Amri Cahyadi Lempar Senyuman

by -

// Soal “Jegal” Kandidat di Muswil DPW PPP 2015

PANGKALPINANG – Entah apa yang tersirat dari senyum Amri Cahyadi selaku Wakil Sekretaris Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Bangka Belitung (Babel) ketika disinggung adanya drama politik di tubuh partainya, Senin (16/3) kemarin.
Menuju Muswil 2015, April mendatang, drama politik “jegal-menjegal” kandidat untuk menduduki kursi nomor satu DPW di tubuh partai berlambang kabah ini tampak mencuat. Setelah Amri Cahyadi yang digadang-gadang menjadi kandidat terkuat didemo ratusan mahasiswa Universitas Bangka Belitung (UBB) terkait kiprahnya sebagai Wakil Ketua DPRD Babel, hingga kabar kader PPP Azwari Helmi ditolak pengurus Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PPP, Emron Pangkapi.
Meski demikian kabar yang beredar, Amri Cahyadi tetap membantah perihal tersebut. Sebagai orang politik, dirinya tetap berpikiran positif bahwa tak ada orang dipartai “bermain” seperti yang dikabarkan tersebut.
“Muswil dilaksanakan di Pangkalpinang dengan penanggungjawab tetap DPW. Menyangkut mekanismenya, tergantung Juklak dari DPP PPP. Dalam Muswil itu nanti, akan dibahas program-program kerja, rekomendasi pernyataan politik serta pembentukan kepengurusan yang baru, termasuk Pilkada. Kalau informasi yang diterima, Juklak DPP untuk Muswil PPP, memilih secara formatur, bukan kandidat seperti yang dulu. Tidak ada rekomendasi tertulis ataupun menghalangi seorang kader untuk maju, sepanjang syarat yang ada dalam AD/ART partai terpenuhi. Seperti, punya loyalitas dan dedikasi, prestasi, sudah satu periode di kepengurusan partai. Sepanjang memenuhi syarat yang ada dalam AD/ART itu, maka tidak ada hal yang dapat membatalkannya. Siapapun berhak,” ujarnya.
Koordinator Komisi IV DPRD Babel itu melanjutkan, dalam Muswil PPP Babel April mendatang, PPP mempunyai 20 utusan suara yang bakal ditampung. Yakni, untuk setiap DPC PPP Kabupaten mempunyai hak dua suara kecuali untuk DPC PPP Kota Pangkalpinang yang berprestasi menempatkan empat kursi di DPRD, mempunyai tiga suara, organisasi partai empat suara, ditambah suara kolektif pimpinan wilayah satu suara.
“Ada satu hal yang berubah untuk Muswil sekarang. Kalau yang dulu, partai dipersilahkan untuk memilih sistem. Kandidat atau formatur. Kalau kandidat, siapapun terpilih langsung disahkan. Sekarang ini, sistem formatur, DPP ikut rembuk dalam keputusan itu dan ingin melihat sejauh mana orang-orang yang direkrut itu benar-benar dapat mengakomodir kepentingan partai,” pungkasnya.(iam)