Akhiri Dualisme PS Bangka, Bupati Harus Turun Tangan!

SUNGAILIAT – Dualisme kepengurusan PS Bangka diharap segera berakhir. Hal itu lah yang pertama kali harus dilakukan untuk menggapai kembali kejayaan club kebanggaan sepakbola masyarakat Bangka. Pemerintah daerah dalam hal ini Bupati Bangka pun diminta mengambil alih untuk penyelesaian kepengurusan PS Bangka yang telah berakhir pada Oktober 2015 lalu.

Keinginan tersebut kembali mengemuka dalam acara Ngopi Bareng KAHMI Kabupaten Bangka dengan pecinta PS Bangka di Warkop Republikein Sungailiat, Sabtu (24/12) malam lalu. Diskusi santai rutin yang membahas berbagai persoalan hangat Kabupaten Bangka setiap 2 minggu itu dihadiri ketua Askaba Bangka Magrizan dan Bupati Bangka diwakili Asisten bidang Kesra dan Pemerintahan Setda Bangka Arman Agus.

iklan swissbell

Dalam diskusi dituangkan permasalahan yang sedang mendera PS Bangka, utamanya soal dualisme pengurus, masalah pendanaan, pembinaan, prestasi PS Bangka. Sebagaimana diketahui, konflik semakin terjadi ketika PS Bangka mengikuti kompetisi ISC B 2016 dimana Magrizan didaulat oleh Bupati Bangka untuk menangani PS Bangka.

Namun di sisi lain, pengurus lama merasa ada upaya kubu Magrizan ingin terus menguasai PS Bangka yang kemudian disusul klaim PS Bangka telah menjadi club profesional dengan naungan badan hukum dalam bentuk PT oleh kubu pengurus lama Indra Maulana. Selanjutnya, walau pun kubu Magrizan mengakui hanya sebatas kompetisi ISB B 2016 untuk PS Bangka namun kubu pengurus lama pun tidak menggelar pemilihan ulang pengurus baru, tetapi memutuskan untuk mendedikasikan sebagai pemilik PS Bangka dengan homebase di Pangkalpinang.

“PS Bangka club kebanggaan dan milik masyarakat Bangka. Pemda Bangka terhadap PS Bangka akan mensegerakan perpisahan dualisme terebut. Karena tidak mungkin ada dualisme kepengurusan itu,” kata Arman Agus.

Dijelaskannya, perjuangan PS Bangka menuju divisi utama melibatkan banyak pihak. Walau kemudian tidak mudah karena divisi utama harus profesional dan tidak bisa didukung dana APBD. Masalah itu lah yang kemudian muncul disamping masalah dualisme kepengurusan. Pemda Bangka berharap setelah dualisme selesai, nantinya PS Bangka bisa mapan seperti club Sriwijaya FC Sumatera Selatan. Salah satu caranya adalah dengan membentuk yayasan untuk menaungi PS Bangka.

Baca Juga:  Jeck Bomber Gelar Nobar

“Kita melihat, seperti di Sriwijaya FC bisa menggerakkan dengan yayasan yang menaungi untuk menghimpun kekuatan terutama pendanaan. Tapi untuk di sini harusnya gubernur ikut berperan nanti. Untuk membangkitkan PS Bangka kita harus selesaikan dulu dualisme. Kedepan tidak menutup kemungkinan kita mempunyai yayasan, yang tidak hanya bergerak di olahraga dan selanjutnya bisa menerima dana hibah untuk PS Bangka,” kata Arman.

“Satu keinginan kita bersama untuk membangkitkan kembali PS Bangka. Clear kan itu baik pengurus lama maupun Askabba menjadi satu kepengurusan. Terlepas yang duduknya nanti dari pengurus lama atau pun Askabb,” lanjut Arman.

Sementara itu, Ketua Askabba Kabupaten Bangka Magrizan mengatakan, perkembangan yang terjadi terkait PS Bangka sekarang, ada pengakuan manajemen lama bahwa mereka secara sah sesuai penetapan PSSI sebagai pemilik PS Bangka. Termasuk soal homebase PS Bangka pindah ke Pangkalpinang, pemain ISC B yang didominasi masyarakat Bangka tidak diperkenankan mengikuti divisi utama tahun 2017.

Di lain hal, pihaknya sebagai pengurus PS Bangka diisukan ingin menguasai PS Bangka. Magrizan juga menuturkan masalah lainnya dari segi keuangan PS Bangka ketika mengikuti ISC B 2016 yang masih meninggalkan utang Rp 200 juta lebih.

Sejauh ini baru satu sponsor besar yang menggelontorkan dana yakni PT. Timah Tbk, sedangkan sponsor besal lainnya seperti Bank Sumsel Babel masih belum mencairkan bantuan. “PT. Timah sudah membantu, tetapi Bank Sumsel Babel nol rupiah, saya sempat bertemu sekretaris perusahaan Bank Sumsel Babel, mereka mau bantu tapi sampai hari ini proposal kita masih dipelajari. Tidak tau kenapa, padahal kontribusi pemda, PNS dan kita semua besar di sini. Dan saya sedih karena sampai sekarang Bank Sumsel Babel tidak memberi apa pun. Untuk Sriwijaya FC, Bank Sumsel Babel bisa menggelontorkan dana sekitar Rp 5-6 miliar. Kita menghabiskan anggaran dana Rp 835 juta lebih dan terhutang Rp 211 juta dan tanggungjawabnya di manajer,” kata Magrizan yang kemudian menjadi penanggungjawab sisa hutang berupa tiket dan akomodasi ISC B 2016.

Baca Juga:  Jeck Bomber Gelar Nobar

Ia dan Askabba sendiri sebenarnya menolak jika PS Bangka dualisme, karena sejak kompetisi ISC B 2016 berakhir pihaknya telah mengembalikan mandat ke pengurus lama. Namun belakangan memang ada desakan dari voters PS Bangka untuk melakukan pemilihan pengurus baru tidak semata-mata diklaim sebagai milik pihak tertentu.

Ia juga berharap PS Bangka kedepan dalam mengikuti kompetisi tidak lagi sebagai tim dadakan, tim proposal dan tim prestasi dadakan. PS Bangka sudah sepatutnya tidak semata-mata eksis tergantung sponsor. Namun untuk mewujudkan itu, pria yang juga Ketua Komisi A DPRD Bangka ini menilai perlunya duduk bersama agar bisa mencari jalan untuk PS Bangka mandiri.

“Kami juga tidak ribut dengan pengurus lama. Tapi mari kita selesaikan ini sebaik mungkin karena PS Bangka adalah milik masyarakat Bangka, PS Bangka homebasenya di OROM. Semua harus kita lakukan untuk membangkitkan lagi kejayaan PS Bangka sebagai tim kebanggan kita,” pungkas Magrizan.

Dalam Ngopi Bareng KAHMI Kabupaten Bangka untuk membahas nasib PS Bangka diikuti beberapa klub sepakbola di Kabupaten Bangka. Selain itu hadir juga perwakilan OKP, Ormas serta pecinta sepakbola di Kabupaten Bangka. (trh)

Tags:
author

Author: