Aplikasi Belitong Geopark Jawab Revolusi Industri 4.0

by -

belitongekspres.co.id, TANJUNGPANDAN – Aplikasi Belitong Geopark resmi diluncurkan untuk menjawab trend dunia industri saat ini yang telah masuk revolusi industri 4.0. Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa revolusi industri 4.0 sudah bergerak sangat cepat sekitar 3.000 kali lipat dibandingkan revolusi industri 1.0.

Hal itu ditandai dengan munculnya super komputer, otomatisasi, serta robot neurologi. Revolusi industri 4.0 ini dipelopori oleh perwakilan sejumlah industri dan akademisi pada tahun 2011, guna meningkatkan daya saing di Jerman dalam industri manufaktur.

Perkembangan revolusi industri 4.0 lantas mendorong Menteri Pariwisata, Arief Yahya untuk mengembangkan sektor pariwisata berbasis 4.0 tersebut. Yakni, dengan memperkenalkan tema “Tourism & The Digital Transformation”, bertepatan pada peringatan Hari Pariwisata Dunia (World Tourism Day) 28 September 2018 lalu.

“Beliau mengatakan bahwa Pariwisata 4.0 ini mempunyai peran penting karena terkoneksi dengan media sosial. Di mana sangat memudahkan dalam mem-viral-kan destinasi wisata menggunakan digital,” kata Konsultan Geopark Belitong, Veri Yadi Msc, MCSM, dalam press release, Senin (8/4).

Veri menjelaskan, revolusi industri pertama kali terjadi pada tahun 1784. Itu ditenggarai saat pergantian penggunaan tenaga manusia dan hewan dengan tenaga mesin seiring ditemukannya mesin uap. Revolusi industri ini mengakibatkan pertumbuhan pendapatan domestik bruto (PDB) rata – rata 6 kali lipat selama 2 abad.

Revolusi industri 2.0 terjadi pada tahun 1870. Revolusi 2.0 ini ditandai dengan ditemukannya pembangkit listrik dan mesin bakar. Teknologi itu mengawali penemuan pesawat telepon, pesawat terbang, dan mobil.

“Revolusi industri 2.0 juga ditandai dengan produksi masal dan pembagian lini kerja. Pembagian lini kerja pertama dimulai dengan rumah potong hewan pertama kali digunakan di Cincinnati, Amerika Serikat pada tahun 1870 yang mengawali revolusi indutri 2.0,” jelas Veri.

Selanjutnya, perkembangan dunia internet dan teknologi digital mengawali munculnya revolusi industri 3.0. Munculnya era digital ini menggantikan mesin industri yang dikelola manusia dengan komputer, dan mampu menurunkan biaya produksi.

Gambar 1 – Revolusi industri dan perubahan peradaban manusia serta dampak teknologi yang dihasilkan.
Gambar 1 – Revolusi industri dan perubahan peradaban manusia serta dampak teknologi yang dihasilkan.

Kemudian, revolusi industri 4.0 dimulai tahun 2011. Di mana menekankan pada hubungan antara manusia, mesin, dan data yang dapat ditemukan dimana – mana. Dengan munculnya Revolusi Industri 4.0, telah mengubah model bisnis secara global yang menggunakan teknologi super komputer, dan secara otomatis menciptakan peluang bisnis rintisan (start-up).

“Bisnis ini melibatkan perangkat selular pintar dan menggunakan aplikasi mobil. Tahun 2018, Amerika Serikat merupakan negara dengan jumlah perusahaan rintisan terbesar yaitu 28.793. Indonesia merupakan terbesar ke empat dengan jumlah rintisan sebesar 1.706,” ujar pria lulusan Mining Engineering Universitas Triksati, Jakarta, tahun 2004.

Gambar 2 – Peringkat negara di dunia dengan jumlah start-up terbanyak.
Gambar 2 – Peringkat negara di dunia dengan jumlah start-up terbanyak.

Pria kelahiran Manggar 14 Januari 1981 ini melanjutkan, berdasarkan nilai, Amerika Serikat menduduki posisi pertama dunia dengan nilai US$ 561.5 miliar atau menguasai separuh dari nilai total perusahaan unicorn global.

Berdasarkan laporan the Global Unicorn Club Januari 2019, terdapat lebih dari 300 perusahaan unicorn di seluruh dunia. Perusahaan yang masuk kategori unicorn adalah perusahaan swasta rintisan memiliki nilai lebih besar atau sama dengan US$ 1 miliar. Indonesia sendiri menduduki peringkat ke 6 dengan nilai sebesar US$ 20 miliar dan mencatatkan satu perusahaan Decacorn.

“Perusahaan start-up di Indonesia dengan nilai sama dengan atau lebih besar dari US$ 10 miliar, yaitu Go-jek yang bergerak di sektor industri transportasi dan On-demand,” sebut Veri, yang sejak kecil punya mimpi untuk wujudkan Belitong menuju Geopark Dunia.

Gambar 3 – Peringkat Indonesia di pasar unicorn dunia berdasarkan total nilai valuasi.
Gambar 3 – Peringkat Indonesia di pasar unicorn dunia berdasarkan total nilai valuasi.

Menurutnya, kawasan Asia menguasai 39 persen dari total valuasi unicorn dengan nilai total adalah US$ 422’85 miliar. Di kawasan Asia, Indonesia menduduki peringkat ke 3 atau menguasai 5 persen pasar unicorn berdasarkan valuasi.

Sementara untuk kawasan Asia dipimpin oleh Cina, yang menguasai 30 persen valuasi nilai total unicorn dunia dengan valuasi sebesar US$ 324,57. Di Asia, Cina menguasai 77 persen dari total market. Berdasarkan sektor, transportasi atau on-demand masih menguasai pasar Asia sebesar US$ 99,4 miliar atau sebesar 24 persen. Jual beli produk menempati posisi kedua senilai US$ 80,73.

Perusahaan unicorn Toutiao (Bytedance) dengan nilai valuasi terbesar di dunia senilai US$ 75 miliar dimiliki oleh Cina dan bergerak di industri Media. Di wilayah ini, industri travel berkontribusi 3.42% dengan nilai valuasi sebesar US$ 14,46 miliar.

Gambar 4 – Nilai valuasi unicorn berdasarkan industri kawasan Asia.
Gambar 4 – Nilai valuasi unicorn berdasarkan industri kawasan Asia.

Sedangkan di kawasan Asia Tenggara, hanya berkontribusi sekitar 3 persen dari total nilai unicorn dunia. Indonesia merupakan pasar terbesar dengan menguasai lebih dari 60 persen dari total nilai unicorn sebesar US$ 32 miliar. Di kawasan ini, lebih dari 65 persen dimiliki oleh 2 raksasa transportasi, yaitu Gojek dari Indonesia & Grabcar dari Singapura dengan total nilai sebesar US$ 21 miliar.

“Di posisi kedua dimiliki perusahaan dagang, yang kedua – duanya berasal dari Indonesia yaitu Tokopedia dan Bukalapak dengan total nilai US$ 8 miliar. Di sektor travel memberi andil 6 persen dengan nilai total US$ 2 miliar,” terang Veri, yang saat ini sedang menempuh S3, PhD Student – School of Mining Engineering, University of the Witwatersrand, Johannesburg South Africa (2018).

Gambar 5 – Empat sektor utama pasar unicorn Asia Tenggara yang di kuasai oleh sektor transportasi.
Gambar 5 – Empat sektor utama pasar unicorn Asia Tenggara yang di kuasai oleh sektor transportasi.

Dengan berkembang pesat penggunaan unicorn di belahan dunia, maka Amerika Serikat dan Cina yang menguasai 80 persen nilai unicorn dunia. Yang juga menguasai 23 persen total penduduk dunia atau sebanyak 1,4 miliar penduduk cina dan 328 juta total populasi di Amerika Serikat.

“Di kawasan Asia Tenggara dengan total penduduk 600 juta jiwa menguasai 8 persen dari total populasi dunia. Dimana Indonesia mendekati separuh penduduk Asia Tenggara atau 3 persen total populasi dunia dengan jumlah 250 juta,” beber pegiat Geopark Belitong itu.

Gambar 6 - Sebaran populasi dunia tiap kawasan.
Gambar 6 – Sebaran populasi dunia tiap kawasan.

Melihat jumlah populasi dunia berdasarkan dunia industri dan usia, maka kata Veri bisa diamati kemungkinan memiliki akses internet. Tercatat sekitar 4.021 miliar manusia di dunia menggunakan internet atau 53 persen. Jumlah ini sama dengan mereka yang bekerja pada berbagai sektor industri, serta usia berkisar 15 – 64 tahun yang ditandai via tanda kurung merah.

Gambar 7 - Populasi dunia berdasarkan sektor industry & usia serta kaitannya dengan pengguna internet.
Gambar 7 – Populasi dunia berdasarkan sektor industry & usia serta kaitannya dengan pengguna internet.

Berdasarkan data yang dirilis oleh Hootsuite & Wearesocial tahun 2018, maka didapatkan bahwa total pengguna telepon genggam di seluruh dunia adalah 5.135 miliar atau 68 persen dari total penduduk dunia. Dengan jumlah pengguna internet sebanyak 4.021 miliar atau 53 persen. Sedangkan pengguna media sosial tercatat sebanyak 3.196 miliar atau 42 persen dari total populasi dunia.

Oleh karenanya, data tersebut menunjukkan bahwa lebih dari separuh penduduk dunia menggunakan internet dan hampir 80 persen berinteraksi dengan media sosial. “Melihat data di atas, maka wisata berbasis teknologi industri 4.0 sangat memiliki peluang pasar yang besar. Wisata berbasis 4.0 sangat erat kaitannya dengan kehadiran akses wifi, internet, dan aplikasi mobil,” ungkap Veri.

Veri menambahkan, Hootsuite & Weare Social (2018) mencatat bahwa 49% dari turis berinteraksi dengan media sosial. Media sosial ini merupakan media promo yang efektif dalam upaya mempromosikan suatu kawasan yang biasanya diunduh oleh wisatawan saat liburan. 68% dari wisatawan akan berkomunikasi dengan teman dan keluarga, yang juga berpeluang mempromosikan destinasi wisata tersebut.

Untuk itu, dengan berkembangnya teknologi berbasis aplikasi mobil, yang merupakan rangkaian dari revolusi industri 4.0, sangat berdampak pada sektor wisata. Hal ini terlihat dari meningkatnya jumlah pengunduh aplikasi sekitar 50% dari total wisatawan seluruh dunia sebelum bepergian.

“Aplikasi ini erat kaitannya dengan bisnis start-up. Yang mana sektor wisata mempunyai peluang besar mengingat besarnya jumlah wisatawan milenial yang sangat dekat dengan penggunaan teknologi berbasis aplikasi mobil,” tandas Veri. (*/yud)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *