mereka, seumur hidup kita tidak akan bahagia, sebelum mereka memaafkannya. Bukankah keridhaan Allah ada dalam kerihdaan orang tua.

Itulah sebabnya, Rasulullah Saw. dan para sahabat menjadikan air mata sebagai ’bahasa sehari-hari’ tatkala berinteraksi dengan Allah SWT. Tiada sehari pun yang mereka lewatkan tanpa menangis. Menangis bukan karena tak punya harta, kehilangan harta, atau sesuatu yang terkait dengan urusan duniawi. Melainkan mereka menangis karena cinta yang begitu besar kepada Allah. Cinta yang bersumber dari kuatnya harapan akan ridha dan kasih sayang Allah yang terpadu dengan rasa takut akan murka Allah. Karena efeknya yang sangat dahsyat, mereka pun sangat menjaga perilaku dan sikap, agar jangan sampai menzalimi orang lain. Mereka sangat takut jika air mata orang-orang yang terzalimi mendatangkan murka Allah. Barangkali, faktor inilah yang memotivasi Umar bin Khattab r.a semasa beliau menjadi Khalifah, memanggul sendiri sekarung gandum dari Batul Mal, ketika ia menemukan seorang ibu dan anak-anaknya kelaparan. Padahal ketika itu ada beberapa pengawal yang menyertainya. Begitu hebat efek dari air mata khalifat Umar.

Dilihat dari perspektif ini, tak heran air mata sering dijadikan ’barometer’ untuk mengukur kadar keimanan seseorang. Ada banyak ayat Al Qur’an dan hadits Rasulullah Saw. yang mengungkapkan keutamaan menangis. Dalam Al-Qur’an Allah menyifatkan orang-orang yang berilmu sebagai, ”Mereka yang apabila dibacakan ayat-ayat Allah, menyungkurkan muka mereka (bersujud) sambil menangis dan bertambah khusyu’.” (QS. Al Isra’: 109) Dalam ayat yang lain, ”Apabila dibacakan ayat-ayat Allah yang Maha Pemurah kepada mereka, mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS. Maryam: 58)

Rasulullah Saw. pun bersabda, ”Setiap mata akan menangis di hari kiamat kelak, kecuali mata yang menangis karena takut kepada Allah, mata yang terpelihara dari hal-hal yang diharamkan Allah, dan mata yang terjaga di Jalan Allah.” (Al-Hadits).

Abu Hurairah salah seorang sahabat yang selalu berada di dekat Rasulullah Saw dan mencatat segala yang didengarnya dari ucapan Beliau, selalu saja mengeluarkan air mata sebagai tanda penyesalan dan rasa takut kepada Allah. Rasulullah Saw. pernah mendoakannya dengan bahasa begini: ”Ya Allah, cintailah hambamu ini dan ibunya ke dalam hamba-hamba yang beriman dan jadikanlah orang-orang beriman mencintainya”. (HR. Muslim). Abu Hurairah menangis di hari-hari sakitnya. Ia menangis bukan karena sakitnya fisik, tapi merupakan tangisan alias air mata kebimbangan. Ia merupakan periwayat hadits yang paling sahih setelah Muslim. Ilmunya yang luas, ibadahnya yang  khusyuk dan kedermawanannya yang tiada tandingan. Muslim bin Basyar bertanya, ”Apa yang menyebabkan engkau meneteskan air mata ya Abu Hurairah?”. Abu Hurairah menjawab, ”Sesungguhnya saya tidak menangisi dunia kalian ini, tetapi aku menangisi perjalanan yang panjang, dan sedikitnya bekal pada diriku. Aku berada antara jalan naik dan turun, surga dan neraka. Aku tidak tahu ke arah mana kakiku menuju?”.
Tak terkecuali Abu Bakar Shiddiq r.a., ’Aisyah, Ummu al-Mukminin suka menggambarkan ayahnya, ”Abu Bakar seorang lelaki ’penangis’ dan tak bisa menahan air matanya, jika sedang membaca Al-Qur’an”. Rasulullah Saw berucap kepada para sahabat, ”Tidak ada harta yang begitu membantu saya daripada Abu Bakar.” Menangislah Abu Bakar mendengar itu, dan ia berkata kepada Rasulullah, ”Apakah saya, kecuali untukmu, wahai Rasulullah?”

Ketika Rasulullah Saw. sedang berkhotbah di depan orang-orang, suatu kali Nabi Saw. bersabda: ”Sesungguhnya Allah memberikan kelebihan kepada seorang hamba antara memilih dunia dan memilih apa yang ada pada sisi-Nya. lalu hamba itu memilih apa yang ada pada sisi-Nya”.

Berurailah air mata Abu Bakar mendengar itu, dan para sahabat terheran-heran dengan tangisannya. Abu Bakar menangis karena ia mengetahui hamba itu adalah Rasulullah Saw. sendiri. Setelah Rasulullah wafat, ketika Abu Bakar menjadi Khalifah, jika ia teringat sabda-sabda Rasulullah dan khotbahnya, menangislah ia, juga para sahabat di sekitarnya.

Tidak salah jika para tabi’in selalu menangis ketika mendapat kebahagiaan, lebih-lebih ketika merasa bersalah, sebab Rasulullah Saw. pun melakukannya. Akan tetapi, ketahuilah bahwa air mata yang berkualitas adalah air mata yang keluar karena harap (raja’) dan rasa takut (khauf) kepada Allah. Bukan air mata karena mendapat promosi jabatan, bukan karena gagal menjadi pemimpin,  dan bukan pula air mata sebab hilangnya harta kekayaan. Wallahu A’lam.(**)