Astaga, Angka Cerai Gugat Masih Tinggi

by -

*Kebanyakan Soal Ekonomi dan Hubungan Tak Harmonis

TANJUNGPANDAN-Informasi yang bersumber dari Pengadilan Agama (PA) Tanjungpandan pantas menjadi bahan instropeksi berbagai pihak, termasuk aparatur di pemerintahan daerah. Sebab, angka permohonan cerai gugat di Kabupaten Belitung terbilang masih tinggi. Dari tahun ke tahun data menunjukkan angka yang masih di atas 900, bahkan hendak menyentuk angka 1000 permohonan gugat cerai.
Informasi yang diperoleh Belitong Ekspres dari PA Tanjungpandan, fakta cerai permohonan gugat mendominasi sepanjang tahun di banding cerai talak. Setiap tahun, 60 persen wanita menggugat suaminya ke pengadilan, sedang 40 persen cerai talak. Penyebabnya, menurut catatan PA Tanungpandan yang dicatat oleh Pengadilan Agama Tanjungpandan tidak lain masalah ekonomi.
“Istilahnya suami tidak memberi nafkah, kemudian masalah lingkungan juga,” kata Kepala Pengadilan Agama Tanjungpandan Syafri SH, Jumat (31/7), pekan lalu.
Sementara data 2015 ini, perkara yang ditangani sebanyak 413 perceraian hingga pertengahan Juli 2015. Jika dibandingkan dua tahun terakhir, kasus perceraian di Belitung mencapai 994 kasus, baik tahun 2013 dan tahun 2014. “Ini lah dia yang terjadi disini. Angkanya cukup tinggi,” kata Syafri.
Sementara berdasarkan data Kementerian Agama Kabupaten Belitung, berdasarkan laporan dari Kepala Urusan Agama (KUA) se-Kabupaten Belitung, bulan Januari hingga Juni 2015 ada sekitar 718 catatan menikah.
Meski banyaknya terjadi kasus perceraian, ia membantah jika pengajuan bercerai itu mudah. Semua ada proses dan tidak gampang. “Pengajuan itu kan harus dengan alasan. Bukan mudah seperti yang dibayangkan, masuk perkara langsung cerai, nggak,” tegasnya.
Dispensasi kawin juga tinggi. Hingga bulan Juli 2015, sudah 50 perkara permohonan, di antaranya perkara dispensasi kawin. Ia menjelaskan, dispensasi kawin adalah yang menikah di bawah umur. “Kalau di tempat lain perkara dispensasi kawin itu jarang. Tahun kemarin ada 95 perkara, sekarang sudah 50, mungkin sampai Desember nanti bisa 100 juga,” ujarnya.
Umumnya mereka yang meminta dispensasi kawin adalah perempuan berumur di bawah 16 tahun dan laki-laki berumur di bawah 18 tahun. “Kita kasih dispensasi. Kita sidangkan dengan kehati-hatian. Ekonominya gimana, sehingga nanti setelah dikasih dispensasi rentan perceraian,” jelasnya.
Kebetulan saat wartawan di sana, seorang wanita muda sedang mengajukan cerai. Warga Tanjungpandan inisial Tt (34) ini hendak bercerai lantaran sering bertengkar dengan suami. “Gak cocok lagi Bang. Suka bertengkar sama gak ada perhatian,” ujarnya.
Keputusan bercerai juga didukung oleh orangtuanya. “Orangtua sudah tahu semua. Mereka dukung. Sekarang saja saya tinggal dengan orangtua,” pungkasnya. (ade)